Kisah Bocah Jabungan, Menyeberangi Sungai demi Menimba Ilmu Setinggi Langit

METROSEMARANG.COM – Cuaca Kota Semarang pada Senin (20/3) pagi, tampak cerah. Sang surya mulai semburat saat anak-anak Kampung Sidoro berangkat sekolah ke SD Negeri Jabungan 02 Banyumanik, Semarang.

Namun, perjalanan mereka menuju sekolah tak selalu berjalan mulus. Mereka harus melewati jalanan terjal, bahkan sering kali menyeberangi Sungai Kethekan dengan kondisi yang sangat licin.

Siswa SD Jabungan 02 menyeberangi Sungai Kethekan untuk menuju sekolah. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

“Saya takutnya kalau hujan deras, pasti permukaan air jadi meninggi sampai sebatas dada saya,” aku Julian Wira Putra, siswa Kelas V SD Negeri Jabungan 02 sembari tergopoh-gopoh menuju ke sekolahnya.

Ia hanya bisa menyeberangi sungai sebagai satu-satunya akses jalan paling dekat menuju sekolahnya. Bila berjalan memutar, ia butuh jarak tempuh sampai 3 kilometer.

Hampir saban hari, ia sudah terbiasa menyeberangi sungai sendirian. Tapi jika hujan lebat mengguyur kampungnya, ia mengaku sering telat karena terpaksa menunggu sampai reda.

Pihak SD Negeri Jabungan 02 menyatakan ada banyak muridnya yang bersusah payah menyeberangi sungai agar tidak telat masuk sekolah. Sungai Kethekan merupakan jalur penghubung terdekat antara SD Negeri Jabungan 02 yang berada di Kampung Gebloksari dengan Kampung Sidoro yang berbatasan dengan Kabupaten Semarang.

Bila melintasi sungai, para murid hanya butuh waktu 10 menit. Tapi jika berjalan memutari kampung maka jaraknya semakin jauh hingga 3 kilometer. Muhammad Taufik Adi Nugroho, seorang guru olahraga SDN Jabungan 02 mengatakan kondisi tersebut sudah terjadi hampir 25 tahun terakhir sejak sekolahannya dibangun.

“Saya terenyuh kalau melihat anak-anak jalan lewat sungai. Apalagi kalau hujan tentu banyak anak telat masuk sekolah. Saya juga mengkhawatirkan keselamatan anak-anak karena bebatuan di sungai sangat licin dan berlumpur,” jelasnya.

Ia menyatakan telah berulang kali mengajukan bantuan sarana akses jalan kepada pihak Dinas Pendidikan Kota Semarang. Meski begitu, keinginannya selalu gagal membuahkan hasil. Janji tinggal janji. Alih-alih membuatkan jalan yang layak, Dinas Pendidikan justru tak kunjung merespons keinginannya.

“Kita tidak bisa berbuat banyak. Dinas hanya sebatas membangunkan gedung sekolahan, akses jalannya belum dibuatkan sama sekali,” terangnya.

Apa yang terjadi di Jabungan menjadi sebuah ironi tersendiri bagi Kota Semarang yang notabene merupakan Ibukota Jateng. Tapal batas kota sama sekali belum tersentuh insfrastruktur yang layak.

Kondisinya sangat kontras dengan perbatasan Kampung Sidoro dan Kabupaten Semarang. Di sana, katanya jalanan sudah mulus lengkap dengan betonisasi. “Kalau di Jabungan masih jelek. Tanahnya labil dan berbahaya buat dilewati warga,” cetusnya.

SD Jabungan 02 sendiri merupakan sekolahan negeri satu-satunya yang ada di Kelurahan Jabungan. Pihak sekolah sudah dapat Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sehingga anak-anak bisa bersekolah gratis hingga lulus.

“Semua siswa SD Jabungan tidak dipungut SPP dan biaya ekstrakulikuler sepersen pun. Biaya sekolah ditanggung BOS. Ini satu-satunya sekolahan negeri di kampung kami,” sambungnya.

Brigadir Rohadi, Babinkamtibnas Polsek Banyumanik bahkan harus menyingsingkan lengannya untuk membantu anak-anak Jabungan bersekolah.

Rohadi setiap pagi mengawal anak-anak menyeberangi sungai agar tak terpeleset. Ia terketuk hatinya melihat siswa SD di Ibukota Jateng dalam kondisi yang memprihatinkan.

“Saya awalnya penasaran lihat anak-anak SD menenteng sepatu saat berangkat sekolah. Setelah saya telusuri, ternyata mereka nyeberang sungai. Makanya, rasa kemanusiaan saya timbul untuk membantu mereka,” katanya.

Ia berharap pemerintah kota segera membenahi akses jalan menuju sekolahan tersebut. Sebab, murid SD yang ada di situ merupakan generasi penerus bangsa yang patut mendapat perhatian lebih.

“Semestinya jalannya harus dibuatkan yang baru. Biar mereka enggak lewat sungai lagi,” ujar Rohadi. (far)

You might also like

Comments are closed.