#KULTUM: Membahagiakan Sesama Sepenuh Cinta

Foto: istimewa
Foto: istimewa

Oleh: KH Amin Maulana Budi Harjono

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Semarang

SEDULURKU TERCINTA, orang mengira keberagamaan bisa ditampilkan hanya pernik-pernik tasbih dalam eksotika dzikir, keindahan sajadah dalam kekhusu’an sembahyang atau kemegahan jubah dalam performen hidup, keartistikan masjid, kemerduan lagu-lagu ruhani. Padahal keberagamaan seseorang itu lebih nampak terang dan nyata dalam bentuk pelayanan kepada kemanusiaan itu.

Di dada manusialah Dia bermahkota, terutama bagi sedulur-sedulur atau kita yang sedang hancur hatinya itu, tidak di tempat lain. Boleh saja orang berkali-kali pergi ke rumah Allah dalam bentuk ibadah haji, paling banter mereka menemukan ka’bah, padahal kalau orang mampu membahagiakan hati manusia–terutama yang menderita–maka orang itu akan menemukan bukan hanya sebuah ka’bah tetapi seribu ka’bah ada di sana [di hati manusia itu]–kata Rumi.

Bukankah parameter sebaik manusia adalah orang yang lebih bermanfaat bagi sesama manusia? Bukankah orang yang paling dicintai Allah adalah orang yang lebih berguna bagi sesama manusia? Bukankah pekerjaan yang paling disenangi Allah adalah tindakan yang bila ditunaikan akan membikin senang saudaranya? Bukankah agama-agama diturunkan sebenarnya adalah jemariNya untuk memandu manusia supaya menemukan kebahagiaan itu?

Dari sinilah sebenarnya manusia harus menyadari bahwa keberagamaan harus sampai pada sasaran puncak membikin senang (surur) saudaranya itu, mereka semua adalah keluargaNya ini–bahkan semua makhluk itu. Maka jadinya jangan syirik kalau orang mengaku beragama hanya nampak pada dataran ritual an sich atau ibadah mahdhoh itu, disebut oleh Tuhan sendiri sebagai “pendusta” agama, jangan marah kenyataannya begitu, mau apa?

Makna membela Tuhan itu di dalam perjuangan membahagiakan manusia, bukan saja dalam kemegahan upacara-upacara agama, karena Dia tidak berada di tempat-tempat ibadah itu, tetapi di dada manusia yang menderita Dia bermahkota, di sinilah sebutan khalifah itu sebenarnya, bukan di lembaga-lembaga agama yang tak peduli pada umatNya itu.

Coba carilah dimana mereka itu sekarang, ketika bencana menimpa? Di mana mereka itu? Ayo, dimana mereka itu? Di mana? Serta dimana orang-orang yang berkata membela rakyat itu? Di mana? Di mana? Dan aku lihat relawan-relawan itu ternyata orang-orang yang tidak punya apa-apa kecuali hati yang diserahkan sepenuhnya kepadaNya, dari merekalah Dia menitipkan kasih sayangNya itu.

Merekalah yang tidak takut mati, kaya tanpa harta, melabrak derita dengan diri sepenuhnya, sakti tanpa senjata dan menang tanpa merendahkan orang lain, dirinya wangi bagai bunga menebar aroma tanpa bicara, wangi tiada tara akhlaknya, dan aku tidak tahu lagi agamanya apa mereka itu, yang aku tahu adalah buah yang amat lezat di hati saudara yang menderita itu–mereka menjenguk Cinta.

Merekalah laskar Cinta sebenarnya, merekalah tentara Cinta sejatinya, merekalah pejabat Cinta sesungguhnya, merekalah ulama’ Cinta tulen sebagai pewaris NabiNya, merekalah polisi Cinta asli, merekalah hakim-hakim Cinta yang cepat keputusannya.

Kini saatnya model keberagaman yang memberi dan melayani harus ditegakkan, kesalehan bukan nampak hanya pada dataran bungkus luarnya tetapi pada tindakan nyatanya itu dalam menunaikan Cinta. Singkatnya kawan: jangan sekadar cinta agama, tetapi tegakkan agama dengan Cinta, di sinilah makna menjenguk Tuhan itu, sebenarnya. (*)

You might also like

Comments are closed.