#KULTUM: Menyemai Benih Kebaikan

Istimewa
Istimewa

SEDULURKU TERCINTA, rahasianya apa, para Sahabat Allah itu meninggalkan kenyamanan dan kenikmatan dunia yang sesaat dan terus menerus menghidupkan siang dan malam dengan ibadah (ritual dan komunal, mahdhoh dan mu’amalah) berdasarkan waktunya?

Hal ini tidak mengagetkan karena bagi pecinta kepadaNya menjadikan dunia ini “ladang” akhirat, dimana sesungguhnya Dia telah menjadikan dunia ini tunduk kepada manusia (bukan sebaliknya), dimana manusia sebagai hamba-hambaNya tetapi sekaligus hamba-hamba itu sebagai kekasihNya bila di dadanya ada penyakit abadi yang bernama “rindu” itu padaNya.

Dalam reposisi ini manusia tidak selayaknya menguasai dunia pada setiap aspek dan sudutnya, melainkan sekadar menjadi “batu asah” atas ketajaman cinta kepadaNya dan sekadar menjadikan dunia sebagai tempat tinggal sementara.

Urgensi dunia sebagai “ladang” ini tiada lain adalah tempat untuk menyemai benih-benih kebaikan, yang bibit-bibitnya terambil dari cabang-cabangnya iman–yang berjumlah 70 jenis atau lebih. Dari sinilah manusia mengambil perbekalan secukupnya, perbekalan yang akan membawa mereka menuju tempat tinggalnya yang permanen, melintasi surga dan bidadari, karena surga bagi para pecinta kepadaNya adalah kedekatan kepadaNya itu, bagai kedekatan dengan kekasih.

Bagi pecinta, tidak ada kebahagiaan, tiada keselamatan, tiada kemenangan tanpa perjumpa denganNya. Satu-satunya jalan menjumpaiNya adalah menghadapi kematian itu dengan dibalut rasa cinta kepadaNya. Kematian di sini bisa dua ranah, kematian nafsu tercela dan kematian fisik dalam rangka bersatunya jiwa dengan Sang Ruh itu. Setelah manusia selalu mengingatnya dengan cara terus menerus berfikir tentangNya, sifat dan af’alNya, bertafakkur ciptaanNya yang menakjubkan, lalu berfikir tidak ada wujud yang lain selain wujudNya, maka manusia akan memperoleh buah kecintaanNya ini.

Perbekalan ini akan membawa manusia sedemikian rupa sehingga ia selamat dari tipu daya dan muslihat dunia–yang urgensinya hanya sebagai batu asah cintanya itu. Jadinya, sejenak manusia di dunia ini bagian dari menempuh perjalanan panjang, setiap tahunnya adalah tempat pemberhentian, setiap detiknya adalah langkah dalam perjalanan ini. Sumber dayanya adalah “waktu”, amal ibadah dan taat sebagai “kekayaan”nya, hawa nafsu dan keinginan adalah para penghalang dan perampok dalam perjalanannya, lalu keuntungannya adalah “melihat dan berjumpa” denganNya, di Taman Kebahagiaan.

Kawan-kawan, memahami cinta sebenarnya tidak sulit asal memahami rahasianya ini–rahasia Cinta. Kesulitan itu ternyata bersumber dari diri ini yang terselungi oleh hawa sebagai penghalangnya, ia tidak berada di luar, tetapi berada dalam diri ini, ia tidak nampak tetapi bisa membebani sehingga panggilan Cinta demikian berat untuk kita lakukan. (*)

You might also like

Comments are closed.