Kisah Pejuang Tionghoa Ciptakan Lumpia Semarang di Zaman Kemerdekaan

Lumpia khas Semarang Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Lumpia khas Semarang
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

AKSI heroik pejuang Kemerdekaan Indonesia tak melulu terjadi di medan pertempuran melawan serdadu Belanda. Mereka juga berjuang lewat dunia kesehatan dan pendidikan. Bahkan, ada seorang tokoh peranakan Tionghoa di Semarang yang membuat lumpia untuk memasok kebutuhan makanan bagi pejuang lokal.

Adalah pasangan suami-isteri (pasutri) Tjoa Thay Joe dan Mbok Wasi yang berjuang menciptakan jajanan khas Ibukota Jateng itu. Saat zaman kolonial Belanda tahun 1870 silam, keduanya menciptakan lumpia.

“Mereka merupakan pencipta lumpia di Semarang,” kata Meliani Sugiato, cicit Tjoa Thay Joe, saat berbincang dengan metrosemarang.com, Selasa (18/8).

Meliani menceritakan Tjoa Thay Joe membuat lumpia dengan menggabungkan akulturasi budaya Tionghoa dan Jawa. Lumpia racikan Tjoa Thay Joe, katanya, semula diracik menggunakan bahan baku rebung. Agar menambah citarasa jadi lebih sedap, ditambah pula telur ayam dan bumbu rempah lainnya.

Lebih lanjut, Meliani berujar bila pasutri peranakan Thionghoa itu awal mula memasok lumpia di pasar tradisional kawasan Pecinan Semarang. Sepeninggal Tjoa Thay Joe, ilmu meracik lumpia diwariskan kepada anaknya, Siem Gwan Sing dan Tjoa Po Nio. Mereka jadi pelopor lumpia asli Semarang di tahun 1930.

Lambat laun, Lumpia menjadi penganan primadona bagi masyarakat Semarang. Rasanya yang gurih dan sedap membuat makanan rebung ini selalu melekat dihati banyak orang.

“Setelah diwariskan oleh Siem Gwan Sing dan Tjoa Po Nio, lalu pada 1960 bisnis Lumpia diteruskan Siem Swie Kiem sebagai generasi ketiga di keluarga saya. Waktu itu beliau menjual Lumpia di Gang Lombok,” bebernya.

Tak hanya itu saja, kata dia, secara turun-temurun diteruskan kepada Siem Swie Hie. Siem akhinya dikenal sebagai pendiri warung Lumpia Mbak Lien di Jalan Pemuda dan Siem Hwa Nio sebagai pendiri Lumpia Mataram. “Dan sekarang toko Lumpia khas Semarang,” terang Meliani.

“Makanya papah saya juluki Master Chef Lumpia Mataram. Karena Lumpia sudah menyatu dengan dirinya. Untuk itu, dia sampai jualan dorong-dorong gerobak segala. Dengan segenap dedikasi mereka untuk menciptakan Lumpia sejak zaman Kemerdekaan Indonesia, maka kini kita masih bisa melestarikan panganan tersebut,” urainya.

Lebih jauh, ia menyebutkan, tekad keluarganya untuk mempertahankan Lumpia tak berhenti sampai hal itu saja. Saat Lumpia diklaim jadi makanan resmi Malaysia pun, ia berani menyerukan aksi protes di depan Kedubes Malaysia di Jakarta. “Saya protes keras karena mereka (Malaysia) sudah seenaknya mengklaim Lumpia,” tegasnya.

Setelah 100 tahun usaha Lumpia diwariskan kepadanya, dia sekarang bikin program-program untuk memperkenalkan Lumpia Semarang ke luar negeri. “Kita harus berinovasi agar menu dan brand Lumpia mendunia,” akunya.

Ia menambahkan, pada tahun depan akan membuka toko Lumpia di Jakarta. Setelah itu, baru membuka cabang di Hongkong dan Malaysia. “Turis-turis di sana sangat banyak. Bahkan, wisatawan Singapura juga berminat,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.