Lokalisasi Gambilangu, Berawal dari Kamar Bu Jaenah

Ilustrasi
Ilustrasi

 

GAMBILANGU yang biasa disingkat dengan sebutan GBL ini dulunya merupakan permukiman kumuh yang hanya dihuni segelintir orang. Salah satunya adalah Bu Jaenah, yang diyakini menjadi cikal bakal lahirnya Lokalisasi Gambilangu.

Sebelum menjadi tempat lokalisasi daerah Gambilangu ini mungkin merupakan tempat pemukiman kumuh yang awalnya dihuni oleh beberapa orang. Rumah-rumah yang didirikan juga sangat sederhana sekali, masih berupa bangunan-bangunan dari gedeg yang belum permanen.

Pada tahun 1970-an Gambilangu masih berupa sebuah hutan atau alas kecil yang daerahnya berbukit-bukit, masih banyak tegalan-tegalan, pohon-pohon besar dan binatang-binatang liar seperti babi hutan. Para penghuni di sana membuka lahan atau tanah dengan membabat hutan untuk tempat tinggal mereka. Mereka membeli tanah pada saat itu dengan harga yang murah sekali.

Penghuni daerah ini pertama kalinya adalah Bu Jaenah yang tinggal di daerah yang sekarang termasuk dalam Dukuh Rowosari Atas. Rumahnya yang sederhana kerap disewa sebagai tempat untuk menginap oleh para tamu yang membawa wanita kemudian melakukan hubungan seksual di sana.

Karena dianggap mendatangkan rezeki, lama-lama banyak yang meniru “usaha” Bu Jaenah. Penghuni baru berdatangan. Banyak di antara mereka adalah gali, preman dan orang-orang bermasalah. Para penghuni di antaranya adalah Pak Slamet Prayitno, Rochim, Dakir dan lain-lain.

Mereka ini datang dan menetap di sana pada sekitar tahun 1971 dan 1972. Orang-orang ini adalah termasuk para pembuat masalah atau gali meskipun Slamet adalah seorang polisi. Setelah masuknya tiga orang, dimulailah sejarah Gambilangu sebagai tempat pelacuran liar.

Di Lokalisasi Gambilangu dulu mempunyai anak-anak asuh atau pekerja seks yang patuh dan taat kepada mucikari atau gemonya. Setiap germo rata-rata mempunyai 5 orang anak asuh dan tinggal dalam satu rumah dengan germonya tersebut. Mereka membagi pendapatan mereka separuh-separuh dengan germonya tersebut. Rata-rata tarif sekali kencan dengan pelacur di Gambilangu sampai tahun 1980-an adalah Rp 3.000 sampai Rp 5.000. Ini adalah tarif pelacur kelas rendah. Sedang tarif untuk pelacur kelas menengah adalah sekitar Rp25.000-Rp 30.000 per transaksi.

Semarak

Sekarang tarif rata-rata di Gambilangu antara Rp 100.000 – Rp 150.000 per transaksi. Pendapatan para pekerja seks ini tidak hanya melulu dari hasil “ngamar” dengan konsumen tetapi juga dari “saweran” apabila mereka menemani tamunya karaoke. Umumnya besar kecilnya jumlah uang saweran yang diberikan kepada setiap pekerja seks oleh tamu berbeda-beda atau tidak mesti tergantung lama sebentarnya menemani mereka berkaraoke, tetapi tergantung juga dari pintar atau tidaknya mereka merayu tamu untuk memberi uang lebih.

Selama berkaraoke atau bernyanyi para tamu ini biasanya diselingi dengan minum minuman keras atau mabuk. Jarang sekali mungkin ada tamu yang tidak mabuk pada saat berkaraoke di Gambilangu. Rata-rata ongkos untuk berkaraoke di dalam kompleks lokalisasi Gambilangu sebesar Rp 30-50 ribu per jam.

Adanya karaoke inilah yang membuat kompleks lokalisasi Gambilangu menjadi semarak setiap hari. Dari pagi umumnya sekitar pukul 09.00 sampai 23.30 WIB terdengar selalu dentum suara musik karaoke dengan suara penyanyinya yang beragam. Keadaan ini tidak jauh beda dengan pasar malam, hanya bedanya tidak hanya terjadi pada saat malam hari tetapi juga pada siang hari dan terus berlangsung setiap hari. Karaoke itu mengalami jeda atau tidak boleh dibunyikan khusus pada setiap hari Jumat dari pagi sampai pukul 13.00 atau berakhirnya sholat Jumat baru karaoke boleh dimainkan.

Selain itu juga karaoke akan off saat magrib selama satu jam dari pukul 17.30 sampai pukul 18.30 WIB. Ini bertujuan untuk menghormati mereka yang mau melakukan ibadah sholat Jumat dan ibadah sholat magrib. Ini agaknya menjadi peraturan umum dan tidak tertulis di dalam kompleks lokalisasi dan selalu ditaati meskipun tidak menutup kemungkinan kadang-kadang dilanggar juga oleh mereka.

Pada tahun awal reformasi yaitu 1999 terjadi peristiwa di Gambilangu Kendal. Peristiwa tersebut karena adanya eforia reformasi yang menginginkan ditutupnya kompleks lokalisasi Gambilangu Kendal oleh pihak-pihak yang mengatasnamakan dirinya kelompok kaum agamawan. Sempat terjadi bentrok antara kelompok kaum agamawan dengan penduduk sekitar yang mempertahankan lokalisasi. (MS-08)

You might also like

Comments are closed.