Kreatif, Robot-robot Ini Dibuat dari Sampah Logam

METROSEMARANG.COM – Deretan robot mini dengan beragam pose jadi daya tarik pengunjung Pazaarseni 2017 di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS). Siapa sangka, hasil kreasi Indaryanto itu dibikin dari limbah logam yang sudah teronggok di tempat rongsok.

Miniatur robot dari logam bekas. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

“Ini merupakan robot yang terbuat dari limbah logam yang saya dapat dari teman maupun beli di tempat penjualan barang rongsok,” ujar Iin, sapaannya sembari menyapa beberapa orang yang berkunjung di ruang pamer miliknya, Sabtu (21/10).

Iin berkisah, pembuatan robot berbahan logam ini merupakan hasil dari ketidaksengajaan. Awalnya ia menemukan barang tak terpakai yang tersimpan di dalam lemari di rumahnya pada 2009 silam.

“Pertama membuat itu awalnya tidak sengaja, di rumah ada limbah di laci, terus ditempel pake lem jadi bentuk mobil, kapal, kereta api. Lalu makin ke sini berkembang pengen membuat konstruksi yang bisa berdiri yakni robot,” ujar pria yang tinggal di Jalan Anjasmoro Tengah VI, Karangayu, Semarang ini.

Pemilihan robot merupakan hasil dari kegalauan yang ia rasakan ketika memasuki toko mainan. Selain banyaknya robot yang impor, bahan dasar robot tersebut berbahan plastik dan kurang kokoh.

“Saya kalau pergi ke toko mainan juga melihat mainan robot kok bahannya dari plastik itu kan kurang menarik, makanya saya pengin mbikin robot itu yang berbahan logam, mulai dari mainan robot, hingga hiasan-hiasan kecil, selain itu juga kan sekarang eranya era robot” imbuhnya.

Untuk mendapatkan bahannya Iin tak pernah merasa kesulitan. Kadang ada temannya yang mempunyai barang bekas dan diberikan kepadanya secara cuma-cuma, kadang juga ia mencari di penjual barang bekas.

Dalam sehari Iin bisa menyelesaikan 5 buah robot berukuran kecil. Untuk ukuran besar ia bisa menyelesaikannya dalam waktu lima hari. Itu semua tergantung pada kerumitan dan detail robot yang dibuat, semakin rumit pembuatannya bisa memakan waktu lebih lama.

“Sebenarnya untuk merangkainya itu tidak sulit, hanya dibutuhkan imajinasi saja, seperti kalau kita nggambar juga pengen membentuk sesuatu di dalam pikiran dan kita realisasikan menjadi bentuk seperti ini. Cuman untuk saat ini saya masih terkendala alat mas, jadi dalam pembuatannya masih terhitung lama,” cetusnya.

Harga yang ditawarkan pun beragam, mulai dari puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Untuk pasar, selain di dalam Kota Semarang, hasil karyanya juga telah menyebar ke beberapa kota di Indonesia bahkan luar negeri.

“Harganya mulai Rp 20 ribu sampai Rp 2 juta. Untuk mengirim ke luar negeri, saat ini belum. Biasanya ada pesanan dari teman untuk dibawa ke sana (luar negeri),” pungkasnya. (fen)

Comments are closed.