Kisah Mobil Pelat Merah di Singapura

tour singapore1
Ketatnya aturan kepemilikan kendaraan pribadi di Singapura juga bertujuan untuk mengurangi kemacetan di jalan raya. Foto: metrosemarang.com

METROSEMARANG.COM – Transportasi masih menjadi masalah yang tak pernah tuntas di Indonesia. Padahal, pemerintah sebenarnya bisa saja mengadopsi cara yang digunakan Singapura dalam tata kelola transportasi, meskipun tidak secara menyeluruh.

Belum lama ini metrosemarang.com mendapat kesempatan menjelajahi Negeri Singa bersama belasan pemenang Astra Motor Journalist Competition. Selama tiga hari, rombongan dari Indonesia ini menikmati keelokan bekas negara bagian Malaysia yang memaksa kita untuk berdecak kagum.

Tak adil jika harus membandingkan Singapura dengan Indonesia. Tapi, harus diakui bahwa negara kita masih sangat jauh tertinggal dari Negeri Singa. Salah satunya tentu saja soal penataan transportasi.

Harbans Kaur, guide yang menemani rombongan jurnalis ini berkisah, Singapura sangat ketat memberlakukan aturan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi. Dengan luas wilayah 716 kilometer persegi atau hanya dua kali Kota Semarang, sangat wajar jika pemerintah setempat harus jeli memerhitungkan kapasitas jalan yang tersedia dengan volume kendaraan yang bisa melintas di atasnya.

Ada pemandangan menarik yang cukup menyita perhatian, yaitu mobil-mobil berpelat merah. Jumlahnya memang tidak sebanyak kendaraan lain yang rata-rata memakai pelat hitam. Semula kami mengira pelat itu menandakan kendaraan milik pemerintah, seperti halnya di negara kita. Ternyata perkiraan itu salah.

“Mobil-mobil yang pakai pelat merah itu hanya khusus digunakan saat weekend atau Sabtu dan Minggu saja,” beber Harbans.

Wanita keturunan India itu melanjutkan, pajak yang dibebankan kepada pemilik mobil-mobil berpelat khusus tersebut tentu saja lebih rendah ketimbang kendaraan reguler. “Mobil-mobil itu (pelat merah) bisa saja digunakan di luar weekend, tapi bakal dikenakan biaya S$20.000 (atau setara Rp 200 juta),” urai Harbans.

Singapura juga memberlakukan pembatasan kepemilikan kendaraan yaitu hanya 10 tahun sesuai Certificate of Entitlement. Untuk mendorong masyarakat bersedia mematuhi aturan tersebut, Harbans menambahkan, pemerintah akan memberikan “cash back” bagi mereka yang bersedia mengganti kendaraannya sebelum 10 tahun.

“Ada semacam uang pengganti, besarnya S$12.000. Kendaraan yang sudah berumur di atas 10 tahun masih boleh dipakai, tapi bayar pajaknya lebih mahal,” tutur wanita 55 tahun itu.

tour singapore2
Ara peserta sekolah mengemudi mendengarkan arahan instruktur di Singapore Safety Driving Centre. Foto: metrosemarang.com

Harbans pun menceritakan bagaimana ketatnya aturan untuk mendapatkan surat izin mengemudi (SIM) di Singapura. Negara ini mengeluarkan SIM berdasarkan kendaraan yang ingin dikemudikan, yakni SIM Class C untuk mobil tidak lebih dari 7 penumpang dan berbobot lebih dari 3 ton, serta Class 3A khusus untuk mobil bertransmisi otomatis.

Untuk mendapatkan SIM Singapura Class 3 atau 3A harus melalui proses berliku dan biaya yang tidak sedikit. Dimulai dari ujian teori basik lalu mendapatkan SIM sementara. Setelah itu peserta uji wajib mendaftar di sekolah resmi mengemudi untuk belajar privat bersama instruktur. Kemudian peserta mendapatkan pelajaran mengemudi untuk tes praktik. Setelah itu SIM bisa didapatkan bila lulus tes mengemudi dari Traffic Police. Aturan serupa juga berlaku untuk pengendara sepeda motor.

Pendaftaran teori basik dan belajar mengemudi bisa dilakukan di tiga sekolah mengemudi, yaitu Bukit Batok Driving Centre, ComfortDelGro Driving Centre, dan Singapore Safety Driving Centre (SSDC). Biayanya berkisar S$800 atau setara Rp 8 juta.

“Di sini diberlakukan sistem poin, artinya setiap pelanggaran dihitung berdasarkan poin. Mereka yang mendapat poin pelanggaran mencapai 20 dalam setahun, SIM-nya akan dicabut dan diwajibkan untuk mengikuti tes dari awal,” urainya.

Itu baru izin untuk mendapatkan lisensi mengemudi, belum untuk izin kepemilikan kendaraan, yang konon paling mahal sejagat. Semua aturan tersebut diterapkan untuk membatasi penggunaan kendaraan pribadi dan mendorong masyarakat beralih ke transportasi massal sekaligus mengurangi polusi.

tour singapore
Bus double deck juga siap melayani penumpang selama 24 jam non-stop. Foto: metrosemarang.com

Aturan yang super-ketat tersebut juga diimbangi dengan sarana transportasi umum yang sangat memadai. Selain Mass Rapid Transit (MRT), masyarakat setempat juga bisa menggunakan bus umum. Soal fasilitas dan kelayakan, tak perlu diragukan lagi.

Sebagai ilustrasi, di depan hotel tempat kami menginap di Bencoolen Street, terdapat dua halte bus yang masing-masing hanya berjarak sekitar 100 meter. Setiap 2 menit sekali, ada saja bus yang datang. Bus-bus tersebut siap mengangkut penumpang selama 24 jam non-stop. Bandingkan dengan BRT Trans Semarang yang melintas setiap 15 menit. Itupun hanya bisa dinikmati sampai 5 sore.

Andai saja Indonesia bisa menerapkan aturan serupa, tentu saja tak akan ada ribut-ribut soal Go-Jek dan angkutan berbasis aplikasi. Tapi yang terjadi di negara kita justru sebaliknya. Pemerintah malah mendorong masyarakat untuk berlomba-lomba memiliki kendaraan pribadi, dengan kebijakan mobil murah.

Jangankan dibatasi, kendaraan jadul malah dijadikan koleksi. Maklum saja, pajaknya juga lebih murah dibanding kendaraan baru. Angkutan umum pun masih sangat jauh dari memuaskan. Belum lagi dengan kemudahan-kemudahan lain, termasuk begitu mudahnya para orangtua memberikan izin anak-anaknya yang belum cukup umur untuk berlalu-lalang di jalan raya dengan kendaraan pribadi. (twy)

 

 

Comments are closed.