“Kiki Challenge” Sekadar Seru-Seruan?

Ada Versi Perlawanan

Entah mendapat ide dari mana. Yang jelas tidak ada adegan seperti itu di dalam video klip resmi lagu Drake “In My Feeling”.

KAMU pasti tidak asing dengan “Kiki Challenge”, video tantangan yang belakangan ini wara-wiri di lini masa media sosial. Video ini menampilkan orang di dalam mobil duduk di kursi penumpang dan direkam oleh orang yang duduk di kursi pengemudi.

Lagu berjudul “In My Feelings” yang dipopulerkan musisi Kanada, Drake menjadi latar musik video. Orang yang ada di kursi penumpang lalu membuka pintu mobil, keluar dan menari-nari sembari membuat simbol hati dengan jari-jari tangan. Sementara, pintu mobil dibiarkan terbuka dan mobil berjalan pelan.

kiki challenge
Orang-orang sedang melakukan “Kiki Challenge”. (sumber: indiatoday.in)

Entah siapa yang pertama kali membuat video ini dan entah ia mendapat ide dari mana. Yang jelas tidak ada adegan seperti itu di dalam video klip resmi lagu Drake itu.

Seperti tantangan terdahulu yang juga pernah ngetren di media sosial, “Harlem Shake” atau pun “Mannequin Challenge”. Tren “Harlem Shake” electronic dance music (EDM) yang dirilis oleh disc jockey (DJ) asal Brooklyn, bernama Baauer. Ia justru tidak memiliki video lagu tersebut. Video berjoget dengan lagu itu diawali oleh komedian Filthy Frank di YouTube, sebelum akhirnya video joget “Harlem Shake” mendunia dalam berbagai versi.

 

“Kiki Challenge” populer karena salah satu motivasinya adalah untuk pamer mobil.

Tak beda, “Mannequin Challengeatau tantangan manekin yang meledak tahun 2016 juga tak memiliki petunjuk gerakan dalam video resminya. Tantangan pose mematung itu dilatari lagu berjudul “Black Beatles” yang dinyanyikan duo pop hip hop Rae Sremmurd bersama dengan Gucci Mane. Video resmi lagu itu hanya menampilkan ketiganya bernyanyi dan bermain musik.

Dari ketiga tren tantangan itu dapat ditarik benang merah. Yakni tantangan untuk bersenang-senang dan seru-seruan, diiringi musik latar, dan menonjolkan gerak. Namun sedikit berbeda dengan “Kiki Challenge”. Tantangan ini dianggap berbahaya, sebab melibatkan aktifitas berkendara dan melompati aturan keamanan berkendara.

Hal itu mengundang kekhawatiran. Mempertimbangkan faktor keselamatan, kepolisianpun telah mengimbau agar masyarakat tidak melakukan tantangan ini. Kendati begitu, saat ini “Kiki Challenge” amat digangrungi. Hampir setiap hari selalu ada video baru dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Pengamat media sosial dari Komunikonten (Institut Media Sosial dan Diplomasi), Hariqo Wibawa Satria, mengatakan bahwa “Kiki Challenge” populer karena salah satu motivasinya adalah untuk pamer mobil. Meskipun pada beberapa video, merek kendaraan tidak diperlihatkan oleh si pengambil gambar yang duduk di kursi kemudi.

Aksi yang dianggap pamer-pameran itu menggiring sebagian orang untuk membuat hal yang berbeda. Saat ini telah muncul perlawanan atas bentuk pamer tersebut. Yakni munculnya video “Kiki Challenge” menggunakan bajaj, angkutan umum, sepeda motor, bahkan tidak menggunakan kendaraan sama sekali. “Niatnya ingin berbeda. Sebenarnya ini kreatifitas yang bisa juga disebut pemberontakan,” jelas Hariqo lewat siaran pers yang diterima metrosemarang.com.

 

Anak Muda Gemar Tantangan

Selain karena hasrat pamer, “Kiki Challenge” menjadi tenar karena masyarakat, terutama anak muda, gemar akan tantangan. Anak muda cenderung lebih melaksanakan tantangan ketimbang ajakan. “Jika seorang kepala daerah mengatakan; ‘Saya tantang kalian untuk menciptakan lagu tentang daerah kita,’ maka potensi akan dikerjakan, lebih besar ketimbang kepala daerah itu mengatakan; ‘Saya mengajak kalian.’,” demikian menurut Hariqo.

Repost from @titantyra Kolaborasi cethar antara Titan Tyra and fam! 😍😍😍😍😍 Jgn lupa bilang 'I love you' ke ortu ya guys 😘 #kekechallenge #kikichallenge #inmyfeelingschallenge #drakememes #familygoals #momanddaughter #inmyfeelingschallengeindonesia #kikichallengeindo #kekedance #kikidance #kekechallengehots #dance #kikichallengehots #kikidance #kekedance #kekechallengeinternational #kikichallengeunternational #inmyfeelingschallengeindonesia #kekedoyouloveme #kikidoyouloveme #doyouloveme #inmyfeelingschallenge #kekechallengemalaysia #kikichallengemalaysia #kekechallengesingapore #kikichallangesingapore #kekechallengebrunei #kikichallengebrunei #kekechallengeindonesia #kikichallengeindonesia

A post shared by Kiki Challenge Indonesia (@indonesiakikichallenge) on

Namun yang perlu digarisbawahi adalah, dalam menyikapi sesuatu yang viral di internet. Biasanya suatu yang bikin heboh ada yang mencontoh, persis seperti yang dilakukan banyak orang. Tapi juga ada yang kretif. Yang ingin dikatakan Hariqo adalah, ada sisi positif dari berbagai tantangan yang muncul di media sosial. Yakni melatih orang berfikir kreatif dalam membuat konten.

Pembuatan video di media sosial akan banyak dilakukan orang jika tantangan itu memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya: unik, lucu, menghibur, melibatkan aktivitas fisik. “Semakin unik, semakin ekstrem, dan semakin menghibur, akan semakin digemari,” tambah Hariqo.

Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah tantangan yang sifatnya tertutup serta terbatas. Tantangan yang hanya diedarkan dalam satu komunitas. Misalnya tantangan berfoto di rel kereta api, tantangan berciuman, atau tantangan jahil yang biasa disebut prank.

“Generasi muda perlu diberikan pengertian bahwa apapun yang diunggah di internet akan abadi selamanya. Boleh jadi sosok yang di dalam video tidak masalah dengan keabadian konten. Namun ia juga harus mempertimbangkan perasaan orangtuanya, anaknya dan keluarga besarnya yang mungkin terganggu,” papar Hariqo.

Yang jelas, berbagai tantangan membuat konten yang “aneh-aneh” itu tidak bisa dicegah. Setiap orang dari belahan dunia manapun berpotensi menjadi inisiator. Tinggal diberikan muatan pendidikan atau pesan dalam tantangan tersebut.

Media mempunyai peran yang sangat strategis, dalam artian memberi pengertian tantangan mana yang perlu disebarluaskan dan mana tantangan yang perlu dikoreksi. Media juga bisa mengingatkan bahaya dari tantangan tersebut. Sisi positif lain yang patut ditindaklanjuti adalah, adanya keinginan remaja Indonesia untuk berpindah dari sekadar penyebar konten menjadi pembuat konten. (*/han)

You might also like

Comments are closed.