Kisah Pedagang Yaman Dirikan Masjid Tanpa Saf Wanita di Semarang

MATAHARI

mulai terbenam saat azan Maghrib berkumandang di Masjid Menara, di Jalan Layur, Semarang Utara, pada Rabu petang (17/1). Ali Mahsun, memimpin salat berjamaah bersama beberapa orang.

Masjid Layur dibangun pendatang asal Yaman tanpa saf wanita. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Masjid Layur yang berada di tengah perkampungan Melayu merupakan bangunan sarat sejarah. Ali Mahsun bercerita Masjid Layur sudah ada sekitar tahun 1930 silam.

“Ketika itu, kapal-kapal pedagang dari Yaman merapat ke pesisir Pantura Jawa dengan melewati Kali Semarang,” ujar Ali saat berbincang dengan metrosemarang.com.

Lama kelamaan para pedagang Yaman mendiami Kampung Melayu sembari menggelar dagangannya berupa kapulaga, tasbih, minyak zaitun dan ragam kerajinan khas Tanah Arab.

Tak cuma itu. Ali juga mengisahkan para pedagang Yaman sesekali mensyiarkan agama Islam ke seluruh penjuru Kampung Melayu.

Diawali niat beberapa pedagang, sebuah masjid kemudian dibangun tepat di tepi Kali Semarang. Untuk membantu aktivitas pelayaran sejumlah kapal, menurut Ali ada sebuah menara yang dibuat menjulang setinggi 6 meter yang menyatu dengan masjid.

“Itu maksudnya biar bisa digunakan sebagai mercusuar supaya kapal para saudagar bisa merapat kemari,” terangnya.

Masjid Layur dengan corak geometrik itu dilengkapi dengan daun pintu berwarna hijau muda. Di dalamnya juga terpampang ornamen khas Yaman yang dipadukan ciri khas Jawa dan Melayu.

Ali menyebut tingginya kepadatan penduduk membuat Masjid Layur jadi rujukan bagi masyarakat setempat. Namun menariknya, Masjid Layur hanya diperuntukkan ibadah salat kaum pria saja.

“Karena pada saat pertama kali dibuat, orang-orang Yaman yang tinggal di Kampung Melayu kebanyakan laki-laki. Sedangkan ada sebuah tradisi lokal yang tidak mengharuskan wanita salat di masjid. Makanya, peruntukan Masjid Layur khusus untuk jemaah pria,” bebernya.

Alhasil, Masjid Layur hanya dilengkapi saf khusus jemaah pria.

“Tetapi, seiring berjalannya waktu beberapa pengunjung wanita sesekali ingin salat di sini. Untuk itu kami buatkan saf jemaah wanita meski dalam jumlah terbatas. Lokasinya, terpisah dari bangunan utama masjid. Ini kami rasa perlu untuk mengakomodir perubahan zaman jika ada wanita yang ingin salat di Masjid Layur,” imbuhnya.

Untuk saat ini, ia menerangkan Masjid Layur semakin diminati masyarakat. Jika memasuki bulan Ramadan, pengurus masjid menyediakan takjil berupa kopi Arab dan beberapa butir kurma. (fariz fardianto)

You might also like

Comments are closed.