Life of Pi: Adaptasi Keyakinan dan Alegori Perjalanan Batin

Ada yang lebih menakutkan daripada kekurangan makanan: apa yang terjadi jika Pi dan Richard Parker kelak berpisah?

KELUARGA Pi pemain sirkus. Mereka Berencana mau show ke Amerika, lewat jalur laut, bersama binatang pertunjukan sirkus. Dalam perjalanan, terjadi badai di lautan. Kapal hancur. Hewan-hewan lepas, banyak yang gagal-berenang, dan mati. Tinggallah Pi, zebra, hieyna, orangutan, dan harimau.

Pada kondisi “setelah-kehancuran”, Pi bertemu dengan jawabannya, atas keyakinan dan Tuhan, yang sering ia pertanyakan.

Harimau sirkus, hanya mau patuh pada makanan dan pelatihnya. Sementara, Pi bukanlah pelatih harimau itu. Di depan matanya, Pi menyaksikan zebra itu dikoyak Si Harimau, memenuhi rasa kenyang. Namun, rasa antara aman dan mencekam, berganti menjadi mencekam-sepenuhnya.

Makanan habis. Pi berhadapan dengan 2 pilihan tersulit: Pertama, bagaimana membunuh harimau itu, agar ia aman. Ataukah kedua, ia tetap berkawan dengan harimau itu.

Apa yang ia hadapi, begitu nyata: laut luas, tanpa kawan, dan kemungkinan besar ia akan mati. Tak lama lagi. Jadi, pada peluang yang sama-sama berakhir mati, apa salahnya mencoba mendidik harimau ini, agar bisa menjadi kawannya?

Pi tidak ingin mati kesepian. Pi tidak menyukai imobilitas. “Berhenti” itu lawan-kata dari “pencarian”. Mereka yang tidak mencari, tidak mengerti kedalaman pengalaman dan hidupnya hanya menjadi orang-lain.

Pi mulai beradaptasi, dengan musuhnya. pi dan harimau yang bernama “Richard Parker” itu, mulai berkomunikasi. Harimau ini bernama Richard Parker, karena dalam lembaran “daftar binatang”, terjadi kesalahan. Nama “Richard Parker” yang seharusnya berada di kolom Pemburu, tertukar dengan “Tiger” di kolom Binatang. Pi memanggilnya “Richard Parker”.

Sekarang, terjadi pula pertemuan yang tak-sewajarnya. Hewan buas yang berasal dari sirkus, dan Pi yang selalu mempertanyakan “kemanusian”nya sendiri. Hewan bertaring yang suka makan daging ternak (ikan laut bukanlah makanan Harimau), dan Pi yang hanya punya ikan mentah berlimpah, kalau ia bisa memancing. Harimau yang tak dapat berbicara dengan cara manusia, dan Pi yang selalu berbicara kepada langit, laut, Tuhan, dan dirinya sendiri.

Dan lama-kelamaan, Harimau itu berubah. Harimau itu mau menurut, pelan-pelan, mulai doyan makan ikan dan mengikuti aba-aba peluit Pi. Semula Pi belajar dari buku panduan “Cara Bertahan di Laut”, namun ia mulai mengabaikan panduan itu, sebab dalam buku itu tidak menyebutkan bagaimana menghadapi harimau di tengah laut.

Pi kehilangan buku panduan. Pi berbicara dengan Richard Parker, tentang keindahan laut. Keduanya duduk memandangi langit, tanpa pertikaian. Antara 2 sekawan di tengah lautan, mengatasi kesepian, merindukan daratan.

Apa yang dikatakan Pi, tentang Tuhan dan laut, adalah rasa rindu Pi untuk berbicara kepada kawan yang tidak bisa berbicara, selayaknya manusia. Seekor harimau yang kini menjadi penurut. Pi justru berada di puncak sepi, ketika menemukan sahabat baru yang dulunya adalah musuhnya, karena batin Pi menjadi lebih riuh.

Pi menjadi mengerti, apa itu kebinatangan. Mengapa “membunuh” bagi manusia sepertinya, berarti “makan” bagi Richard Parker. Bahwa tujuan adaptasi ternyata bukanlah “survival to be the fittest” (berjuang menjadi yang paling unggul).

Sedikit tahu, membawanya ke semakin tahu, dan semakin tahu membuatnya memahami. “Tahu” (to know) tidaklah sama dengan “paham” (to understand).

Badai datang, Pi memandu ketakutan Richard Parker. Pi menemukan jawaban, yang tak terkatakan, atas pertanyaannya tentang tuhan dan Kebenaran. Ketika badai datang dan badai itu membuat Richard Parker ketakutan, Pi berteriak, “Jangan takut, Richard parker. Keluarlah! Temui tuhanmu!”.

Dan selalu ada keindahan setelah badai terjadi.

Pada suatu hari, mereka sempat singgah di sebuah pulau, di mana lumut yang menempel, dapat dimakan, lezat sekali. Ada ribuan ikan yang siap-diambil. Pulau yang cantik dan perawan, hanya di malam hari.

Pulau itu menyimpan hal mengerikan: jika cahaya matahari datang, semua air berubah menjadi racun. demikian pula tetumbuhan di situ. Ada proses kimia alami, yang melibatkan cahaya matahari, yang memungkinan air di situ, berubah menjadi racun.
Seperti badai, pulau itu, hanya tempat singgah untuk melihat keindahan, sebentar sebentar saja.

Ada yang lebih menakutkan daripada kekurangan makanan: apa yang terjadi jika Pi dan Richard Parker kelak berpisah? Mereka punya harapan: bertemu daratan. Namun apa arti daratan itu bagi Richard Parker?

Pi dan Richard Parker berpisah di pulau berpenghuni manusia. Pi melihat tatapan perpisahan Richard Parker. Ttatapan harimau yang kurus, lapar, dan menuju perkampungan.

Apakah ia akan mendapatkan mangsa? Apakah Richard Parker justru menjadi bersikap lebih manusiawi? Apakah harimau itu akan melupakannya jika bertemu manusia yang lebih baik dalam melatih dan memberikan makanan? Ataukah harimau itu akan mati sejak sampai perkampungan karena diburu manusia?

Catatan di atas, baru setengah-jalan. Ceritanya masih panjang, dengan ending mengejutkan. Karakter Pi tua, mem-flashback cerita di atas, ketika berhadapan dengan petugas asuransi yang menyelidiki tenggelamnya kapal. Masih panjang kelanjutannya.

“Life of Pi” berbicara tentang adaptasi manusia yang menolak imobilitas. Sekalipun kamu ragu, jangan berhenti, namun jangan perlakukan agama dengan kebenaran-ilmiah sepenuhnya.

Imobilitas, tergambar di sepanjang adegan. Keluarga Pi akan show ke benua lain (untuk menunjukkan atraksi manusia dan binatang yang jarang dilihat di benua seberang?).

Kapal besar, hancur berkeping-keping dihempas badai, memaksa para penumpang menyelamatkan-diri ke sekoci dan harus hidup berdampingan, ini membuat penonton bisa membacanya sebagai “pengalaman pahit” agama-agama besar yang hancur karena pertikaian, atau pergulatan batin dari “jalan besar” menuju “aliran”. Dan mereka berada di tengah lautan.

“Life of Pi” adalah cerita tentang bagaimana “keyakinan” beradaptasi dengan “pikiran manusia”, bukan sekadar keraguan seorang manusia.

Adegan di atas perahu, memperlihatkan bagaimana zebra (di sebelah kanan Pi) serta orangutan dan hieyna (di sebelah kiri Pi) menjadi alegori pergulatan manusia “melawan” alam dan relativitas kebenaran. Pi adalah anak yang dibesarkan di lingkungan sirkus, tempat di mana perilaku binatang berdampingan dengan cara-manusia (binatang yang dilatih, diberi makan, dan jadwal pertunjukan oleh manusia pemelihara).

Pi sangat akrab dengan relativitas kebenaran, sebagaimana manusia yang mempertanyakan keyakinan, di mana ia harus nyaman dengan yang-tak-nyaman dan kebenaran-relatif.

Adegan lain, ketika Pi singgah di pulau algae. Pulau ini ada dan terjadi di tengah perjalanan. Pulau yang sepertinya hanya ada di dunia mimpi, atau pikiran kontemplatif. Pulau ini memiliki visual yang bikin orang speechless, ketika memandangnya, di mana apa saja bisa dimakan, bulan terpantul dari mata binatang, air begitu jernih, namun hanya di malam hari. Pada siang hari, terjadi “neraka”: air berubah menjadi racun.

Pi semakin mengerti, dunia ditentukan dengan cara manusia memahami dunia. Akhirnya, pulau itu hanya singgahan sementara.

Yang jelas, di akhir film, penonton tidak berhadapan dengan “bagaimana sebenarnya” kejadian yang menimpa Pi, tetapi pada pilihan: apakah kamu mempercayai cerita itu karena “saya” (Si Penutur) menceritakannya dengan runut, ataukah justru menganggapnya sepenuhnya alegori?

Pi, bilangan “irasional”, yang dikenal banyak orang dalam perhitungan luas lingkaran, merepresentasikan dunia-ilmiah yang sebenarnya penuh perkiraan. Sebagaimana golden mean, jarak bumi dan bulan, dst.

Justru idealitas yang ditawarkan dari perkiraan-perkiraan ini, menghasilkan banyak sekali temuan. Tidak ada lingkaran yang sesungguhnya, namun, “penampakan” dan “kreativitas” di balik lingkaran-ideal itulah yang sering mengantar kita kepada pemahaman tentang Yang Ideal dan melampaui kebenaran-relatif.

Secara visual, film ini berhasil menampilkan pergulatan batin seorang Pi, menghadirkan keluguan Pi dan Richard Parker, dan pahit-getirnya terdampar 7 bulan di tengah lautan.

Sudah banyak catatan tentang novel (dan film) “Life of Pi” dalam bentuk review dan infografik, termasuk analisis plot dan karakter di dalam cerita ini. Silakan baca novelnya atau tonton filmnya lagi. (*)

 

*) Penulis adalah webmaster, artworker, penulis, tinggal di Rembang dan Semarang
Artikel adalah kiriman dan dipertanggungjawabkan oleh penulis
You might also like

Comments are closed.