Mahalnya Pendidikan, Bocah-bocah di Kendal Bertaruh Nyawa demi Bisa Sekolah

METROSEMARANG.COM – Pendidikan gratis ternyata tidak sepenuhnya diimbangi dengan infrastruktur yang memadai. Bocah-bocah di Dusun Cipluk Timur, Desa Sidokimpul, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal ini harus bertaruh nyawa dengan nekat menyeberangi sungai demi mendapatkan pendidikan yang layak.

Bocah-bocah SD di Kendal harus bertaruh nyawa demi pendidikan layak. Foto: metrojateng.com

Jembatan penghubung satu-satunya hanyut terbawa arus sungai dan belum juga diperbaiki. Jika hujan turun dan arus sungai deras puluhan anak-anak ini tidak berangkat ke sekolah.

Pemandangan anak-anak menyeberangi sungai dapat dijumpai hampir setiap pagi, saat jam berangkat sekolah. Dari rumah anak-anak ini sudah menenteng sepatu lantas terjun menyeberangi Sungai Blukar.

Anak-anak ini harus hati-hati, karena selain arus sungai yang cukup deras batu yang ada di sungai juga licin. Mereka yang masih kecil terpaksa digendong oleh temannya yang lebih besar, ada juga yang harus digendong oleh warga ataupun orangtua mereka menyeberangi sungai.

Sudah lebih dari lima tahun anak-anak ini berjuang untuk tetap belajar di Sekolah Dasar Negeri 3 Sidokumpul Patean yang merupakan satu-satunya sekolah terdekat. Tidak ada jalan lain jembatan satu-satunya penghubung hanyut terbawa banjir Sungai Blukar. Jalan memutar lebih jauh hingga 70 kilometer mengitari bukit.

Anak-anak ini mengaku takut jika menyeberangi sungai ini setiap harinya. Namun demi mendapatkan pendidikan terpaksa dilakukan meski harus berjuang dan berhati-hati.

“Setiap hari kalau ke sekolah mesti menyebrangi sungai. Sepatu dan celana ditaruh di tas, nanti di pakai kalau sudah menyeberang. Kalau hujan dan sungai banjir tidak berangkat sekolah,”  ujar Muhamad Soful Falah siswa kelas 4 kepada wartawan Selasa (2/5) pagi.

Anak-anak ini berharap ada jembatan darurat atau jembatan yang lebih kuat agar mereka tidak lagi menyeberangi sungai setiap berangkat dan pulang sekolah. Mereka mengaku tidak berangkat sekolah jika hujan deras mengguyur desanya dan arus Sungai Blukar deras serta banjir.

“Warga yang memiliki kendaraan jika hendak berpergian terpaksa menggotong kendaraannya menyeberangi sungai. Orangtua juga terpaksa harus antar jemput anaknya untuk berangkat dan pulang ke sekolah,” kata Adi warga Dusun Cipluk Timur.

Jembatan hanyut dan putus terjadi pertengahan tahun 2012 lalu. Untuk membangun jembatan permanen setidaknya memerlukan dana Rp 500 juta. Jembatan darurat pun sudah 4 kali dibangun namun juga hanyut terbawa arus sungai. (metrojateng.com/MJ-01)

 

You might also like

Comments are closed.