Korupsi SPA, Sejumlah Pejabat Pemkot Diduga Ikut Bermain Kuitansi Bodong

Ilustrasi
Ilustrasi

SEMARANG – Sejumlah pejabat Pemkot Semarang diduga ikut terlibat dalam kasus korupsi program Semarang Pesona Asia (SPA). Hal itu terungkap dari keterangan saks-saksi dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang, Kamis (30/7).

Seperti keterangan dari salah seorang saksi Rendika Pandu Wijaya, seorang pemilik persewaan kursi yang dihadirkan dalam persidangan. Dalam keterangannya  ia mengaku telah menyerahkan kuitansi kosong dengan tanda tangannya kepada salah satu panitia SPA, yang merupakan pejabat Pemkot bernama Agus Buana.

Tak hanya itu, saksi lain Budiyono  General Manager Hotel Indraprasta mengaku, pihaknya telah menerima peminjaman kamar hotel untuk tamu kegiatan Senbis SPA, namun sepengetahuan dirinya yang meminjam bukan atas nama Pemkot Semarang langsung. Ia juga mengaku kuitansi barang bukti bulan Agustus 2007 bukan dari pihaknya.

“Memang ada sewa kamar untuk menerima tamu bulan Juni dan Juli 2007. Tapi Agustus gak pernah ada tamu kegiatan itu, saya juga gak tanda tangan kuitansi Agustus itu. Jadi kuitansi yang jadi barang bukti cuma Agustus yang tidak benar. Yang bayar dulu melalui Ibu Fitri ke kami,”ucapnya kepada majelis hakim.

Selanjutnya, saksi berikutnya Nunuk Sulistyowati selaku  Admin CV Sejahtera Abadi, menyatakan kuitansi yang dijadikan barang bukti benar tanda tangan bendahara kantornya, namun nominal dan kepentinganya beda dengan aslinya.

“Sebenarnya, pemkot yang minta kuitansi kosong. katanya untuk merevisi kegiatan pengadaan. Kami cuma dimintai kuitansi kosong. Saya juga tidak kenal dengan terdakwa (Harini Krisniati). Kuitansi itu yang tanda tangan Ibu Vania. Saya lupa siapa yang minta kwitansinya, sudah lama soalnya,” ungkapnya.

Mendengar keterangan para saksi tersebut, Hakim Ketua Gatot Susanto sempat geram dengan pemberian kuitansi kosong dari para saksi. Bahkan Gatot sempat  mengingatkan saksi yang hadir supaya tidak kembali mengulangi perbuatan mereka karena dapat diduga bersekongkol dalam tindak pidana korupsi.

“Saya serius ini, nanti saudara bisa dianggap bersekongkol. Jangan sembarangan memberi kuitansi kosong, nanti diberi nominal besar dalam kuitansinya bagaimana,” tegas Gatot.

Sementara itu, atas keterangan para saksi, terdakwa Harini tidak memberikan respons dengan alasan bahwa dirinya tidak mengenal para saksi. Sidang akan kembali digelar pada 3 Agustus mendatang. (yas)

 

 

You might also like

Comments are closed.