Kisah Alfiyah, 17 Tahun Hidup dengan ‘Sempritan’

Aliyah, 17 tahun mengabdi sebagai juru parkir. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha
Alfiyah, 17 tahun mengabdi sebagai juru parkir. Foto Metrosemarang/Achmad Nurseha

SEMARANG – Profesi sebagai juru parkir tentu bukan pekerjaan ideal yang didambakan setiap wanita. Berada di dalam rangan berpendingin dan jauh dari debu jalanan mungkin lebih layak buat mereka. Tapi, Alfiyah (47) sanggup menaklukkan kerasnya hidup di jalanan meski harus bersaing dengankaum Adam.

Juru parkir sebenarnya hanya menjadi pilihan terakhir bagi Alfiyah, setelah dia di-PHK dari pabrik yang mempekerjakannya, sekitar 17 tahun silam. Saat itu, dengan usia 30 tahun, ibu dua anak itu kesulitan mendapat pekerjaan lagi. Sedangkan, suaminya, Jumari (48) hanya menjadi kuli batu.

“Saat itu saya bertekad bisa membantu suami. Akhirnya saya beli lahan parkir di Jalan Boja Raya,” tutur Alfiyah, tanpa menyebut biaya yang harus dia keluarkan saat itu.

Menurut dia, bukanlah hal berat secara jasmani untuk menjalani profesi tukang parkir. Namun kesabaran dan ketekunan yang menjadikannya lebih bisa menikmati pekerjaan itu. “Harus sabar, yang namanya pengunjung warung kan ada yang baik dan ada yang tidak. Kadang ada yang memberi sedikit, kadang juga banyak,” imbuhnya sambil menghela napas.

Penghasilan yang tidak menentu dengan lahan parkir kurang lebih 100 meter, membuatnya harus bekerja keras. Meski harus setor Rp. 150 ribu per bulan pada Dinas Perhubungan, Alfiyah masih bisa menyisihkan penghasilan untuk keluarga kecilnya. “Jadi tukang parkir itu harus bangga, meski saya perempuan. Dan saya harus bisa membantu suami,” cetus wanita berkerudung itu.

Bagi Alfiyah, profesi sebagai juru parkir dengan peluit di mulut, tetap memberi kebanggaan. Setidaknya, dua anaknya bisa merampungkan SMA. “Saya tetap bersyukur meski hanya jadi tukang parkir dan alhamulillah anak-anak bisa tamat SMA semua,” tutur warga RT 05 RW 02 Kelurahan Wates, Kecamatan Ngaliyan itu.

Aliyah bukan satu-satunya juru parkir perempuan di Semarang. Tapi, dedikasi pada profesi yang sudah belasan tahun dia tekuni layak mendapat apresiasi. Selamat Hari Ibu, Aliyah dan ibu-ibu Kota Semarang. (ans)

 

 

You might also like

Comments are closed.