Kisah Maruli, Mantan Pecandu Jadi ‘Mantri Anti-Narkoba’ di Semarang

Maruli, mantan pesakitan yang kini menjadi motivator orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan narkoba. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Maruli, mantan pesakitan yang kini menjadi motivator orang-orang yang ingin terbebas dari jeratan narkoba. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

 

METROSEMARANG.COM – Sebuah rumah terpencil di Kecamatan Gunungpati Semarang menjadi rujukan bagi sebagian orang yang ingin bebas dari ketergantungan obat-obatan terlarang. Warga setempat menyebutnya Rumah Damai. Selain berhawa sejuk, lokasinya jauh hiruk pikuk keramaian lalu lintas.

Rumah itu jauh dari kesan mewah, karena lokasi terselip di sela-sela gang sempit. Tapi siapa sangka bila di situlah sejak belasan tahun lalu menjadi pondok rehabilitasi narkoba bagi warga dari dan luar Semarang.

Maruli Siahaan penghuni Rumah Damai mengatakan, ia sudah menempati pondok anti-narkoba tersebut sejak enam tahun terakhir. Lelaki asal Jakarta ini dulunya pecandu yang akrab dengan jeruji besi akibat kebiasaannya mengonsumsi putau.

Ia mengisahkan putau sempat jadi teman akrabnya sejak ia duduk di bangku SMP. Ia mula-mula hanya coba-coba mengonsumsi putau setiap akhir pekan (weekend). “Namun lama-kelamaan ketagihan jadi setiap hari dan itu ngumpet-ngumpet karena orangtua over protektif,” akunya, saat berbincang di Rumah Damai, Sabtu (31/10).

Mengonsumsi putau selama 12 tahun telah menyeretnya ke lembah hitam hingga ia diusir dari rumah. Sampai-sampai, generasi seusianya nyaris lenyap lantaran kecanduan pil setan tersebut. “Saya pake sejak SMP hingga usia 28 tahun. Kira-kira 12 tahunan lah lalu saya diusir hingga saya keluar masuk penjara,” terang Maruli.

Ia mengaku di suatu hari  tersadar kalau masa depannya telah hancur. “Dan di satu titik saya pikir, bukan ini nih yang saya cari. Saya kepengin kayak orang normal lainnya” tuturnya.

Lantas, bagaimanakah dia bisa masuk ke Rumah Damai? “Saya masuk ke sini gara-gara dikenalkan sama saudara lalu lama-lama betah hingga enam tahun sampai sekarang,” ujar pria berkulit putih ini.

Maruli merupakan satu dari tujuh bekas pecandu yang diangkat menjadi pengasuh alias mantri di Rumah Damai. Ia bertugas memotivasi pasien pondok anti-narkoba tersebut agar lekas sembuh. Tahap penyembuhannya melewati fase pertama tiga bulan dan fase kedua enam bulan. “Kalau pasiennya ketergantungan akut, tahap penyembuhannya sampai berbulan-bulan,” kata Maruli.

Menariknya, metode penyembuhan narkoba di Rumah Damai tak pernah memakai detoksifikasi dan lain sebagainya. Pengelola pondok hanya menggunakan pendekatan motivasi antar sesama siswa (sebutan penghuni pondok). “Jadi kami kasih semangat buat mereka biar menjauhkan diri dari narkoba,” ucap pria 35 tahun tersebut.

Pasien Rumah Damai rata-rata berusia 20-63 tahun. Mereka ditempatkan di tiap kamar yang diisi empat orang. “Tidak ada perempuan. Semuanya laki-laki dari segala usia,” tutupnya. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.