Lokalisasi SK Diusulkan Jadi Wisata Religi dan Kuliner

Makam Soen An Ing yang berada di tengah Kompleks Sunan Kuning. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

SEMARANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang telah menargetkan akan menutup lokalisasi Sunan Kuning (SK) pada akhir tahun 2018. Namun, Komisi D DPRD Kota Semarang mengusulkan agar lebih baik lokalisasi SK dialihfungsikan menjadi kawasan wisata religi dan kuliner.

 

‘’Di kawasan yang menjadi resosialisasi Argorejo itu ada situs budaya makam Sun An Ing dan makam Mbah Banteng. Kalau kemudian ditutup, kami mengusulkan agar diubah menjadi kawasan ekonomi berbasis masyarakat, misal kawasan wisata religi dan kuliner,’’ kata Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Laser Narindro,  di balaikota, Jumat (20/4).

 

Ia yakin, dengan alih fungsi menjadi kawasan wisata religi dan kuliner maka akan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Karenaitu, dia meminta Pemkot Semarang tidak menutup total kawasan lokalisasi SK sehingga tidak ada aktifitas apapun lagi.

 

‘’Yang ingin Pemkot Semarang hilangkan itu kan praktik tindak ilegalnya di antaranya praktik portitusi dan kegiatan pendukungnya seperti karaoke, bukan kegiatan ekonomi masyarakat seperti rumah makan, warung klontongan dan lainnya,’’ ujar politisi Partai Demokrat ini.

 

Laser menyadari, penutupan lokalisasi SK tersebut berdasarkan instruksi Menteri Sosial yang tertuang dalam Peraturan Menteri Sosial (Permensos) terkait penutupan lokalisasi di Indonesia yang ditarget sampai 2019. Sehingga selain SK, lokalisasi Gambilangu juga akan terdampak.

Mengenai rencana penutupan tersebut, Komisi D DPRD selaku mitra dari Dinsos Kota Semarang juga sudah bekoordinasi dengan Pemkab Kendal terkait lokalisasi Gambilangu dan para pekerja seks komersil (PSK) yang beroperasi di kawasan tersebut.

Hanya saja, kata Laser, alih fungsi lokalisasi SK dan Gambilangu tersebut sampai saat ini masih dalam tahap kajian oleh Pemkot Semarang melalui Dinsos dan Bappeda Kota Semarang.

“Pada saat kami konsultasi dengan Kemensos, pihak Kemensos juga sudah siap memfasilitasi alih fungsi tersebut. Mulai dari tahap perencanaan, sosilisasi hingga tahap pelaksanaan. Terkait output dari alih fungsinya seperti apa nanti akan dituangkan dalam kajian tersebut,” jelasnya.

Ia menambahkan, permasalahan kesehatan seperti HIV AIDS yang ada di lokalisasi SK maupun Gambilangu, nantinya akan dicarikan solusinya agar penyebaran penyakitnya tidak menyebar. ‘’Yang terpenting, bagaimana pemanfaatan kawasan tersebut setelah dilakukan penutupan,’’ tandasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.