Mabuk Pembalut Wanita, Korban Lion Air dan Target Bebas Banjir

Biasanya selain dioksin, dalam polimer itu juga ada formalin. Jelas zat-zat seperti itu kalau dikonsumsi sangat berbahaya bagi tubuh

SEJUMLAH remaja di Jawa Tengah terendus mengonsumsi air dari rebusan pembalut wanita untuk memperoleh sensasi “fly”. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jawa Tengah mendeteksi usia mereka antara 13 tahun hingga 16 tahun. Mereka tersebar di pinggiran Purwodadi, Kudus, Pati, Rembang, hingga Kecamatan Semarang Timur.

Tak hanya di Jawa Tengah, kasus ini juga terjadi di Jawa Barat dan Yoyakarta. “Dulu mereka kerap mengorek-orek tempat sampah untuk mencari pembalut bekas di tempat-tempat sampah lalu direbus. Tapi kini sudah menggunakan pembalut baru. Pembalut itu kan ada gelnya yang berfungsi menyerap darah haid, itu yang bikin fly,” ungkap Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Jawa Tengah, AKBP Suprinarto.

Guru Besar Ilmu Kimia Universitas Diponegoro, Profesor Heru Susanto, mengungkap ada senyawa di dalam pembalut wanita yang membahayakan tubuh jika ditelan. Adalah senyawa dioksin yang bisa menurunkan sistem imunitas tubuh hingga memicu kanker.

Tidak semua pembalut mengandung dioksin. “Tapi biasanya selain dioksin, dalam polimer itu juga ada formalin. Jelas zat-zat seperti itu kalau dikonsumsi sangat berbahaya bagi tubuh,” kata Heru, Rabu (8/11/2018).

Penyalahgunaan pembalut wanita itu diduga karena dorongan untuk bisa merasakan efek mabuk/fly di tengah keadaan ekonomi yang tidak memadai. Kendati kabar tersebut cukup menggemparkan, namun Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani tidak mengetahuinya hingga pekan lalu.

Ia menyebut pihaknya belum mendapat laporan. Hal yang sama juga diungkapkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Keduanya menghadiri acara Sosialisasi Wajib Paud dan Penguatan Nilai-nilai Revolusi Mental di Balai Kota Solo, Jumat (9/11/2018). “Saya belum mendapat laporan, nanti saya cek terlebih dulu,” ujar Muhajir sembari meninggalkan kerumunan wartawan.

 

Korban Lion Air

Selasa, 6 November 2018, suasana duka menyelimuti terminal kargo Bandara Internasional Ahmad Yani Semarang. Enam perwira polisi lulusan Akademi Kepolisian angkatan 1998 menanti kedatangan seorang kawan seangkatan, AKBP Mito.

AKBP Mito berada dalam pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT610, rute Jakarta- Pangkal Pinang. Pesawat itu yang mengalami kecelakaan dan jatuh di perairan Tanjung Karawang, 29 Oktober 2018 lalu. Hingga kini belum ada korban yang dinyatakan selamat.

lion air
Warga melayat ke rumah duka korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610, Joyo Nuroso, di Gang Batik Krajan RT 7 RW 2, Rejomulyo, Bubagan, Semarang Timur, Kota Semarang. Foto: metrojateng.com/Fariz Fardianto

Jenazah AKBP Mito yang tiba di Semarang pukul 13.30, langsung dimasukkan ke ambulans milik Kepolisian Jawa Tengah. Keluarga AKBP Mito akan m emakamkannya di Cepiring, Kendal. AKBP Mito meninggalkan satu istri dan tiga anak.

Penyerahan jenazah AKBP Mito kepada pihak keluarga dipimpin oleh Irwasda Polda Kepulauan Bangka Belitung, Kombes Dicki Kusumawardhana. Investigasi atas kecelakaan tersebut masih dalam proses.

Ada korban lain yang berasal dari Semarang. Adalah Joyo Nuroso yang merupakan pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Pangkal Pinang. Keluarganya tinggal di Gang Batik Krajan RT 7 RW 2, Rejomulyo, Bubagan, Semarang Timur, Kota Semarang. Jenazahnya adalah salah satu dari yang telah berhasil diidentifikasi.

 

Menyambut Hujan

Memasuki musim hujan, titik-titik rawan banjir di Kota Semarang mengundang perhatian. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Semarang berencana membuat embung besar untuk mengantisipasi potensi banjir yang sering terjadi di wilayah Mangkang, Kecamatan Tugu.

DPU juga bakal melakukan normalisasi Sungai Beringin. Program telah diajukan ke Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Setidaknya tahun depan, proyek tersebut sudah bisa dilakukan.

Saat ini, DPU sedang mengerjakan proyek perbaikan sistem drainase, terutama di jalan-jalan protokol di Kota Semarang, diantaranya Jalan Supriyadi, Jalan Gajah dan Kawasan Simpang Lima Semarang. Proyek tersebut ditargetkan selesai pada bulan Desember mendatang.

Sementara, untuk normalisasi sungai saat ini sedang dilakukan di Kali Tenggang dan Kali Sringin di wilayah Timur Kota Semarang. Normalisasi Sungai Banjir Kanal Timur (BKT) juga dilakukan oleh pemerintah kota dan pemerintah pusat. Target jangka panjang seluruh proyek tersebut adalah Kota Semarang bebas banjir mulai 2019. (*)

 

 

Comments are closed.