Kisruh SMA 3 Semarang, Orang Tua Siswa Yakin Ada Unsur Kelalaian

METROSEMARANG.COM – Kasus tidak diterimanya ratusan siswa IPA SMA Negeri 3 Semarang dalam Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) diduga karena kesalahan sistem. Namun hal itu belum bisa dipastikan dan sedang dibentuk tim pencari fakta dan perumus untuk mengetahui penyebab hal tersebut.

Puluhan siswa Smaga yang tak lolos SNMPTN menggelar aksi protes pada Kepala Sekolah, Kamis (12/5) siang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono
Puluhan siswa Smaga yang tak lolos SNMPTN menggelar aksi protes pada Kepala Sekolah, Kamis (12/5) siang. Foto: metrosemarang.com/ade lukmono

Salah satu orangtua siswa yang enggan disebutkan namanya mengatakan alasan Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Semarang, Bambang Nianto Mulyo yang mengatakan hal itu disebabkan karena kesalahan sistem tidak dapat diterima.

“Tidak mungkin kesalahan sistem. Ini pasti ada unsur kelalaian manusia, dalam hal ini yang paling bertanggung jawab adalah Kepala Sekolah,” gerutu dia usai pertemuan yang dilaksanakan antara wali murid dan pihak sekolah di ruang Multimedia, SMA Negeri 3 Semarang, Kamis (12/5).

Dia kasihan kepada siswa yang sudah mencurahkan waktunya untuk melakukan yang terbaik dalam SNMPTN namun gagal. “Anak-anak kami sedih. Sudah seperti kehilangan semangat,” tambahnya.

Anggota Alste’86 (alumni SMA 3 Semarang), Fathoni merasa prihatin atas kasus yang menimpa adik angkatannya. Menurutnya, pihak sekolah tidak bisa lepas tangan dan harus bertanggung jawab. Bagaimanapun, kata dia, penerapan sistem pembelajaran merupakan kebijakan sekolah.

“Tentunya pihak sekolah juga harus punya pertimbangan yang matang sebelum menerapkan sebuah kebijakan, jangan sampai kemudian muncul kesan dipaksakan,” ujarnya.

Sebagai alumni, dia juga bisa memahami kekecewaan yang dirasakan ratusan siswa jurusan IPA tersebut. “Meskipun masih ada SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) maupun melalui jalur mandiri, ‘kecelakaan’ ini sudah pasti membuat siswa down. Kita semua berharap kasus ini bisa segera clear,” tandasnya.

SMA Negeri 3 Semarang merupakan satu dari delapan sekolah di Jawa Tengah yang menerapkan sistem kredit semester (SKS) dalam metode pembelajaran. Namun, hanya sekolah yang beralamat di Jalan Pemuda Semarang ini yang bermasalah.

Sementara, Kepala SMA 3 Semarang, Bambang Nianto Mulyo mengatakan, sekolah tidak dapat dipersalahkan atas kasus yang dialami anak didiknya. Dia mengklaim telah melakukan prosedur yang sesuai dalam prosesnya.

“Pihak sekolah tidak bisa disalahkan. Kami sudah melakukan prosedur sebgaimana mestinya. Kami juga sudah bertemu dengan panitia di Yogya kemarin mengenai hal ini,” kata Bambang. (ade)

 

 

 

You might also like

Comments are closed.