Kreativitas sebagai Panglima, Lupakan Pemerintah Kota

Pementasan 'Padasan' oleh Teater Emka, Minggu (5/4). Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Pementasan ‘Padasan’ oleh Teater Emka, Minggu (5/4). Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

SEMARANG sering kali disebut sebagai kota yang tak kreatif. Tapi tidak bagi saya. Persetan orang mengecap Semarang sebagai kuburan seni. Bagi saya, kreativitas orang-orang Semarang tak ada duanya

Saya melihat dari satu sisi saja. Teater. Semarang memiliki banyak kelompok teater dengan berbagai corak panggung maupun metode proses berbeda. Perbedaan itulah kemudian menjadikan dunia teater di kota ini begitu berwarna.

Kota ini menjadi rahim kelompok yang tahun ini berusia 35 tahun: Teater Lingkar. Pada masa lalu, Semarang diramaikan, untuk menyebut beberapa, Teater Merah, Teater Waktu, Actor Studio, Komunitas Panggung Semarang dan Sanggar Seni Paramesthi. Puluhan kelompok teater menetas dari kampus-kampus atau perguruan tinggi. Bahkan satu kampus lahir lebih dari satu kelompok teater.

Bagai api, teater kampus itu pun memercikkan semangat bagi kelompok baru di luar kampus. Seperti Teater Tikar, Roda Gila dan Kerlap Kerlip Bersaudara, Teater Kandri dan Serat Semar (Serawung Teater Semarang). Tak semuanya menyebut diri sebagai grup teater. Sebagian bergerak di wilayah diskusi-diskusi rutin dan latihan berkala.

Persetan Afrizal Malna tak memasukkan Semarang dalam peta teater Indonesia. Masa bodoh penyair yang tak pernah bisa membaca puisi dengan vokal dan intonasi yang enak di telinga itu tak memasukkan satu kata pun tentang teater Semarang dalam bukunya “Perjalanan Teater Kedua: Antologi Tubuh dan Kata”. Tak mengapa juga, Afrizal malah seperti mengejek kita dengan membedah bukunya itu di Joglo Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), 27 Januari 2011 silam.

Persetan juga dengan fakta dalam kurun waktu 10 tahun terakhir tak banyak kelompok teater kawakan yang singgah pentas di Kota Semarang. Hanya beberapa yang sempat mampir (itu pun mungkin dengan terpaksa). Seperti “Zoom” Teater Mandiri dengan sutradara Putu Wijaya pada 2004, “Overdosis” Teater Klosed dengan sutradara Sosiawan Leak pada 2006 serta “Nabi Darurat Rasul Ad Hoc” Karya Emha Ainun Nadjib Teater Perdikan 2012. Terakhir Teater Koma dengan Sampek Engtay di Marina Convention Center 2014 lalu.

Kenapa tidak banyak kelompok teater besar negeri ini melewatkan Semarang dalam pentas kelilingnya? Ada yang bilang mereka tak mau karena kota ini tak memiliki ruang khusus untuk menerima tamu. “Mau pentas di mana kalau di Semarang,” begitu kira-kira.

Memang harus diakui, hanya ada beberapa tempat yang terhitung cukup sering digunakan untuk ruang pementasan. Diantaranya Gedung Serba Guna TBRS, Auditorium 1 UIN Walisongo, Ruang Teater Fakultas Ilmu Kebudayaan Undip, Aula Gedung E Lantai 3 Udinus, dan Auditorium RRI Semarang. Dari semuanya, Auditorium RRI paling memenuhi syarat. Kekurangannya hanya satu; harga sewa yang kelewat muahal.

Tapi saya menyebut mereka bukan tak mau. Lebih tepatnya, tidak berani. Ya mereka tak berani mencoba menaklukkan Semarang. Mereka tak berani mengambil risiko bermain-main dengan kreativitas untuk menaklukkan ruang. Mereka takut pentasnya berkurang kualitasnya, hanya gara-gara alasan menyesuaikan ruang.

Padahal, kreativitas adalah nyawa kesenian. Se-masterpiece apapun karya seni, jika pada kreativitas karya berikutnya mandek, matilah karya itu.

Padahal kreativitas mutlak diperlukan untuk menjadikan karya itu hidup dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Kreativitas tidak hanya bergerak di wilayah konsep, melainkan juga pada tataran eksekusi. Apalah artinya konsep bagus tapi tak bisa diterjemahkan dalam bentuk visual panggung. Karena teater adalah seni pertunjungan langsung, pentas di tempat dan waktu berbeda, hasilnya pasti berbeda.

Pada konteks ini, kreativitas pekerja teater Semarang layak dibanggakan. Kreativitas yang mungkin saja berawal dari keterpaksaan, tapi karena terus berulang, menjadikannya terbiasa.

Mungkin pekerja teater Semarang adalah umat setia Mario Teguh. Mereka mengamalkan benar-benar quote super Mario. “Selalu ada kemudahan dalam setiap kesulitan”, “mereka yang sibuk mengeluhkan kesulitan, akan sulit menemukan kemudahan”, “Masa sulit adalah masa yang paling menuntut pembuktian”. Quote-quote itu terngiang-ngiang setiap hari, diucapkan setiap menjelang latihan, dan menjadi dzikir usai tahajud di sepertiga malam.

Kata-kata Super Mario itu merasuk ke jiwa-jiwa pekerja Teater Semarang, memberi mereka kekuatan sehingga tak pernah kehabisan ide untuk mengakali ruang. Kalau di kota lain, pekerja teaternya cukup menata panggung, di sini harus membangun panggung yang waktunya butuh berhari-hari. Sebab gedung-gedung yang disebut tadi hanya berupa ruang kosong tanpa perangkat pertunjukan. Sebagian lebih sering digunakan untuk seminar atau pesta pernikahan.

Maka sebelum mengeset panggung, mereka harus mengukur area dulu, membentangkan kawat panjang untuk menggantungkan lampu, atau berjudi dengan nyawa hanya untuk memasang kain hitam di atap TBRS yang begitu tingginya.

Tipisnya dompet pun bukan halangan berkarya. Mereka mengakalinya dengan biaya yang lebih tipis dari yang tersedia. Contoh Teater Asa dalam suguhannya “Nyonya-Nyonya” karya Wisran Hadi sutradara Widya Noor, yang membawakan panggung sebuah rumah mewah hanya dengan biaya Rp 600 ribu. Sama halnya dengan “Padasan”nya Teater Emka, yang kebetulan juga hanya menghabiskan Rp 600 ribu.

Jika Solo, Jogja, dan Jakarta adalah kota metropolitan teater. Semarang adalah pelosok desa dengan akses jalan sulit dan infrastruktur terbatas. Tapi sebagaimana layaknya kehidupan di desa, berkembang budaya gotong royong untuk saling memberikan nyawa pada setiap entitas di sana. Setiap kelompok saling memercikkan semangat dengan menggelar kegiatan bersama, seperti workshop dramaturgi, artistik, hingga manajemen pementasan.

Teater Tikar misalnya, menyelenggarakan Semarang Actor Class (Semac) secara bertahap. Kegiatan yang mengacu pada pembekalan keaktoran ini mendapat respon positif dari berbagai kelompok teater. Sebab, Tikar tak segan menghadirkan seniman ternama untuk menjadi pemateri. Sebut saja Daniel Godan Exaudi (Salatiga), Apito Lahire (Tegal), Aristya Kusuma Verdana (Semarang), Dili Suwarno (ISI Yogyakarta), dan rencananya akan menghadirkan Tony Broer (Dosen STSI Bandung/pegiat Butoh).

Upaya ini juga dilakukan oleh hampir semua teater di Kota Semarang. Workshop yang mestinya diselenggarakan secara internal, dibuka untuk umum.

Istilah silaturahmi juga akrab di telinga pekerja teater kota ini. Mas Alfiyanto (Komunitas Panggung Semarang), Mas Ton (Teater Lingkar) Babahe Widyo Leksono dan anggota Serat Semar masih asyik bersafari, keliling ke kantong-kantong seniman teater muda. Berdiskusi, membekali diri, menjadikan diri lebih baik lagi.

Karena memang keterbatasan harus ditaklukkan. Kalau tidak bisa sendiri, mari bersama-sama. Karena sepertinya sudah percuma mengharapkan Pemerintah Kota Semarang memperhatikan kesenian. Sudah ribuan teriakan dan ratusan tulisan tentang ini yang menguap begitu saja. Sudah berulang kali keluhan disampaikan langsung pada wali kota, Dewan, dan dinas, tapi tak ada hasilnya.

Apakah mau terus berteriak dan mengeluh seperti itu? Persetan tak punya gedung pertunjukan, persetan wali kota tak pernah membuat program kesenian, persetan TBRS digusur jadi Trans Studio. Kita bisa teriak sekarang: TIDAK!.

Lupakan pemerintah kota, lupakan wali kota. Kita percaya, keterbatasan selalu menemukan kreatifitasnya. Dengan kreatifitas sebagai panglima, kita bisa pentas di mana saja. Begadang, lupa makan dan nyuekin pacar pun sudah biasa. Kita terus saja berkarya, dan berbahagia. (*)

Setiawan W

Pekerja Teater Asa UIN Walisongo

You might also like

Comments are closed.