Ketika Pamor Rumah-rumah Pecinan Semarang Kian Memudar

METROSEMARANG.COM – Memasuki awal pekan ini, sejumlah warga keturunan Tionghoa di Pecinan Semarang saat tetap sibuk beraktivitas. Mereka kebanyakan tinggal berpencar di kampung-kampung sepanjang Jalan Wotgandul, Gang Baru, Gang Besen hingga memutari jalanan Inspeksi dekat bantaran Kali Semarang.

Deretan rumah warga Tionghoa di pinggiran Kali Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Rumah mereka saling berdempetan. Bagi yang mampu, mereka menggunakan sebagian rumahnya untuk membuka toko.

Tubagus P Svarajati, seorang peneliti sejarah Pecinan Semarang mengatakan apa yang ada pada rumah-rumah warga peranakan Tionghoa saat ini benar-benar sudah menghilangkan ciri khas budaya aslinya.

“Hampir 80 persen sudah jadi toko, tergusur minimarket dan yang paling parah pada bagian belakang rumahnya dikepras untuk dijadikan jalan inspeksi sungai,” kata Tubagus saat ditemui metrosemarang.com di rumahnya, Jalan Dr Cipto, Senin (8/5).

Pria yang menulis buku ‘Pecinan Semarang dan Dar-Der-Dor Kota’ tersebut bilang, pada tempo dulu Pecinan Semarang sangat mahsyur dengan sebutan San Pao Lung Dang Ren Jie. Sebab, zaman dahulu tiap rumah terdapat wuwungan bundar tumpul pada atapnya dan dilengkapi dua pintu depan serta belakangnya.

Namun sayangnya, kini semuanya telah berubah. Tiap bangunannya kehilangan fasad atau tampilan mukanya akibat praktik diskriminasi pada Orde Baru (Orba) muncul tahun 1965.

Saat geopolitik semakin memanas, menurutnya pemerintah rezim Orba melarang semua kegiatan yang berbau Thionghoa.

Selain membuat pemain barongsai tiarap, semua atraksi budaya lainnya juga dilarang dipertontonkan di muka umum. Kalau pun diperbolehkan, itu harus mengubah konsepnya.

“Orba juga memaksa rumah Pecinan diubah total. Semua tetenger dihapus. Nama-nama rumah dan jalan raya yang memakai bahasa Mandarin diganti dengan nama Keindonesiaan,” katanya. Praktis, lanjutnya, hal ini membuat alih fungsi bangunan pada masa kini semakin marak dan tak terkendali.

Ia yang dilahirkan di Gang Pinggir tahu persis seperti apa perubahan fundamental Pecinan. Di sepanjang bantaran Kali Semarang, semua rumah warga sudah kehilangan ciri khasnya. “Tidak ada lagi yang bergaya Tionghoa asli,” cetusnya.

Tak cuma itu. Ia tak segan mengkritik keras konsep Pasar Semarang Wisata (Semawis) yang kerap digelar tiap Imlek. Baginya, itu bukan ciri khas asli masyarakat Tionghoa. Melainkan hanya sekadar ajang makan-makan saja.

“Cuma makan-makan. Jualan. Selesai. Tidak ada yang total menceritakan tentang sejarah panjang masyarakat Pecinan,” ungkapnya.

Ia sangat menyayangkan sikap abai pemerintah kota Semarang yang membiarkan hal tersebut terjadi dan terus-menerus berulang sejak dulu hingga sekarang.

“Alih fungsi bangunan Pecinan sekarang lebih condong pada pusat kegiatan bisnis saja. Hanya sedikit yang dipakai untuk hunian tetap. Jika tidak ingin budaya Pecinan punah, maka tindakan itu harus disetop dan ditata ulang,” tegasnya.

Karenanya, ia mendorong kepada pemerintah supaya lebih meningkatkan kepekaan terhadap pelestarian kebudayaan Tionghoa yang sejak lama telah membaur dengan warga pribumi.

“Apalagi, Pecinan juga punya ciri khas di Jalan Gang Waru. Karena disanalah terdapat ‘rumah petak sembilan’. Di dalam kini masih dapat ditemukan ciri khas Cina,” tuturnya. (far)

You might also like

Comments are closed.