Kisah Gadis Penari Gambang Semarang Meliuk-liuk di Tengah Klenteng

METROSEMARANG.COM – Tetabuhan musik gambang kromo terdengar bersahutan di halaman Klenteng Tay Kak Sie, Jalan Gang Lombok, Semarang Tengah, pada Minggu malam (7/5). Beberapa perempuan muda menari meliuk-liuk ditengah kerumunan masyarakat Pecinan yang menyaksikan acara Serawung Semarang.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Para gadis tampil bergantian. Dengan balutan kebaya cokelat, satu persatu dari mereka meliuk-liukan tubuhnya mengikuti alunan musik gambang.

Ada sekitar 22 lagu yang mengiringi tarian mereka secara bergantian. Di sisi lain, gelak tawa penonton pecah begitu dua pelawak bergantian tampil untuk menyemarakan acara.

Adella Rachmayanti Mandasari, seorang penari gambang mengaku belakangan ini kerap berlatih agar pementasannya di Klenteng Tay Kak Sie berjalan lancar.

“Karena sering berlatih jadi enggak butuh waktu lama untuk tampil di klenteng. Ya menurut saya acara gambang Semarang semestinya rutin diadakan biar warga tahu seperti apa keunikan dari tarian ini,” kata gadis 22 tahun tersebut.

Pertunjukan Serawung Semarang, menurutnya merupakan acara yang layak diangkat jadi ikon kota. Sehingga hal ini jadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan supaya datang ke Semarang. “Tentunya jadi pengalaman berharga bagi saya dan senang bisa tampil dalam acara ini,” urainya.

Senada juga diungkapkan Sri Nugraheni Koespratiwi, gadis 19 tahun dari Komunitas Gambang Semarang Undip yang ikut tampil dalam acara tersebut.

Tiwi, panggilannya tak canggung saat riuh tepuk tangan para penonton membahana untuk memberikan apresiasi terhadap penampilannya. Ia bersama empat temannya menari Gambang Semarang selama beberapa menit.

“Saya berharap ini jadi tonggak untuk mengangkat kebudayaan lokal. Apalagi, tari dan musik gambang tak banyak diketahui oleh anak muda. Kalaupun tahu, mereka tak mau melestarikannya. Kebanyakan sukanya musik pop atau tarian modern,” akunya.

Padahal, Gambang Semarang punya ciri khas unik sehingga seharusnya anak muda mau melestarikan. “Siapa lagi yang mau melestarikan kalau bukan yang muda,” cetusnya.

Sementara itu, Kasturi Kepala Bidang Seni dan Budaya Dinas Pariwisata Semarang sangat mengapresiasi kolaborasi musik Gambang Semarang. Jika ada sinergitas yang kuat antar warga dan seniman, maka tidak menutup kemungkinan kesenian gambang bakal jadi ikon pariwisata.

“Ayo gerakan semua seniman agar musik gambang tetap lestari. Kalaupun ingin ada penganggaran dana, nantinya bisa diusulkan dari proses Musrembangkot untuk kemudian dinaikan ke tingkat kecamatan dan legislator kota. Inilah waktunya Gambang Semarang bangkit supaya dikenal seluruh penjuru negeri hingga dunia,” bebernya.

Jongkie Tio, Sejarahwan Tionghoa di Semarang menilai Tay kak Sie jadi lokasi yang pas untuk menampilkan tarian gambang secara berkelanjutan.

“Lagipula, ini kan klenteng tertua dan bisa dibilang klenteng Pertama di Semarang,” paparnya. Posisi klenteng di Gang Lombok, baginya juga punya nilai historis yang kuat.

Nama Gang Lombok dikenal warga lantaran tempo dulu merupakan pusatnya kebun cabai. “Saya rasa pas sekali diadakan di klenteng Tay kak Sie yang berada di gang Lombok. Alkulturasi budayanya sangat kuat,” katanya. (far)

You might also like

Comments are closed.