Korban Perang Timteng Tertahan di Semarang

METROSEMARANG.COM – Puluhan korban perang sipil Timur Tengah (Timteng) hingga kini masih tertahan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Semarang. Mereka kabur ke Indonesia karena terusir dari negaranya.

Berdasarkan data pihak Rudenim Semarang, disebutkan jumlah pengungsi dari Afghanistan yang ada di tempat penampungan kini terdapat 58 orang. Mereka terdiri dari 36 laki-laki dan 22 perempuan.

Ilustrasi
Ilustrasi

Jumlah itu paling banyak, dibanding pengungsi dari Irak ada 16 orang, Iran enam orang, Pakistan delapan orang, Ethiopia empat orang, Srilanka enam orang, Myanmar satu orang serta India satu orang.

“Dan secara keseluruhan kurang lebih ada 120 orang pengungsi yang ditampung di Rudenim. Rata-rata mereka korban perang sipil berkepanjangan di Timteng,” terang Retno Mumpuni, Kasi Registrasi dan Administrasi Laporan Rudenim Semarang kepada metrosemarang.com, Sabtu (19/3).

Ratusan pengungsi itu masuk ke Indonesia melalui berbagai daerah mulai Yogyakarta, Semarang hingga Jakarta. “Jumlahnya sangat banyak dan bertambah setiap bulannya,” jelas Retno.

Saat ini, menurutnya, pihaknya sedang menunggu proses pemulangan ratusan pengungsi ke negara asal. Rudenim masih menunggu jadwal pemulangan dari UNHCR sebagai otoritas resmi yang berwenang memulangkan para pengungsi.

“Yang jadi masalahnya sekarang, jadwal pemulangannya tidak bisa ditentukan. Tergantung proses pendataan yang dilakukan UNHCR apakah lancar atau tidak. Misalnya sekarang ada pengungsi Srilanka yang batal dipulangkan karena terkendala data tempat tinggalnya. Ini yang memakan waktu lama,” sambungnya.

Untuk sementara ini, kapasitas penampungan imigran gelap di Rudenim juga sudah overload. Ia menyebut dari kapasitas awal 90 orang, kini jumlah penghuninya membengkak menjadi 120 orang. Satu kamar terpaksa diisi empat orang.

“Kalau punya anak dan istri ya diisi enam orang tergantung kondisinya. Jika jumlahnya sudah kebanyakan maka akan ditampung di Rudenim Makassar atau Jakarta,” lanjut Retno.

Dilain pihak, pengungsi asal Myanmar, Ku Myo Aung, terpaksa ditampung di Rudenim karena paspor miliknya raib saat berada di Boyolali. “Niatnya pengin menjemput istri eh malah paspornya hilang. Akibatnya saya tak bisa pulang dan harus tinggal sementara di sini,” keluhnya.

Ia mengaku sudah dua bulan tinggal di Rudenim dan tak tahu sampai kapan harus menunggu penerbitan parpor baru miliknya. “Ya moga-moga bisa cepat rampung urusannya,” kata Myo. (far)

You might also like

Comments are closed.