Kue Moci, Makanan Sesaji Favorit Warga Tionghoa

Moci atau mouci sudah kesohor sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam sebagai makanan pelengkap untuk hantaran ritual sembahyang bagi warga Tionghoa di klenteng.

IMLEK tiba. Sejumlah warga Tionghoa mulai bergegas menyiapkan ragam pernak-pernik perayaannya. Selain amplop angpau dan lampion, warga Tionghoa di kawasan Pecinan, Semarang juga tak mau ketinggalan menyiapkan berbagai sajian makanan khas Imlek.

Dewi Puspawati saat menunjukan kue moci buatannya di tokonya Jalan Kentangan Barat. (Fariz Fardianto/metrojateng.com)

Bertempat di Jalan Kentangan Barat, Kelurahan Jagalan, Kecamatan Semarang Tengah, sejumlah warga tengah sibuk meracik bumbu-bumbu warisan leluhurnya. Dewi Puspawati salah satunya.

Ia mengaku siang itu aktivitasnya seperti biasanya. Membuat kue moci yang dibantu beberapa pegawainya dari pagi buta. Perkiraannya, penjualan kue moci naik dua kali lipat dibanding hari normal hanya 10-20 kilogram. Permintaan terbanyak kini datang dari pelanggannya asal Surabaya.

Kakeknya semula yang mengawali membuat kue moci di Kampung Kentangan sejak 1970. Awalnya, kakeknya hanya membuat kue moci original dengan isian kacang tanah dengan balutan tepung.

Moci atau mouci sudah kesohor sejak puluhan bahkan ratusan tahun silam sebagai makanan pelengkap untuk hantaran ritual sembahyang bagi warga Tionghoa di klenteng.

“Yang mengawali pertama nenek saya, Sri Hartini alias Tjia Sien Nio selama dua puluh tahun sebelumnya. Karena peminatnya sangat banyak, kami yang meneruskan usahanya lalu memberikan variasi dengan menambahkan biji wijen. Sampai sekarang yang original maupun moci wijen masih disukai warga yang berburu panganan untuk jamuan Imlek,” bebernya.

Kini ia tengah bersiap menanggung untung berlipat dengan menawarkan ragam rasa moci kepada pelanggannya. Mulai moci durian, cokelat, strowberi hingga green tea. Harganya dibandrol mulai Rp 18 ribu sampai Rp 24 ribu per bungkus dengan isian 10 biji.

Pemilihan banyak rasa moci itu demi menyiasati ketatnya persaingan usaha di era serba digital saat ini. Sembari dibantu anak-anaknya, ia kini getol merambah pemasaran via website. Ia ingin meraih pangsa pasar kalangan anak muda yang gemar memakai perangkat gawai.

“Kami pasarkan melalui website dan Instagram karena ingin mengenalkan moci lima rasa sama kalangan anak muda. Itu dilakukan sama anak-anak saya dan beberapa pegawai di toko,” ujarnya. (*)

 

Artikel ini telah diterbitkan metrojateng.com
You might also like

Comments are closed.