Lika-Liku “Sahabat” di Kampung Tenggang

Di kampung padat penduduk, di pesisir utara Kota Semarang, muda-mudi lintas perguruan tinggi berjibaku membuat perubahan. Jatuh bangun di jalan yang berlika-liku. Mereka tidak menyerah.

CUACA Kota Semarang sedang panas-panasnya. Anak-anak Kampung Tenggang menghentikan permainan di gang sempit RT 05/RW 07. “Bola” yang mereka pakai tercebur ke selokan. Permainan kembali dimulai ketika botol bekas kemasan air minum yang menjadi bola itu, dikeluarkan dari selokan.

Bilah-bilah kayu, entah bekas apa, kembali dipakai untuk mengoper botol kesana kemari.  Lanjut saja, meski “bola” berlumuran air rob yang amis bercampur air limbah rumahan, kombinasi yang menguarkan bau bacin.

“Main apa namanya, Dik?” tanya kami.

“Sembarang,” kata Dimas, salah satu dari anak-anak itu. Tidak perlu nama untuk membuat mereka tertawa girang sepanjang permainan. Menyenangkan melihat anak-anak itu bermain. Kendati juga miris, melihat kenyataan mereka hidup dikepung rob.

Sedang senang-senangnya kami menonton tingkah anak-anak itu, Musa dan Deviana Masita mendatangi kami. Hari itu Jumat. Dua mahasiswa itu bersiap membuka Rumah Belajar Impian, salah satu program yang digagas sebuah komunitas bernama Sahabat Tenggang.

Kami berbincang dengan Musa dan Deviana siang itu sebelum RUBI, sebutan mereka untuk Rumah Belajar Impian, dimulai.

 

RUBI, itu apa?
Deviana: Rumah Belajar Impian. Salah satu kegiatan komunitas kami, Sahabat Tenggang. Diadakan setiap Senin sore dan Jumat sore. Sahabat Tenggang sendiri konsen (berkonsentrasi – red) pada pendidikan anak-anak di lingkungan sini (Kampung Tenggang – red).

 

Memangnya kenapa dengan anak-anak di sini?
Deviana: Karakter anak-anak kampung ini cenderung keras. Banyak yang putus sekolah, bahkan dari SD. Kalau ditanya mimpinya mau jadi apa? Maunya jadi pengamen atau buruh pabrik. Cuma sebatas itu.

Sekitar lima tahun yang lalu, anak-anak di sini banyak yang, mohon maaf, hamil di luar nikah. Yang cowok itu putus sekolah, merokok, narkoba. Kami ingin mengubah mindset anak-anak di sini pelan-pelan, sejak dini.

 

Bagaimana caranya?
Deviana: Sahabat Tenggang memiliki beberapa kegiatan selain Rumah Belajar (RUBI). Kelas Wisata Edukatif, itu biasanya kami lakukan dua kali setahun, saat liburan semester anak-anak. Ada juga Kelas Religi, biasanya pas bulan puasa. Kami buka puasa bersama dan mengaji. Kelas Inspirasi yang diisi dengan mengajarkan prakarya dan pengenalan profesi. 

Kampung Tenggang berada di Kelurahan Tambakrejo, kelurahan paling ujung utara dari wilayah Kecamatan Gayamsari. Pada tahun 2016 jumlah penduduk tercatat oleh Badan Pusat Statistik, mencapai 10.067 jiwa. Sebagian besar penduduknya bekerja sebagai buruh pabrik, sebanyak 3.141 orang. Kelurahan Tambakrejo memiliki luas wilayah 74,58 hektare yang rawan digenangi banjir rob.

 

Kenapa memilih Kampung Tenggang?
Deviana: Founder yang mencetuskan adalah sepupu saya, mahasiswa Hubungan Masyarakat UNDIP. Dia salah satu anggota Forum Indonesia Muda, berasal dari kampung sini juga. Dia gelisah melihat kampung asalnya ini. Lalu ingin membuat perubahan, khususnya pada anak-anak.

Forum Indonesia Muda adalah gerakan kaderisasi kepemudaan yang didirikan oleh Elmir Amien dan Siti Markhamah Fauzie pada tahun 2003. Merupakan forum aktifis yang menyelenggarakan kepemimpinan dan pendidikan karakter.

 

Bagaimana Sahabat Tenggang dibentuk?
Deviana: Awalnya sahabat tenggang itu bukan rumah belajar, tapi rumah baca. Diinisiasi oleh dua organisasi, yaitu Sahabat Pulau dan Forum Indonesia Muda. Sahabat pulau yang sudah ada di berbagai pulau di Indonesia, ingin membuka chapter di Kota Semarang. Lalu Sahabat Pulau joinan (bekerja sama) dengan Forum Indonesia Muda regional Semarang.

Nah, dari situ berdirilah rumah baca. Dulu niatnya agar anak-anak mau membaca. Agar warga sadar budaya membaca. Kami juga pingin berkontribusi buat Kota Semarang dalam lingkup kampung marjinal.

Sahabat Pulau adalah organisasi berbasis aksi kepemudaan yang didirikan tahun 2011 oleh Hendriyadi Bahtiar, relawan yang memperhatikan anak-anak pesisir. Berfokus kepada penyelesaian masalah pendidikan, melibatkan pemuda dan anak-anak di seluruh Indonesia.

Kami mulai berkegiatan sekitar Maret 2013. Dulu tempatnya di rumah embah (nenek) saya. Berhubung embah saya sudah sepuh (tua), dan anak-anak ya.. tahu sendiri kan anak-anak pasti ramai. Karena takut mengganggu maka kami pindah ke mushala. Di mushala itu, sebelum Maghrib harus sudah selesai.

Kemudian kami merasa tidak enak kalau belajar di mushala. Lalu bapak saya memutuskan untuk menyediakan sebagian ruangan di rumah kami sebagai tempat belajar yang sampai saat ini kami pakai.

Nama Sahabat Pulau di Semarang berganti dengan Sahabat Tenggang pada kemudian hari. Seiring dengan berkurangnya relawan dari Sahabat Pulau yang berkontribusi di Kampung Tenggang

 

 

Setelah rumah baca berdiri, langsung ada yang datang?
Deviana: Tidak. Tahun-tahun awal, kami harus door to door minta anak-anak datang. Tapi lama kelamaan, adik-adik tanpa disuruh datang sendiri setiap Senin dan Jumat, juga setiap ada kegiatan.

 

Siapa saja yang datang?
Deviana: Ada beberapa anak yang belum sekolah. Biasanya kita ajarkan pengenalan huruf-huruf. Ada anak TK, lalu SD kelas I sampai kelas VI, ada juga yang SMP. Jadi anak SMP yang belajar di Tenggang ini dulunya pas SD sudah belajar di sini. Mereka mengikuti dari awal.

 

Ada kendala lain?
Deviana: Ada. Kendalanya lebih ke lingkup masyarakat, dari orang tua dan warga di sini. Banyak penduduk kampung sini yang mengira kalau para volunteer dan penyedia tempat belajar mendapatkan fee dari luar. Padahal tidak sama sekali. Kami ikhlas pingin mengubah mindset orang-orang di Kampung Tenggang, supaya lebih peduli pendidikan.

Terkadang saya sedih kalau diomongin seperti itu. Karena faktanya kita tidak seperti apa yang mereka fikirkan. Namun akhir-akhir ini mereka sudah mulai terbuka. Karena mungkin adik-adik sendiri yang memberikan penjelasan ke orang tuanya.

Musa: Mengondisikan adik-adik di sini agak susah. Menyuruh mereka untuk diam dan berdoa sebelum memulai kegiatan, juga agak kesusahan sih. Dibutuhkan juga volunteer pengajar yang cukup memadai.

 

Siapa saja yang mengajar di sini?
Deviana: Kebanyakan teman-teman mahasiswa. Mereka dari UNDIP (Universitas Diponegoro), USM (Universitas Semarang), UNISSULA (Universitas Islam Sultan Agung), UDINUS (Universitas Dian Nuswantoro), UNNES (Universitas Negeri Semarang). 

Deviana Masita adalah mahasiswi Jurusan Administrasi Perkantoran, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UNDIP. Sedangkan Musa adalah mahasiswa jurusan Pendidikan Matematika UNISSULA. Selain mengajar, keduanya menjalankan fungsi hubungan masyarakat dalam kepengurusan Sahabat Tenggang.

 

 

 

Berapa jumlah pengajar Sahabat Tenggang?
Deviana: Kalau dari lima tahun yang lalu mungkin ada sekitar 30 pengajar. Tapi kalau untuk kepengurusan saat ini ada sekitar 15 orang. Pada tahun-tahun awal, banyak kawan dari UNDIP. Karena memang pencetus Sahabat Tenggang dari sana (UNDIP). Tapi karena mungkin kampus UNDIP yang letaknya jauh dari Tenggang, jadi saat ini mayoritas mahasiswa UNISSULA yang banyak membantu mengajar.

 

Jumlahnya pengajarnya menyusut?
Deviana: Iya. Dulu awal-awal ada 60 orang volunteer dari Sahabat Pulau. Lama-lama ngilang volunteernya. Sisa satu orang, ditambah tiga orang dari Forum Indonesia Muda.

Lalu mereka usul agar nama Sahabat Pulau diganti saja, karena melihat sudah tidak ada anggotanya yang ikut berkontribusi. Lalu digantilah dengan nama yang sampai sekarang dipakai, Sahabat Tenggang. Karena letaknya di Kampung Tenggang dan supaya lebih familiar sama warga.

Musa: Karena banyak mahasiswa yang jadi pengajar, kegiatan ini sering tabrakan dengan jadwal kuliah.

 

Pernah mengajak teman untuk jadi pengajar di Sahabat Tenggang?
Deviana: Saya biasanya suka share kegiatan di media sosial pribadi saya. Ada beberapa teman yang bertanya. Namun banyak juga yang akhirnya menyerah dan tak kembali datang mengajar. Ya, memang untuk urusan yang seperti ini harus niat dari dalam hati sendiri.

 

Ada syarat khusus untuk jadi volunteer?
Musa: Nggak ada. Kami terbuka untuk siapapun. Yang penting punya niat mau mengajar dan juga sabar aja gitu. Soalnya anak-anak disini agak, ya…begitu. Omongannya kadang keras. Siap-siap mental saja.

 

Bagaimana sistem mengajarnya?
Musa: Random, terserah adik-adik mau belajar apa. Kami coba turuti, tapi nggak semata-mata langsung memberikan apa yang dimau. Misalnya pelajaran matematika, ya diajarkan dulu prosesnya.

Biasanya dibagi, setiap satu mata pelajaran, satu volunteer. Atau dibagi setiap kelas untuk satu volunteer. Misal ada volunteer yang bisa Bahasa Inggris atau Bahasa Jawa, bisa diserahkan ke dia. Jika volunteernya banyak, ya dibagi menjadi kelompok kecil. Tapi kalo lagi kurang volunteernya, mau gak mau satu volunteer bisa dua sampai tiga mata pelajaran.

Kami sering membahas PR mereka dari sekolah, sebagai pancingan. Kami juga mengajarkan sikap sopan satun. Membuang sampah pada tempatnya, memberi salam ke orang yang lebih tua. Kami berikan contoh agar mereka mau mempraktikkannya.

 

Bagaimana cara kalian mempertahankan Sahabat Tenggang supaya tetap berdiri?
Deviana: Kami mencari donasi. Dengan ngawul (menjual pakaian bekas – red). Atau dengan open donasi.  Ada juga kerja sama bareng mahasiswa, itu lo kan biasanya dikasih kenang-kenangan.

 

Ada dukungan logistik dari pemerintah?
Deviana: Belum ada. Biasanya sih bantuan kami dapat dari personal. Atau dari beberapa komunitas lain yang datang.

 

Pemerintah sudah tahu keberadaan Sahabat Tenggang?
Deviana: Sebetulnya sudah tahu. Sahabat tenggang tergabung dalam Forkom PSP, Forum Peduli Sosial Pendidikan se-Kota Semarang. Dulu diinisiasi oleh salah satu anggota DPR RI, Bu Yayuk Basuki. “Ayo bentuk Forkom, jadi semua komunitas di Kota Semarang bisa saling sharing,” begitu katanya.

Nah dulu pernah kami mengadakan kegiatan dan dihadiri oleh Pak Hendi (Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi – red). Jadi sebetulnya (pemerintah – red) sudah tahu.

 

Buku-buku dari mana?
Deviana: Pas awal kami dapat dari komunitas LENSA (Lentera Nusantara), ada 1000-an buku. Lalu dulu Forkom PSP Semarang pernah mengajukan proposal permohonan buku ke pemerintah dan memberikan buku kepada beberapa komunitas baca. Ada juga beberapa donasi dari temen-temen mahasiswa.

 

Kalian ingin pendidikan di Semarang seperti apa?
Deviana: Kami pemerintah lebih memperhatikan pendidikan di Kota Semarang. Memperhatikan sarana dan prasarana sekolah. Salah satunya di SDN Tambakrejo 03, sekolah adik-adik Sahabat Tenggang ini, kondisinya memprihatinkan. Sering terkena rob. Bangunannya juga lapuk, jadi genting-gentingnya juga rapuh dan keropos.

 

Reporter: Fitria Eka Mawardie
Editor: Eka Handriana
Videografer: Efendi

 

You might also like

Comments are closed.