Kisah Lingga-Yoni Raksasa dan Cikal Bakal Kelurahan Cangkiran

Sunar menunjukkan lingga-yoni yang berada di Kampung Cangkiran. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Sunar menunjukkan lingga-yoni yang berada di Kampung Cangkiran. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

 

METROSEMARANG.COM – Keberadaan situs candi Hindu yang ditunjukkan dengan arca lingga-yoni dengan ukuran yang cukup besar ternyata juga menjadi awal mula berdirinya Kelurahan Cangkiran, Kecamatan Mijen, Kota Semarang.

Menurut warga setempat, Sunar (65), situs yang berada tepat di belakang mushola RT 2 RW 3 itu dulunya belum dikenal sebagai lingga-yoni. Warga sekitar lebih mengenalnya sebagai Watu Cangkir atau Batu Cangkir.

“Dulu lokasi candi ini adalah tempat paling tinggi di sini. Orang-orang dulu nyebutnya Watu Cangkir. Makanya desa ini namanya Cangkiran dan sekarang menjadi kelurahan,” kata Sunar, Jumat (6/11).

Selain itu, menurut Sunar, lokasi dimana lingga-yoni tersebut berdiri juga merupakan tempat yang cukup sakral. Sebab, kata dia, saat dilakukan penggalian warga sempat menemukan sejumlah tulang manusia.

“Dulu waktu akan memondasi rumah, saya juga pernah menemukan tulang manusia. Ini dulunya selain candi mungkin juga makam,” ungkap Sunar.

Saat ini, lingga-yoni atau yang digunakan sebagai simbol Dewa Siwa dan Dewi Durga tersebut masih terawat dan terlihat utuh. Warga juga memagarinya untuk melindungi dari oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sementara itu, Camat Mijen, Ali Muhtar saat dihubungi metrosemarang.com justru mengaku belum mengetahui adanya situs candi tersebut. Ia mengaku akan melakukan pengecekan terlebih dahulu guna mengetahui latar belakang situs itu. “Saya malah belum tahu Mas. Nanti saya cek dulu,” jawabnya singkat. (yas)

You might also like

Comments are closed.