#KULTUM: Selubung Cinta

Istimewa
Istimewa

Oleh: KH Amin Maulana Budi Harjono

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islah Semarang

SEDULURKU TERCINTA, cukup kiranya kita memahami Sabda Gusti Kanjeng Nabi Muhammad saw bahwa sesungguhnya Gusti Allah itu tidak melihat bentuk dan rupa namun melihat hati dan amal-amal. Sabda ini sebenarnya bisa membongkar segala jenis “label” yang cenderung mengurung dalam batas geografis nan sempit.

Tuhan saja menyatakan “laisa kamistslihi syai’un” atau Tan Kinoyo Ngopo,ini jelas-jelas sebagai sumbernya, dan tentu segala percikannya memiliki watak yang sama,universal.Kemudian bisa dirumuskan bahwa “bagian itu apresiasi dari keseluruhan”, sebagamana setetes air adalah juga air yang berasal dari Lautan, seberkas cahaya adalah berasal dari Sumber Cahaya, seorang manusia dalam segala warna kulitnya adalah dari nenek moyang Adam, makanya Tuhan menyatakan bahwa semua makhluk adalah keluargaNya.Air bisa digunakan oleh semua makhluk, sebagaimana cahaya, sebagaimana udara,sebagaimana,sebagaimana,semua adalah percikanNya.

Sebutan atau nama-nama atau label adalah juga anugrahNya, namun label-label itu jelas ketika dihadapkan dengan Gusti Allah tidak terpakai karena bentuk atau rupa itu semua akan kembali ke tanah, makanya Dia tidak melihat bentuk dan rupa tetapi melihat hati dan amal-amalnya.

Kalau begitu,soal geger gember label mustinya dipahami bersama bahwa semua itu tidak akan dipandangNya, kecuali hati yang mengusung Cinta dengan tindakan pelayanan-pelayanannya itu. Cinta adalah tindakan Tuhan yang paling dekat kita kenal, dan nama-nama itu merupakan selubung atau kulit yang sangat memalukan bila dijadikan alat pertentangan,karena semua nama-nama itu adalah milikNya, dari Dia.

Meremehkan setiap hal pada hakekatnya meremehkan Dia.Kalau diukur dari ini,maka betapa masih jauh perjalanan Cinta itu bila kita masih mengedepankan bentuk dan rupa serta nama-nama, sementara kita  dan segala yang ada merupakan pancaran dari RuhNya.

Jalan Cinta,inilah yang bisa mengubah keragaman menjadi Kesatuan,bisa mengubah jauh menjadi keterdekatan,bisa mengubah permusuhan menjadi persahabatan,bisa mengubah lawan menjadi kawan, bisa mengubah raja menjadi sahaya, bisa mengubah segalanya. Kenapa? Karena bukan label-label dalam bentuk dan rupa itu yang kita pandang namun melihat hati yang di sana Cinta bermahkota dan melihat mal-amal yang berguna bagi sesama makhlukNya ini. Dunia yang penuh pertentangan ini disebabkan karena tidak sadar akan misi-misi kenabian dan kerasulan yang mengusung tentang Cinta Tuhan di bumi, melalui keragaman bahasa yang ada.

Kawan-kawan, kita merindukan keberagamaan yang memahami bahwa Tuhan itu Esa melalui para Kekasih Hati dengan bahasa yang berbeda, Dia adalah pencipta segala sesuatu, Dia menciptakan makhluk, sama. Dia menciptakan dan memelihara jantera alam semesta melalui sabda-sabda yang dari langit itu,bagai hujan dari langit yang memberkahi bumi seisinya,dan semua yang tumbuh di bumi berguna bagi semua secara universal,dan menjadi sangat aneh bila manusia yang justru menjadi wakilNya di bumi dalam mengusung Cinta Dia malah sektarianistik, primordialistik, subyektifistik,dengan cinta yang menyempit tindakannya. Dia tidak melihat bentuk dan rupa namun melihat hati dan amalnya. (*)

You might also like

Comments are closed.