Ketika Para Dewa Naik Khayangan di Tahun Monyet Api

Ritual Siang Sin Giu Hok di Klenteng Tay Kak Sie untuk mengantar Dewa ke kahyangan, Selasa (2/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Ritual Siang Sin Giu Hok di Klenteng Tay Kak Sie untuk mengantar Dewa ke khayangan, Selasa (2/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Memasuki Tahun Monyet Api, sejumlah warga Tionghoa di Semarang menggelar ritual Siang Sin Giu Hok, pada Selasa (2/2) sore. Ritual ini untuk mengantar para dewa ke khayangan (langit).

Ritual Sin Giu Hok ini dimulai tepat pukul 16.00 WIB di Klenteng Tay Kak Sie Gang Pinggir Semarang. Ini jadi ritual tahunan untuk memulai perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) 2016.

Pandita Klenteng Tay Kak Sie, Pratana mula-mula memimpin ritual pembacaan sutra Buddhis dan Taoisme yang diikuti puluhan umat Konghucu. Mereka, satu persatu maju ke depan altar lalu mengatupkan tangannya rapat-rapat sembari memanjatkan doa kepada sang dewa.

Sang pandita lalu membalikkan tubuh untuk memulai prosesi kedua dalam ritual Sin Giu Hok. Dibantu dengan beberapa pengurus klenteng, ia kemudian membakar kertas-kertas sutra di atas tampah. Prosesi tersebut memakan waktu satu jam hingga api padam dan hanya menyisakan abu yang hilang bersama hembusan angin.

Sin Giu Hok, sebagai simbol pembersihan dosa manusia saat pergantian Tahun Baru Cina. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Siang Sin Giu Hok, sebagai simbol pembersihan dosa manusia saat pergantian Tahun Baru Cina. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Usai memimpin ritual Siang Sin Giu Hok, Pratana mengatakan bahwa seluruh abu kertas sutra yang terbawa angin itu untuk mengantarkan sang dewa naik ke atas khayangan. Ia percaya sang dewa akan turun ke muka bumi tepat di penghujung perayaan Imlek tanggal 28 Februari 2016 nanti.

“Untuk memulai perayaan Imlek, Rabu (3/2) besok akan ada acara bersih-bersih altar di Tay Kak Sie,” kata Pratana.

Ia pun berharap di Tahun Monyet Api bangsa Indonesia diberikan kedamaian. “Semoga lebih damai dari tahun lalu. Meski bencana alam tetap ada tapi di antara kita jangan ada lagi pertikaian,” ungkap pemuka agama Konghucu tersebut.

Sedangkan bagi Tantowi Hermawan, Ketua Umum Yayasan Klenteng Tay Kak Sie, ritual Sin Giu Hok tadi lebih dilihat sebagai simbol-simbol pembersihan dosa manusia saat pergantian Tahun Baru Cina. “Sambil kita hantarkan sang dewa ke langit, kita juga berharap bisa dibersihkan dari dosa-dosa,” katanya.

Saat berdoa di altar klenteng, ia juga memberikan beberapa sesaji yang isinya beragam buah-buahan sebagai wujud kelancaran rezeki, keselamatan dan kebaikan bagi umat manusia. Ada pula sesembahan berupa kue wajik yang dimaknai kebersamaan yang erat serta kue moho sebagai tanda panjang umur. (far)

You might also like

Comments are closed.