#KULTUM: Bersyukur karena Gunung

Istimewa
Istimewa

Oleh: KH Amin Maulana Budi Harjono

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Semarang

SEDULURKU TERCINTA, Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw pernah menyatakan: “Gunung Uhud mencintai kita, kita pun mencintainya.” Gunung adalah sejak mula tempat Rasulullah saw “menyendiri”, dan di Gua Hira’ itu beliau menima wahyu, juga di Gua Tsur beliau berlindung dari kejaran musuh. Semua bernuansa gunung.

Dan ketika di Madinah,saat diserang orang-orang Makkah,j ua memakai strategi gunung, di Uhud itu. Bahkan ketika kekalahan melanda karena sebab orang-orang tidak “nggugu” komando Rasulullah saw agar jangan meninggalkan Gunung Uhud, hanya demi harta rampasan.

Tentu, soal gunung ini sebuah isyarat bahwa bukan hanya soal Gunung Uhud belaka, namun juga gunung-gunung yang ada di mana-mana, dan semua gunung gemunung itu tentu memberikan manfaat besar bagi lembah-lembah dan penghuninya, sehingga gunung itu disebut Rasulullah saw “mencintai” kita, dan kita pun harus mencintainya.

Bagaimana dengan mencintai gunung? Tentu dengan cara merawatnya, merawat dengan menumbuhkan segala yang ada, di sana. Soal penghargaan terhadap sesuatu yang memberi manfaat kepada kita, maka Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw pun menganjurkan untuk mencintainya, dan sangat bodoh bila ada tindakan semacam itu lalu secara sembrono dibilang “musyrik”, padahal itu ekspresi cinta tadi.

Indonesia adalah negeri di mana terdapat paling banyak gunungnya di dunia, bahkan paling banyak gunung berapinya. Dari gunung gemunung di Nusantara ini tentu semua orang tahu tentang “cinta” gunung itu kepada kita, terutama sebagai “paku” bumi itu. Disamping kemanfataan tak terkira dari gunung ini kepada manusia Indonesia. Sehingga di seluruh nusantara, gunung-gunung itu “diminiaturkan” oleh sebuah caping gunung, dan itu dijadikan “aling-aling” dari terpaan panas dan hujan bagi para pencinta tanah dan air, dimahkotakan di atas kepala.

Sampai juga, ada kidung Caping Gunung yang menjadi isyarat bahwa orang-orang musti tahu tentang cinta gunun-gunung itu kepada kita semua, kita musti tahu kemanfaatan apa saja yang bisa diambil dari gunung gemunung ini. Lalu pertanyaannya adalah: apakah kita juga mencintai gunung? Ternyata gunung-gunung itu tidak tinggal diam, gunung-gunung itu pernah menggesa, dan Rasulullah saw pernah menyatakan tentang itu, jerit gunung: “Ya Allah, orang-orang itu mengambil batu dari kami, mengambil pasir dari kami, mengambil air dari kami, mengambil sayur dari kami, mengambil bunga dari kami, mengambil kayu dari kami. Namun mereka tidak bersyukur kepadaMu, mereka tidak beribadah kepadaMu. Bagaimana kalau aku meletus saja agar mereka sadar.” Tuhan pun menahan jerit gunung itu: “Jangan, soal manusia ini biar Aku benahi, tenanglah.”

Menyaksikan gunung, tentu tidak berhenti menyaksikan orang-orang gunung. Orang-orang gunung ini bagi orang Arab di sebut “Arobi”, dan mereka dihormati Rasulullah saw, karena kejujurannya. Pernah Rasulullah saw itu dituding orang dusun: “Hai Muhammad! Adillah!”. Saat itu orang-orang mau marah namun Rasulullah saw melarang kemarahan sahabat,dan tersenyum sambil bilang: “Kalau aku tidak adil, lali siapa lagi?”

Dalam soal itu, tidak hanya dahulu, sampai kini jua. Ada penelitian, ketika dua mobil diletakkan di dusun gunung dan di kota. Maka Mobil yang di kota itu “mretheli” dicuri orang, sementara mobil di dusun gunung malah orang dusun yang menunggui mobil:agar aman. Dan ini merupakan indikasi yang jelas bahwa soal peradaban itu ternyata masih berpihak kepada manusia-manusia gunung. Kota sudah menjadi belantara, dan manusia-manusia sudah menjadi “binatang”.

Kawan-kawan,ternyata bukan saja soal material, namun dalam soal “agama”, ternyata di kota-kota itu, agama bukan lagi tempat untuk berteduh namun malah-malah menjadi ajang pertengkaran dari berbagai “aliran”,aliran “keras”. Dalam hal ini Gus Mus mengimbau agar “pola” keberagamaan kembali ke para sesepuh–yang baik di lembah atau di gunung, mengajarkan masyarakat untuk guyub, rukun. Disamping mereka semua tetap merawat “tanah dan air” ini, sehingga cinta tanah airnya tidak diragukan lagi. Sementara di kota banyak yang “bergincu” dalam keberagamannya, sehingga menjauhkan mereka cinta dari tanah airnya. (*)

You might also like

Comments are closed.