LPTK se-Jateng dan USAID Bahas Peningkatan Kualitas Guru

Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman saat lokakarya pengembangan LPTK se-Jawa Tengah bersama USAID di Hotel Grand Candi, Selasa (17/11). Foto: metrosemarang.com/dok unnes
Rektor Unnes, Prof Fathur Rokhman saat lokakarya pengembangan LPTK se-Jawa Tengah bersama USAID di Hotel Grand Candi, Selasa (17/11). Foto: metrosemarang.com/dok unnes

METROSEMARANG.COM – Untuk melahirkan guru-guru yang berkualitas diperlukan sinergi dari berbagai pihak. Perguruan tinggi, pemerintah pusat, dan pemerintah daerah harus menjalin kemitraan dengan masyarakat dan elemen bangsa lainnya.

Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Prof Dr Fathur Rokhman saat lokakarya pengembangan LPTK se-Jawa Tengah bersama USAID di Hotel Grand Candi, Selasa (17/11).

Prof Fathur mengungkapkan, sebagai Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Unnes menggandeng sejumlah pihak Unnes tak bisa bekerja sendirian dalam meningkatkan kompetensi guru.

“Memang di LPTK para calon guru dididik. Namun setelah mereka berkarier sebagai pendidik, mereka berada di bawah binaan pemerintah pusat. Adapun usernya adalah pemerintah daerah,” katanya.

Saat ini, Unnes telah mengembangkan berbagai fasilitas untuk menunjang peningkatan kualitas calon guru. Satu di antaranya adalah mengembangkan pola pendidikan berbasis asrama. Menurutnya, melalui asrama, proses pendidikan dapat berlangsung selama 24 jam. Mahasiswa tak hanya memeroleh keterampilan pedagogis, tetapi juga nendapatkan pembinaan karakter.

Fathur mengatakan, peran lembaga nonpemerintah seperti USAID sangat penting. Lembaga nonpemerintah dapat memberikan kajian alternatif sebagai dasar untuk menentukan kebijakan bagi pemerintah.

Direktur USAID Indonesia, Mark Heyward mengungkapkan, dari riset yang dilakukannya, ditemukan adanya penumpukan guru pada satu daerah. Juga kekurangan guru di daerah yang lain. Dia menyarankan agar pemerintah melakukan penataan kembali.

Selain itu, dia juga merekomendasikan agar pemerintah melakukan penggabungan (merger) sejumlah sekolah sebagai langkah efisiensi. Dia menyebutkan, ada sejumlah 526 sekolah yang bisa digabung menjadi 263. Menurutnya, ada 105 sekolah isolasi yang menggunakan kelas rangkap.

Dengan langkah itu, menurut Mark akan ada efisiensi hingga Rp 7,6 trilun dalam 10 tahun. (arf)

 

 

You might also like

Comments are closed.