Lewat Puisi, Romo Budi Sesalkan Penolakan Bukber dengan Shinta Wahid

METROSEMARANG.COM – Heran tak habis mengerti
Kau bilang dadamu sesek
Bahkan menangis katamu untuk Sebuah Silaturahmi keberagaman

Yang Beliau kehendaki dan rancang dengan suudzon kupelintir
Bahwa itu mauku semata
akan tetapi kau bungkam 
saat dengan angkuh seseorang
bilang bahwa Bundamu 
yang bagiku Istimewa
mengacak-acak kacaukan aturan
merusak tatanan
bahkan kaulontarkan kalimat
yang tak pantas terucapkan
dengan berapiapi 
di kebenaranmu sendiri
di forum Terhormat 
dan bahkan
dihadiri banyak tokoh Terhormat..

Petikan puisi di atas merupakan salah satu karya dari Aloys Budi Purnomo Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, untuk menggambarkan penyesalannya atas aksi penolakan buka bersama dengan istri mendiang Gus Dur Shinta Wahid dari massa Front Pembela Islam (FPI) pada pekan lalu.

Romo Budi menjadi pembicara di acara Surau Budaya, Jumat (27/2/2015). Foto: metrosemarang.com/dok
Romo Budi menjadi pembicara di acara Surau Budaya, Jumat (27/2/2015). Foto: metrosemarang.com/dok

Romo Budi mengatakan bahwa tak ada satupun niatan untuk mencampuradukan aqidah. Menurutnya, buka puasa bersama dengan Shinta Wahid yang ia sebut sebagai ‘Bunda Istimewa’ itu semata merupakan acara yang diinisiasi oleh mantan ibu negara itu setiap tahun.

“Atas dorongan berbagai pihak, saya lalu membuat refleksi kronologis dan evaluatif atas pelaksanaan kunjungan Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid di Gereja Santo Yakobus Zebedeus Pudak Payung,” ujarnya dalam pesan pendek yang diterima metrosemarang.com, Kamis (23/6).

Ia pun menceritakan tiap detil pertemuannya dengan unsur ormas agar acara tersebut dapat terwujud dengan kondusif.

1. Sudah sejak 2011 saya sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung mendapat mandat dan kerja sama  dalam program Beliau tersebut. Dua kali mandat itu saya jalankan dengan bertanggunjawab dan baik dalam kerja sama dengan banyak pihak dalam rangka kerukunan umat beragama dan persaudaraan sejati. Itu terjadi di Tanah Mas dan Kebon Dalem Kota Semarang. Mandat yang sama saya terima lagi untuk Buka Bersama di halaman gereja dan pastoran Kristus Raja Ungaran, dijadwalkan, Kamis 16 Juni 2016, pkl 16.00-17.45 wib dengan tamu undangan untuk Pemda, Forkomindo, tokoh masyarakat setempat, kaum duafa: tukang ojek, buruh pabrik, anak jalanan, panti asuhan dan penyapu jalanan, total 500 orang plus panitia 40 orang. Konsumsi kami persiapkan 750 paket.

2. Untuk persiapannya, panitia sowan Bupati Semarang, Selasa, 31 Mei 2016 di rumah pribadi Ambarawa. Pada intinya Bapak Bupati mendukung dan siap hadir pada hari pelaksanaan. Beliau menyarankan agar panitia berkoordinasi dengan FKUB Kabupaten dan tokoh-tokoh lintas agama.

3. Bapak FX Pardiman sebagai Ketua Panitia berkoordinasi pula dengan pihak aparat keamanan. Pembicaraan dengan pihak Kodim di Salatiga menyatakan pihak Kodim mendukung. Koordinasi dengan Polsek dan Polres juga dilakukan namun belum ada kesempatan tatap muka.

4. Mengikuti nasihat Bapak Bupati Semarang, panitia berkoordinasi dengan tokoh-tokoh lintas agama Kabupaten untuk acara ini. Kami pun mengadakan rapat koordinasi bersama sejumlah tokoh lintas agama di ruang Yohanes Paulus II Paroki Ungaran, Jumat 03 Juni 2016, pukul 15.30 – 17.30 wib. Dalam rapat tersebut diambil keputusan kita siap melaksanakan mandat tersebut sesuai dengan tata cara yang disepakati yakni Buka Bersama di halaman pastoran dan gereja Ungaran dijalankan dengan tanpa acara pembacaan ayat suci Alquran,  adzan, dan shalawat. Yang dipersiapkan ada adalah musik rebana dengan tiga lagu: Perdamaian, Ilir-Ilir dan Indonesia Pusaka).

5. Pada hari Senin, (6/6), Kapolres Semarang datang menjumpai kami di pastoran setelah kami menunggu hampir tiga jam. Beliau meminta agar rencana acara dipindah dengan alasan keamanan. Kami sampaikan kepada Beliau bahwa kami tidak mempunyai wewenang untuk memindah lokasi sebab kami hanya menerima mandat dari panitia pusat di Ciganjur untuk program Ibu Shinta bersama Yayasan Puan Amal Hayati Jakarta yang mengusung visi misi kerukunan dalam keberagaman.

6. Hari Rabu, pukul 13.00-15.30 saya diundang di Kantor Pemda Semarang. Hadir dakam rapat itu beberapa orang FPI dan PCNU dan Muhammadiyah yang menolak acara Ibu Shinta. Bahkan, penolakan dari FPI disertai dengan “kalimat-kalimat yang tidak pantas” untuk seorang Ibu Negara ke-4. Alasan penolakan: program Ibu Shinta berbuka bersama di halaman gereja memicu keresahan, merusak kondusivitas, kerukunan dan toleransi yang selama ini sudah baik. Kecuali itu, kegiatan tersebut dianggap merusak dan melanggar aqidah keislaman.

7. Membaca suasana negatif itu maka dengan prinsip mengusung perdamaian saya berkonsultasi dengan Tim Ibu Shinta dan mengembalikan mandat tersebut. Akhirnya, tugas menyelenggarakan bukber di gereja Raja Ungaran pada Kamis, gagal kami laksanakan dengan alasan keamanan oleh sebab penolakan FPI dan beberapa ormas lain.

8. Setelah berkonsultasi dengan Panitian Pusat Ciganjur dan Ibu Shinta; kami diberi mandat dan atas persetujuan Ibu Shinta untuk memindahkan lokasi yang sesuai dengan harapan Ibu Shinta untuk Berbuka Bersama di halaman gereja Katolik seperti selama ini sudah terjadi. Maka kami putuskan berpindah ke Gereja Yakobus Zebedeus Pudak Payung.

9. Minggu, 12 Juni 2016, pukul 10.00 wib kami perwakilan pengurus gereja Pudak Payung beraudiensi dengan sesepuh warga masyarakat setempat, Haji Zaenuri untuk mohon nasihat terkait dengan kegiatan tersebut. Beliau menyambut baik dan mendukung rencana tersebut. Minggu malamnya diadakan rapat RT se-RW 04 Pudak Payung. Pada intinya nasyarakat warga dan tokoh masyarakat setempat dengan gembira menyambut rencana itu. Bahkan undangan kepada warga pun kami tanda tangani bersama (wakil gereja: Cahyono, wakil Islam: Haji Zaenuri dan saya sendiri).

11. Saat segala sesuatunya siap, pada Kamis, 16 Juni 2016, pukul sekitar  09.00 wib saya mendapat panggilan per telepon dari Kasatintel Polwiltabes Semarang. Saat saya tiba di lokasi bersama Ketua Panitia dan Penasihat kami di Lantai 2 gedung B, di situ sudah berkumpul sejumlah orang yang mengatasnamakan perwakilan ormas Islam termasuk FPI, Pemuda Muhammadiyah, Hizbutahir, Mualaf Center.

Shinta Nuriyah Wahid saat berada di Pudakpayung. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Shinta Nuriyah Wahid saat berada di Pudakpayung. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Acara Buka Bersama batal dilaksanakan di halaman gereja Ungaran juga batal dilaksanakan di halaman gereja Pudakpayung sebab harus dipindah lagi dalam tempo sesingkat-singkatnya ke balai desa Pudakpayung. Semua ini harus terjadi sebagai sikap mengalah kami kepada FPI dan ormas-ormas yang menolak kegiatan yang dirancang dan dilaksanakan Ibu Shinta.

Lalu, ia bilang tetap menerima kunjungan Shinta Wahid di gereja Katolik Pudakpayung dan berceramah. tapi buka bersama diadakan di balai desa tanpa pembacaan ayat suci Alquran dan adzan di halaman gereja. “Itu semua ditulis oleh petugas dari kepolisian dan saya tanda tangani serta ormas-ormas jadi saksinya,” katanya.

Di lain pihak, Ketua PWNU Jateng KH Abu Hafsin juga mengungkapkan hal serupa. Ia mengatakan “Saya sangat malu atas peristiwa ini,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.