Kolang-Kaling, dari Gunungpati Sampai ke Meja Kita

 

KOLANG-kaling merupakan makanan yang berasal dari buah pohon aren. Berbentuk lonjong dan berwarna putih keruh. Ia dikenal sebagai teman berbuka puasa saat Ramadan tiba. Selain kaya akan air yang cocok untuk mengurangi dehidrasi saat puasa, kolang-kaling juga mengandung banyak kandungan gizi diantaranya protein, karbohidrat, Vitamin A, Vitamin B, Vitamin C, kalsium, fosfor dan zat besi. Kolang-kaling biasa disajikan sebagai salah satu isian di dalam kolak atau sebagai campuran dalam es buah dan sebagainya.

 

Di Semarang, ada sebuah tempat yang menjadi sentra pembuatan kolang-kaling sejak ratusan tahun lalu. Berada di Kelurahan Jatirejo, Kecamatan Gunungpati, kini ada sekitar 20 rumah industri pembuat kolang-kaling. Semuanya tersebar di RW III Kelurahan Jatirejo.

 

“Dulu memang ada lebih dari itu, ada sekitar 50-an dan hampir satu kelurahan mejadi pengrajin kolang-kaling tapi seiring berjalannya zaman sekarang mulai berkurang dan hanya tersisa 20 perajin saja,” ujar Sekertaris Kelompok Darma Wisata Jatilanggeng, Dwi Sayekti Kadaruni, Sabtu (2/5) siang.

 

Kolang-kaling memang sudah menjadi ciri khas Kampung Jatirejo. Bahkan, kampung ini dijadikan sebagai kampung tematik bernama Kakola (Kampung Pengolahan Kolang-Kaling) oleh Pemerintah Kota Semarang sejak beberapa waktu lalu. Sehingga beberapa warga di kampung tersebut menggantungkan hidupnya pada usaha pengolahan kolang-kaling.

 

Meskipun begitu, sebagian besar perajin kolang-kaling di kampung tersebut mendatangkan bahan dasar dari luar kota. Buah aren biasanya mereka beli dari daerah Temanggung, Parakan, Banjarnegara, Purwokerto, dan Pekalongan. Mereka biasa membeli buah mentah dengan sistem tebas. Dalam sekali transaksi, satu truk buah aren dibeli dengan harga sekitar Rp 10 juta yang kemudian di olah di Kampung Jatirejo.

 

“Ya biasanya satu truk gitu belinya, langsung dari sana dan isinya juga untung-untungan soalnya kan ada yang muda ada yang tua jadi ya nggak pasti hasilnya nanti ketika sudah jadi kolang-kaling. Disini sudah nggak ada pohon aren, kalau dulu ada makanya nyari dari luar kota,” ujar salah seorang pengrajin, Muslimin.

 

Muslimin sudah menjadi perajin kolang-kaling sejak tahun 70-an. Ia menjadi satu dari segelintir orang yang masih menggantungkan hidupnya dengan  berprofesi sebagai pengrajin kolang-kaling. Beberapa warga yang semula bermata pencaharian sebagai pengrajin kolang-kaling mereka beralih profesi lantaran bahan yang sudah tak lagi mudah didapat.

 

Muslimin masih mengolah kolang-kaling menggunakan cara tradisional. Setelah bahan datang, ia bersama beberapa pekerjanya memisahkan buah dengan batangnya. Untuk memisahkannya, mereka harus berhati-hati lantaran akan terasa sangat gatal jika terkena cairan buah tersebut. Setelah itu, buah direbus selama 2-4 jam. Merebusnya pun masih mengandalkan api dari kayu bakar menggunakan tungku. Kemudian kolang-kaling dikupas dan diambil bijinya.

 

“Ngupasnya juga nggak sembarangan, ada caranya dan nggak gampang. Kemudian kalau sudah dikupas langsung direndam kurang lebih dua malam, setelah itu dipipihkan dan di rendam kembali selama dua malam,” imbuh Muslimin.

 

Kolang-kaling dipipihkan dengan cara menumbuknya di atas batu dengan kayu penumbuk. Hal tersebut dilakukan agar ketika diolah untuk dimakan nantinya, bumbu ataupun pemanisnya bisa meresap ke dalam kolang-kaling tersebut. Untuk memipihkannya pun, tidak semua orang bisa melakukannya. Jika tidak terbiasa, ketika menumbuk kolang-kaling akan terlempar karena bentuknya yang lonjong dan kenyal.

 

Sementara itu, Ninik menambahkan, saat Ramadan seperti ini permintaan kolang-kaling di Kampung Jatirejo mengalami peningkatan hingga tiga kalilipat. Jika di hari biasa dalam seminggu hanya memproduksi satu kali, namun jika Ramadan tiba bisa memproduksi tiga kali. Tak sedikit warga setempat yang menjadi pengolah kolang-kaling dadakan saat Ramadan tiba.

 

“Memang ada beberapa warga yang menjadi pengolah kolang-kaling hanya saat Ramadan saja, mereka biasanya ngambil bahan yang sudah dikupas dari daerah-daerah di luar kota seperti Temanggung, Banjarnegara dan beberapa lainnya. Jadi disini mereka hanya memimipih kan saja kemudian meredamnya kembali dan siap dijual,” imbuh Ninik.

 

Untuk harga, satu kilogram kolang-kaling saat ini dibanderol dengan harga Rp 10 ribu. Kolang-kaling hasil olahan warga Jatirejo biasa dijual di beberapa pasar di Kota Semarang seperti Pasar Johar, Pasar Karangayu, dan beberapa lainnya.

 

“Ada juga yang sampai ke luarkota seperti Jepara, Pekalongan, banyak yang ngambil kesini. Karena memang bisa bertahan lumayan lama kalau kolang-kaling, bisa sampai tiga bulan,” pungkas Ninik. (Efendi)

Comments are closed.