Kirab Cheng Ho di Sam Poo Kong dan Kisah Air Enteng Jodoh

Peserta kirab Kongco Sam Poo Tay Djien tiba di Klenteng Sam Poo Kong, Kamis (13/8) pagi. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Peserta kirab Kongco Sam Poo Tay Djien tiba di Klenteng Sam Poo Kong, Kamis (13/8) pagi. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

SEMARANG – Ribuan warga Semarang menyaksikan kemeriahan kirab budaya warisan Tionghoa yang digelar pagi ini, Kamis (13/8).

Ya, kirab patung Kongco Sam Poo Tay Djien tahun ini lagi-lagi mampu menyedot perhatian ribuan pasang mata untuk melihat dari dekat bagaimana awal mula perjalanan peserta kirab membopong patung Laksamana Cheng Ho dari Klenteng Tay Kak Sie di Gang Lombok menuju Klenteng Sam Poo Kong Gedung Batu. Kirab Cheng Ho diikuti arak-arakan barongsai, liong dan tabuhan-tabuhan khas Tionghoa.

Laksamana Cheng Ho, merupakan tokoh legendaris di kalangan warga keturunan Cina, di mana ia diceritakan bisa menjelajahi hampir separuh belahan bumi dengan naik kapal. Jelajah Cheng Ho, begitu sebagian orang menyebutnya, semula berangkat dari daratan Cina menuju Asia Tenggara.

Ia bersama rombongannya pun konon mampir di Indonesia. Ia yang berlabuh di beberapa tempat khususnya Semarang, diceritakan pula ia bersama awak kapalnya istirahat di goa yang sekarang disebut Gedung Batu. Begitu banyak kisah melegenda yang bisa didapatkan dari perjalanan Cheng Ho di Tanah Jawa. Bagi umat Muslim, Cheng Ho disebut-sebut memeluk agama Islam.

Lidya, seorang peserta kirab, berujar bila orang-orang yang ikut kirab hari ini bisa mendapatkan banyak manfaat. Selain bertemu dengan sesama warga Tionghoa, mereka juga bisa ikut sembahyang di altar besar di Sam Poo Kong serta meminum air suci di dalam goa petilasan Cheng Ho.

“Air suci di Gua Kongco (sebutan lain Cheng Ho) itu bisa menyembuhkan beragam penyakit seperti kanker dan penyakit menahun lainnya,” kata Lidya, saat berbincang dengan metrosemarang.com.

Peziarah yang minum air ajaib itu, kata Lidya, juga dimudahkan mendapatkan jodoh dan rezeki. “Yang minum air itu bisa enteng jodoh,” ujar Lidya. Ia lantas menunjukan masih ada banyak peninggalan Cheng Ho yang bisa ditengok sampai sekarang. Saat ini, masih ada jangkar kapal milik Cheng Ho yang disimpan di ruangan sisi barat altar dan tepat di depannya berdiri pohon beringin berusia ratusan tahun.

“Di sini juga terdapat gua bekas tempat sembahyang Cheng Ho dan Dampo Awang, si juru mudi kapal,” imbuhnya.

Perayaan kirab besar Cheng Ho ke-610 tak hanya digelar di Semarang. Di Tuban Jawa Timur, perayaan serupa juga diadakan sebulan lalu. Di sana, warga mengenal Cheng Ho dengan nama Gwan Hyu dan Kwan Kong. “Peringatan Kongco di Tuban lebih semarak. Karena banyak warga dari Indonesia timur ikut sembahyang di situ,” pungkas Lidya. (far)

You might also like

Comments are closed.