Lebaran Kurang 2 Hari, Pusat Oleh-oleh di Semarang Masih Sepi

METROSEMARANG.COM – Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kawasan pusat oleh-oleh Jalan Pandanaran Semarang tampak sepi pada dua hari jelang Lebaran. Ruas jalan Pandanaran yang biasanya dipadati kendaraan juga terlihat tak seramai biasanya.

Pusat Oleh-oleh di Jalan Pandanaran masih sepi pengunjung pada H-2 Lebaran 2017. Foto: metrosemarang.com/efendi mangkubumi

Sejumlah toko ternama yang biasa menjadi destinasi untuk membeli oleh-oleh khas Semarang maupun Jawa Tengah, juga tampak lengang. Salah satunya Toko Bandeng Juwana Elrina.

“Ini masih sepi, biasanya H-2 juga sudah ramai sampai penuh di toko,” ungkap Kepala Toko Bandeng Juwana Elrina, Yuniati, Jumat (23/3).

Yuni juga mengatakan, Lebaran tahun ini jauh lebih sepi dibandingkan dengan tahun 2016 lalu. Tahun lalu tokonya sudah dipadati oleh para pembeli bahkan sebelum dua hari jelang lebaran.

“Biasanya hari ini sudah ramai. Mereka yang datang membeli biasanya untuk dibawa sebagai oleh-oleh bagi sanak saudaranya,” katanya.

Selain itu, Yuni juga mengaku telah menambahkan stok bandeng sebagai persiapan menghadapi Lebaran tahun ini. Untuk stok bandeng jika pada hari biasa hanya menyediakan sebanyak 400 kilogram, menjelang Lebaran tokonya menambahkan hingga dua kali lipat.

“Dua kali lipat itu sudah campur beberapa jenis, tapi yang banyak biasanya duri lunak. Itu favorit para pembeli,” ujarnya.

Dijual mulai harga Rp 97 ribu perkilo, Yuni mengatakan bahwa Bandeng Duri Lunak paling banyak dicari sebab jenis itu masih bisa diolah menjadi menu makanan lain. Isinya pun bisa sampai lima sampai enam ekor.

Selain bandeng, lebih dari 300 jenis makanan khas Semarang lainnya seperti tahu bakso, lumpia, ganjel rel dan beberapa lainnya juga tersedia di toko tersebut.

Yuniati mengaku tidak bisa memprediksi kapan tokonya akan ramai seperti tahun lalu. Menurutnya hal ini terjadi karena bertepatan dengan libur sekolah yang lebih panjang.

“Biasanya pembeli dari luar Semarang mulai berdatangan satu atau dua hari pasca Idul Fitri, kebanyakan berasal dari Jakarta atau Bandung. Kalau dari luar Jawa gak tarlalu paham saya, tapi biasanya ada. Kelihatan dari plat mobilnya bukan B atau D,” pungkas Yuni. (fen)

You might also like

Comments are closed.