Kisah Nursyahbani saat Teliti Pasien Interseks di Semarang

METROSEMARANG.COM – Perbedaan posisi antara laki-laki dengan perempuan sejak lama terbentuk dari sebuah konstruksi sosial yang ada sejak lama. Perbedaan posisi gender tersebut dipengaruhi faktor media massa, lembaga hukum hingga unsur lingkungan keluarganya.

Nursyahbani Katjasungkana saat memberikan pembekalan bantuan hukum gender struktural (BHGS) sebagai konsep layanan bagi korban kekerasan. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Menurut seorang aktivis perlindungan perempuan, Nursyahbani Katjasungkana,  hal itu membuat perlakuan yang tidak adil ketika sosok kepala keluarga hanya berada pada tangan para pria tanpa memperhatikan peran aktif perempuan.

“Gender yang ada di dunia ini terbentuk secara alamiah yakni kodrat dari Tuhan dan dipengaruhi unsur non alamiah dengan perubahan bentuk kelamin. Padahal diluar hal itu juga terdapat gender yang berada di antara keduanya,” kata Nursyahbani saat memberikan pembekalan bantuan hukum gender struktural (BHGS) sebagai konsep layanan bagi korban kekerasan berbasis gender, di Hotel Pandanaran Semarang, Senin (24/7).

Ia pun menyebut dalam beberapa kasus terdapat seorang inter seks yakni sosok yang terjebak pada kelamin yang salah.  Sosok inter seks yang ia maksud adalah seorang transgender.

Di beberapa negara macam Nepal dan Pakistan, transgender telah diakui secara resmi. Bahkan, di Pakistan terdapat komunitas hijrah sebagai identitas resmi.

“Pakistan dengan kondisi yang sangat keras fanatisme muslimnya sudah mengesahkan pengakuan transgender yang berada posisi sama dengan laki-laki dan perempuan melalui Mahkamah Agung,” katanya.

Untuk wilayah Indonesia, hanya ada tiga rumah sakit yang berani melakukan operasi penggantian kelamin bagi para pasien inter seks. Dua di antaranya ialah RSCM Jakarta dan RSUP Dr Kariadi Semarang.

“Prof dr Sultana MH Faradz PhD jadi sosok paling berjasa saat RSUP Dr Kariadi melakukan operasi pergantian kelamin bagi pasien inter seks. Beliau sudah berulang kali melakukannya sehingga dia dikenal luas sebagai dokter genetika kelamin,” jelasnya.

Selama ini, katanya, Profesor Sultana melakukan operasi kelamin bekerjasama dengan para ahli genetika asal RS Rotterdam Belanda. “Dan semuanya berjalan sukses,” paparnya.

Pembelakan gender yang diberikan oleh Nusyahbani tersebut digelar empat hari berturut-turut yang melibatkan akademisi, pemuka agama, Polri hingga lembaga masyarakat setempat. (far)

You might also like

Comments are closed.