Kisah “Pak Pendek” Penjual Jamu

Jamu Jago Semarang

Terdapat sekelompok orang cebol yang bertempat tinggal dalam mes milik Jamu Jago di dekat kawasan pabrik anggur cap Orang Tua di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara

ANDA generasi yang lahir ahun 70-an sampai 80-an? Tentu kepopuleran Jamu Jago di tengah masyarakat Jawa Tengah, terutama Semarang, belum hilang dari ingatan. Kala itu, para penjual jamu dengan merek Jago itu dengan mudah ditemui di sudut-sudut kota.

jamu jago semarang
Kantor cabang Jamu Jago di kawasan Kampung Kali, Semarang. (foto: metrosemarang/Fariz Fardianto)

Gunung Mahesa, seorang penggiat budaya lokal di Kota Semarang mengatakan, saat Berjaya pada tahun 80-an hingga tahun 90-an, pabrik Jamu Jago memaka jasa orang-orang bertubuh pendek. Mereka dipakai untuk mempromosikan dan menjual jamu.

“Karena ukuran tubuh mereka yang rata-rata sangat pendek itu, maka sering dipanggil sama pelanggan Jamu Jago dengan sebutan Pak Pendek atau Pak Cebol. Ini rupanya menjadi strategi pemasaran yang ampuh untuk mengenalkan produk-produk Jamu Jago kepada masyarakat luas. Khususnya lapisan masyarakat menengah ke bawah,” ujar Gunung.

Terdapat sekelompok orang cebol yang bertempat tinggal dalam mes milik Jamu Jago di dekat kawasan pabrik anggur cap Orang Tua di Kelurahan Dadapsari, Semarang Utara. Ketika bekerja saban hari, Pak Pendek kerap wira-wiri keluar masuk pabrik anggur dengan membawa beberapa krat berisi botol jamu-jamuan.

“Basis aktivitas mereka berada di pabrik anggur cap Orang Tua di Layur. Mereka dibuatkan satu mess untuk tempat tinggal sehari-hari di sana lalu kalau malam hari sering keliling kampung untuk menjajakan jamu-jamu. Salah satunya jamu buatan Jamu Jago,” urainya.

Pak Pendek atau Pak Cebol, kata Gunung dipekerjakan untuk menjual jamu secara berkeliling dari kampung ke kampung. Minuman yang paling diingat oleh anak-anak generasi yang tumbuh tahun 90-an adalah jamu beras kencur dan buyung upik.

Seiring perubahan zaman dengan perilaku warga yang mulai beralih mengonsumsi jamu dalam bentuk sachet, jasa Pak Pendek tak lagi dipakai untuk menjual Jamu Jago. Dulu pada akhir 1996, tinggal dua depot Jamu Jago yang masih buka di Kelurahan Kuningan, Dadapsari.

 

Alih Profesi

“Setelah jasa mereka tidak lagi digunakan oleh Jamu Jago, akhirnya banyak orang-orang cebol yang beralih profesi. Ada yang mengadu nasib ke Jakarta menjadi pemain film. Ada juga yang nyari pekerjaan lainnya,” tutur Gunung.

Saat ini, perjuangan orang-orang cebol dalam mempromosikan Jamu Jago tetap diabadikan di Museum Jamu Jago yang berdiri di Srondol, Banyumanik Semarang.

Dikutip dari situsbudaya.id, pengunjung Museum Jamu Jago tidak dipungut biaya. Museumnya dibuka saban hari dari pagi sampai sore hari. Pengunjung juga dihibur dengan kesenian karawitan. Ini dilakukan oleh karyawan-karyawati ataupun oleh orang-orang cebol. (*)

 

 

 

 

 

Comments are closed.