Kue Rangen Kendal, Legitnya Parutan Kelapa dalam Panggangan Serabut Kelapa

ANDA penyuka jajanan tradisional? Coba jajanan khas Kendal berbahan baku parutan kelapa dan tepung ketan ini. Namanya kue rangen, rasanya gurih sekaligus manis. Di daerah lain jajanan sejenis ini sering disebut kue rangin, kue rangi, kue pancong atau gandos.

kue rangen
Proses pembuatan kue rangen khas Kendal menggunakan tungku berbahan serabut kelapa masih tradisional. (Foto: metrojateng/edi prayitno)

Kue dipanggang dalam cetakan baja besar, menggunakan serabut kelapa sebagai bahan bakarnya. Cara pemanggangan seperti itu menambah cita rasa jajanan tersebut.

Kue ini digemari warga Kendal sebagai kudapan. Di bulan puasa seperti ini, kue rangen kerap pula dijadikan makanan untuk berbuka puasa. Salah satu pembuat kue rangen dengan cara masak tradisional adalah Fauzi Indah, warga Kelurahan Sukodono Kecamatan Kota Kendal.

Fauzi menggunakan tungku dari kulit (serabut) kelapa. Bahan utama kelapa diparut dengan cara manual agar teksturnya kasar. Parutan kelapa kemudian dicampur dengan tepung ketan dan diberi bumbu garam. Tanpa tambahan air campuran adonan ini siap dicetak. Cetakan berukuran besar ini menjadi khas kue rangen Kendal. Di daerah lain ukuran kue ini lebih kecil.

Cara memanggang adonan kue rangen ini juga berbeda. Cetakan diletakan di atas tungku berbahan serabut kelapa yang dibakar. Agar matang merata diatas cetakan adonan ditutup dengan bara, juga dari serabut kelapa yang dibakar. Perlu keterampilan khusus untuk membuat kue rangen, harus cermat saat membakarnya.

Setelah matang kue rangen yang masih panas ditaburi gula pasir untuk menambah rasa manis. “Pakai pemanggang tradisional. Yang proses panggangnya tidak pada bagian bawah, namun diatas cetakannya kami juga tumpangi dengan serabut kelapa yang dibakar, sehingga seluruh bagian kue terpanggang secara merata,” ujarnya.

kuliner kendal
Di bulan puasa, pesanan kue rangen Fauzi Indah melonjak. (foto: metrojateng/Edi Prayinto)

Menurut Fauzi, pada bulan Ramadan seperti ini pesanan kue rangen khas Kendal melonjak. Dalam sehari ia bisa membuat kue rangen ini sebanyak 150 biji. Dirinya tidak bisa memproduksi dalam jumlah besar karena keterbatasan alat dan lamanya proses pembuatan kue rangen ini.

“Sehari biasanya membuat 100 kue, maksimal 150 kue itu sudah mentok. Tapi pengrajin lain ada juga yang pakai mesin sehingga produksinya cukup banyak” terangnya. Ia mengatakan untuk membeli kue ini, dapat dibeli dipasar-pasar tradisional di Kendal seperti di Pasar Cepiring, Pasar Putat Sukodono dan Pasar pada pantura Kendal.

Kue rangen ini sudah menjadi hidangan berbuka puasa bagi warga sekitar karena rasanya yang gurih dan manis. Nur Solifatun misalnya, selalu membeli kue rangen untuk hidangan pembuka saat berbuka puasa. Rasanya gurih dan manis disukai anak-anak harganya juga murah untuk ukuran besar hanya Rp 6 ribu.

“Rasanya manis dan gurih. saya sering mbelinya karena keluarga suka. Harganya juga murah yaitu enam ribu tiap kuenya,” pungkasnya

Meski banyak pembuat kue rangen yang sudah menggunakan oven berbahan bakar gas namun kue rangen yang satu ini menjadi favorit karena rasanya berbeda. Aroma serabut kelapa menjadikan kue ini lebih tahan lama dan tidak mudah basi. (MJ-01)