Lingga dan Yoni Raksasa Ditemukan di Cangkiran

Beberapa bagian dari situs candi Hindu yang ditemukan di Kelurahan Cangkiran, Mijen. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya
Beberapa bagian dari situs candi Hindu yang ditemukan di Kelurahan Cangkiran, Mijen. Foto: metrosemarang.com/ilyas aditya

 

METROSEMARANG.COM – Penemuan situs candi di Kampung Duduhan, Mijen yang dieskavasi oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PPAN) pada 25-29 September 2015 lalu, membuka tabir misteri adanya peradaban kerajaan Hindu di Kota Semarang. Tak hanya di Duduhan, situs candi Hindu juga ditemukan di Kelurahan Cangkiran Mijen.

Beberapa situs candi serupa ternyata juga bisa ditemui Kecamatan Mijen. Seperti terkuaknya sebuah situs candi yang terletak di Kampung Tempel, Kelurahan Jatisari. Candi berukuran 5×5 meter tersebut masih lengkap dengan beberapa arca seperti yoni dan sapi tunggangan Siwa, Andini. Jaraknya pun tak jauh dari candi di Duduhan.

Masih di Kecamatan Mijen, tepatnya di RT 2 RW 3 Kelurahan Cangkiran, ternyata juga pernah ditemukan situs candi Hindu, dengan ukuran jauh lebih besar. Bahkan, hingga saat ini arca seperti lingga dan yoni masih tersimpan dan terawat tepat di lokasi penemuan.

Warga setempat, Sunar (65) mengatakan, situs candi yang berjarak hanya beberapa meter dari rumahnya tersebut sudah diketahui sejak lama. Namun, oleh warga sekitar baru dilakukan penggalian sekitar tahun 1975.

“Saya ikut menggali. Dulu yang kelihatan itu cuma lingga-yoninya sedikit, lainnya masih terpendam. Hanya beberapa yang berhasil diangkat. Oleh warga dirawat di sini,” kata Sunar saat berbincang dengan metrosemarang.com, Jumat (6/11) siang.

Namun demikian, arca lingga-yoni yang berhasil diangkat oleh warga tersebut berbeda dengan yoni yang ditemukan di Tempel. Perbedaan tersebut terletak pada ukurannya yang jauh lebih besar atau bisa dibilang raksasa. yakni dengan tinggi sekitar satu meter lebih.

Kini, lingga-yoni tersebut tersimpan dan terawat tepat di belakang sebuah mushola. Warga pun membuat pagar untuk melindunginya dari oknum yang tidak bertanggung jawab. “Dulu pernah mau dibawa ke kota, tapi warga tidak boleh. Ini juga salah satu sejarah desa ini,” tandas Sunar. (yas)

You might also like

Comments are closed.