Ketika Para Biarawati Meriahkan Srawung Lintas Agama bersama Perempuan Muslim

METROSEMARANG.COM – Mendung yang menggelayut di langit Kota Semarang tak menyurutkan ratusan, bahkan ribuan orang untuk mendatangi pelataran Balai Kota Semarang, Minggu siang (5/3). Mereka merupakan peserta Srawung Lintas Agama, sebuah acara yang mempertemukan semua umat beragama dalam satu perayaan di bulan Maret 2017.

Srawung Lintas Agama di Balai Kota Semarang, Minggu (5/3). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Di lokasi acara, ribuan orang duduk di tenda-tenda besar yang telah disiapkan panitia. Para biarawati duduk berdampingan dengan perempuan-perempuan berkerudung dari komunitas Muslim.

“Saya baru sekali ikut acara lintas iman dan rasanya sangat bahagia. Saya lihat Indonesia punya harapan besar untuk kembali bangkit setelah sekian lama mengalami luka akibat aksi intoleransi,” ungkap Suster Magret, seorang biarawati Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran, di sela acara.

Dengan melihat banyaknya anak muda yang terlibat pada perayaan Srawung Lintas Agama, maka ia menegaskan bahwa sikap toleransi harus ditanamkan kepada anak sejak kecil, karena hal itu mampu membawa perdamaian bagi dunia.

Terlebih lagi, menurut Magret sebagai mahluk ciptaan Tuhan semestinya sebuah perbedaan bukan untuk memecah-belah umat beragama, tetapi harus bisa saling melengkapi. “Kita sebaiknya berkerjasama sebagai sesama ciptaan Tuhan,” kata Magret.

Sementara itu, Intan Novia seorang mahasiswi Muslim tak canggung saat ia berbaur dengan para biarawati gereja. Ini adalah pengalamannya pertama kali sehingga ia tak mau melewatkan acaranya begitu saja. “Saya senang semua orang bisa berkumpul tanpa memandang status agamanya,” aku Intan.

Pada bagian lain, para penganut penghayat juga membaur dengan komunitas lintas agama lainnya. Tanpa sekat mereka menyatu dalam sebuah acara yang penuh perdamaian.

Kemeriahan acaranya semakin lengkap tatkala lengkingan saksofon yang ditiup Aloysius Budi Purnomo menggema ditengah halaman Balai Kota. Alunannya kian meninggi bahkan sesekali diselingi suara khas dari Heydi Ibrahim. Jadilah vokalis Powerslaves berduet dengan Pastor Gereja Paroki Kristus Raja Ungaran.

Lewat lengkingan saksofonnya, Romo Budi, sapaannya seolah ingin menyatakan pertemuan lintas iman inilah wujud perdamaian abadi.

“Sentimen gerakan berbau SARA yang kini kian membesar harus dilawan dengan aksi kepemudaan yang bermuatan Kebhinnekaan,” sahut Lukas Awi Tristanto, pengurus Keuskupan Agung Semarang.

Ia mengatakan gerakan intoleran sengaja menghembuskan ideologi bahwa sikap perbedaan malah menjurus pada perseteruan antar umat. Akibatnya, sekarang bermunculan kekerasan berbau agama.

“Makanya kita mengadakan acara srawung lintas muda agama untuk menghalau pergerakan mereka, acaranya kini sangat meriah dan banyak atraksi budaya juga,” tuturnya.

Acara yang digelar sejak pukul 11.00 WIB itu juga diselingi aksi donor darah gratis dan pentas musik dari pemuda lintas agama. Acaranya digelar seharian penuh untuk memperkuat solidaritas melawan gerakan radikal dan terorisme. (far)

You might also like

Comments are closed.