Lindungi dari Bahaya Gadget, PKS Ajak Anak-anak Main Dolanan Tradisional

METROSEMARANG.COM – Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional (HAN), PKS Tembalang dan Candisari mengajak anak-anak kader untuk bermain dolanan tradisional di lapangan Meteseh, Tembalang, Minggu (23/7). Dolanan tradisional dinilai lebih dapat membantu membentuk karakter anak sesuai dengan budaya ke Indonesiaan yang mencintai kebersamaan dan saling menyayangi.

Permainan Tradisional diyakini bisa menjauhkan anak dari pengaruh negatif gadget. Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Permainan tradisional yang mayoritas diikuti oleh anak-anak ini di antaranya lempar bola, balap batok, tembak-tembakan dengan pistol kayu, dan banyak permainan lainnya. PKS bekerja sama dengan Republik Dolanan yang dikomandoi oleh Mas Ipoel dari Jogja. Mas Ipoel adalah pendiri komunitas LIDI (Lingkar Inspirasi Dolanan Indoensia). Sebanyak 50 anak heboh mengikuti permainan ini.

Ketua Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga (BPKK) PKS Kota Semarang Rita Rhoy Kana mengatakan, bahaya gadget cukup membuat khawatir para orang tua, karena terlalu banyak konten yang sulit untuk dapat disaring. Untuk itu, dalam rangka menjaga anak, PKS membuat langkah nyata dengan mengenalkan anak dengan dolanan tradisional.

“Ini langkah nyata PKS melihat anak mulai ketergantungan dengan gadged, kita coba kenalkan dengan permainan tradisional ini, dan ternyata anak-anak juga sangat menyukainya,” terang Rita.

Rita menjelaskan, permainan tradisional ini justru lebih mendidik terutama mendidik karakter anak. Dolanan tradisional bisa melatih anak untuk lebih berjiwa sosial karena ia harus berinteraksi dengan anak yang lainl. Juga membangun kebersamaan seperti budaya kebangsaan Indonesia.

“Karakter sebagai anak bangsa Indonesia sebenarnya justru akan tumbuh dengan dolanan tradisional ini, karena mereka harus berinteraksi dengan anak yang lain, berarti tidak individualis, dilatih bekerjasama dengan tim yang berarti melatih mereka dalam hal persatuan, ada menang dan kalah, membiasakan diri mereka untuk bertoleransi,” ungkapnya.

Rita menambahkan akan mengupayakan agar dolanan tradisional ini di terapkan di program Rumah Keluarga Indonesia di seluruh Kota Semarang yang sudah launching hingga tingkat kelurahan. Rumah Keluarga Indonesia adalah program pendidikan keluarga dan anak untuk memperkuat ketahanan keluarga terutama menghadapi era baru. (duh)

You might also like

Comments are closed.