Kisah Petani Buta Huruf yang Dipenjara 4 Tahun karena Dituduh Korupsi

Sauasana pasca sidang vonis dugaan korupsi proyek perumahan bersubsidi di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (16/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Sauasana pasca sidang vonis dugaan korupsi proyek perumahan bersubsidi di Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (16/2). Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Sakimin tak kuasa menahan tangis saat keluar dari ruang sidang Pengadilan Tipikor Semarang, Selasa (16/2). Lelaki berusia 70 tahun ini menghampiri keluarganya yang menunggu lima jam. Sakimin memeluk erat istri dan kedua anaknya.

Ia lalu berjongkok di depan keluarganya. Sakimin meratapi nasibnya yang buruk. Kepedihan juga dirasakan keluarganya, karena tak bisa lagi berkumpul dengan Sakimin, usai majelis hakim memvonis pria tersebut empat tahun penjara.

Sakimin merasa keadilan tak berpihak kepadanya. Ia hanya dijadikan ‘tumbal’ oleh adik Kepala Desa Teguhan Kabupaten Grobogan dalam kasus korupsi dana Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari program rumah bersubsidi Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera).

“Saya hanya korban. Kalau tidak percaya silakan polisi, KPK dan lainnya boleh cek ke rumah saya. Saya berani sumpah pocong demi anak cucu, saya tidak menikmati uang itu seperserpun,” kata Sakimin sambil menyeka air mata.

Petaka itu dimulai pada 2013 silam. Kala itu, Desa Teguhan tempat Sakimin tinggal bersama anak cucunya menerima bantuan perbaikan 275 rumah dari Kemenpera.

Bantuan tersebut ditujukan bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Jumlah bantuannya Rp 1,98 miliar. Tiap rumah dapat Rp 7,5 juta. Tapi, dari hasil pengecekan di lapangan, Kemenpera memastikan hanya 264 unit rumah yang butuh bantuan renovasi.

Dana bantuan dicairkan dua tahap, masing-masing senilai Rp 3.750.000 berupa bahan bangunan. Para penerima bantuan lalu menunjuk Andi Poedjo selaku adik kandung Kepala Desa Teguhan sebagai supplier bahan bangunan.

Dari sinilah, tim Kemenpera menemukan keanehan. Saat dicek ulang, ternyata terdapat selisih pembagian dana di lapangan Rp 500.520.000 dari total dana lapangan yang dicairkan mencapai Rp 1.499.479.394.

Merasa ada dugaan aksi korupsi dalam proyek tersebut, tim Kemenpera kemudian membawa masalah ini ke meja pengadilan. Sakimin bersama Andi Poedjo rupa-rupanya dituding menikmati uang korupsi program rumah bersubsidi.

Ironisnya, dalam proyek rumah bersubsidi itu, posisi Sakimin hanya pemilik toko bangunan. “Saya tak ada kaitannya dengan proyek tersebut. Saat itu, kepala desa hanya meminjam nama toko saya. Tidak tahu buat apa,” ujar kakek dua cucu ini dengan logat Jawa kental.

Meski begitu, Ketua Majelis Hakim Tipikor Semarang Suprapti bersikukuh menjatuhkan vonis terhadap Sakimin 4 tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta subsidair 42 bulan kurungan.

Sedangkan, Andi Poedjo divonis 5 tahun penjara ditambah denda Rp 200 juta subsidair 2 bulan kurungan. Andi juga wajib mengembalikan kerugian negara Rp 500 juta subsidir satu tahun kurungan.

“Kedua terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana dalam Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah Undang-undang Nomor 20 tahun 2001 jo pasal 55 ayat 1 KUHP sebagaimana dalam dakwaan pertama,” tegas Suprapti.

Dalam pertimbanganya, hal-hal yang dianggap memberatkan terdakwa yaitu tidak mendukung pemberantasan tindak pidana korupsi dan merugikan keuangan negara. Hal yang meringankan yakni belum pernah dihukum serta bersikap sopan di muka sidang.

“Untuk terdakwa Sakimin selalu berterus terang selama proses penyidikan hingga persidangan dan tidak menikmati uang hasil kejahatanya dan walaupun Sakimin butuh huruf akan tetapi bisa menghitung,” sambungnya.

Atas vonis tersebut, kuasa hukumnya Nugroho Budiantoro pilih pikir-pikir dulu atas keputusan pengadilan tersebut. Namun, ia beranggapan tidak tepat jika kliennya dipenjara empat tahun karena yang bersangkutan merupakan petani buta huruf dan hanya korban dari perbuatan Andi Poedjo. (far)

You might also like

Comments are closed.