Kulit Singkong, Solusi Pencemaran Limbah Tekstil

INDONESIA mengalami kemajuan yang pesat di bidang industri tekstil. Kemajuan tersebut bukan tanpa akibat, salah satunya peningkatan jumlah limbah zat warna yang seringkali kurang diperhatikan penanganannya.

kulit singkong
sumber: dkpp.jabarprov.go.id

Pembuangan limbah zat warna ke sungai tentu saja berimbas pada pencemaran dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat karena penurunan kualitas air. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat untuk menangani pencemaran air sungai oleh limbah zat warna industri tekstil.

Mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip), Kharisma Madda Ellyana, Kharisma Luthfiaratri Rahayu dan Ratri Febriastuti yang dibimbing dosen Kimia Undip, Drs. Abdul Haris, M.Si berinovasi untuk mengatasi masalah pencemaran air sungai oleh limbah zat warna adalah pembuatan komposit TiO2/C-dot berbahan dasar kulit singkong (Manihot esculenta L.).

Ketua Tim, Kharisma menjelaskan, sejauh ini pemanfaatan singkong hanya terbatas sebagai bahan makanan pokok pengganti beras dan bahan mentah untuk berbagai produk olahan, sedangkan kulitnya seringkali dibuang. Padahal, kulit singkong mengandung senyawa pati yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon dalam pembuatan material karbon nanodot atau yang lebih dikenal dengan C-dot melalui metode hidrothermal.

Singkong merupakan material fotodegradasi limbah zat warna, khususnya senyawa methylene blue, di mana efektifitasnya diuji menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis.

“Keunggulan dari inovasi ini adalah proses pembuatan komposit TiO2/C-dot yang mudah, sumber bahan baku yang murah dan melimpah, serta peningkatan kemampuan fotodegradasi terhadap senyawa methylene blue, sehingga dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan limbah zat warna industri batik”, papar Kharisma.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa TiO2/C-dot mampu mendegradasi limbah insdustri tekstil dengan efektivitas hingga 96,99 persen, sehingga kulit singkong Cdot/TiO2 dapat dimanfaatkan sebagai penjernih limbah tekstil di sungai. (Ade Lukmono)

You might also like

Comments are closed.