Kibuli Agen Keberangkatan Haji, PNS di Kendal Ini Raup 14 Milyar

warga-kendal-penipuan-haji-polda-jateng
Tersangka saat diperiksa penyidik Dit Reskrimsus Polda Jawa Tengah, Rabu (18/11). Foto: metrosemarang.com/Ilyas Aditya

METROSEMARANG.COM – Seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di Puskesmas di Sukorejo, Kabupaten Kendal ditangkap tim Dit Reskrimsus Polda Jawa Tengah.

Pria bernama Eko Edi Susanto warga Sukoharjo Kendal, itu nekat melakukan penipuan dan menggelapkan uang senilai Rp 14 Milyar lebih. Uang tersebut merupakan milik 823 calon jemaah umroh dan haji plus yang sedianya berangkat bulan Mei lalu dan Desember 2015 mendatang.

Pelapornya tak lain mantan rekan kerjanya yang juga Kepala Cabang Alhabsyi Travel Jawa Tengah, Farikhin Juwanda.

Kasus penipuan itu bermula saat tahun 2014 lalu tersangka mengajukan kerjasama paket Umroh murah dengan Ustad Alhabsyi. Lewat cabang Alhabsyi Travel di Jawa Tengah, Eko akhirnya melakukan presentasi programnya langsung ke ustad tersebut.

Paket umroh yang ditawarkan Eko memang menggiurkan yaitu paket silver dengan hotel bintang 4 hanya Rp 11 juta, kemudian paket Gold dengan hotel bintang 5 Rp 13 juta, dan paket Platinum Rp 17,5 juta serta paket Haji  Rp 55 juta.

“Saya meyakinkan dengan bisa memberangkatkan dalam jangka satu tahun dengan harga yang lebih murah,” kata Eko di kantor Dit Reskrimsus Polda Jateng, Jalan Sukun Semarang, Rabu (18/11).

Alhasil, atas mandat dari Alhabsyi Travel pusat, tawaran kerjasama tersangka menjadi provider keberangkatan pun diterima. Sebanyak total 823 calon jemaah umroh dan haji plus pun ditangani tersangka.

Namun sayang, semua tak berjalan mulus, tersangka justru tak bertanggung jawab dan menyalahgunakan uang tersebut. Sebanyak 164 terpaksa diberangkatkan Mei lalu dengan uang pribadi milik Farikhin Juwanda senilai Rp 4,7 Milyar.

Sementara, Wakil Direktur Dit Reskrimsus Polda Jawa Tengah, AKBP Musni Arifin mengatakan  kasus tersebut dilaporkan ke Polda Jateng tanggal 19 Agustus 2015 lalu. Dari keterangan dan penyelidikan, uang yang diperoleh tersangka mencapai Rp 14 miliar.

“Dalam penyidikan, uang tersebut diketahui gunakan  untuk membeli tiga mobil, empat motor, dan dua bus. Bus tersebut digunakan untuk tour and travel yang dikelola adik tersangka. Tersangka juga diketahui melakukan penipuan dengan modus lain yaitu  sembako murah dan arisan. Ini beda, kejahatan sendiri, tapi belum ada yang melapor,” ujar Musni.

Hingga saat ini, pihaknya masih terus melakukan pengembangan terhadap kasus tersebut termasuk mencari sisa uang yang belum terlacak. Bersama pelaku, petugas juga mengamankan barang barang yang digunakan pelaku untuk meyakinkan korbannya seperti sertifikat kewirausahaan. Ia terancam dijerat pasal 378 KUHP tentang penipuan, pasal 372 KUHP tentang penggelapan dan Undang-undang RI nomor 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dengan ancaman pidana 20 tahun dan denda maksimal Rp 10 miliar. (yas)

You might also like

Comments are closed.