Mahasiswa Undip Tak Ingin Tari Tradisional Dicuri Negara Lain

Tari Lenggang Nyai asal Betawi ikut mewarnai Pagelaran FISIP Menari 2015, Kamis (28/5). Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha
Tari Lenggang Nyai asal Betawi ikut mewarnai Pagelaran FISIP Menari 2015, Kamis (28/5). Foto: metrosemarang.com/achmad nurseha

SEMARANG – Pagelaran FISIP Menari 2015 menjadi salah satu cara yang dilakukan mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) untuk menangkal serbuan tari modern yang cenderung meninggalkan nilai estetika. Kegiatan yang digelar di halaman depan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Undip pada Kamis (28/5) tersebut lumayan sukses membangkitkan semangat mencintai tari tradisional.

Setelah mengawali pertunjukan dengan Tari Saman Aceh, pagelaran yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) Tari Tradisional FISIP Undip ini kembali membuat ratusan penonton yang hadir berdecak kagum dengan penampilan tarian tradisional dari seluruh penjuru tanah air. Seperti Tari Payung Sumatera Barat, Tari Lenggang Nyai Betawi, dan Tari Semarangan.

Tari Rapai yang dipersembahkan oleh bintang tamu dari Ikatan Pelajar Aceh Semarang (IPAS) juga tak kalah seru. Bahkan, banyak dari penonton yang memberikan applause dan sorak kekaguman sepanjang tari tradisional asal provinsi Serambi Mekah itu dibawakan.

Ketua Panitia, Tyas M. Prameswari mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud aspirasi mahasiswa-mahasiswa FISIP yang menginginkan adanya pagelaran tari di tengah maraknya tarian modern yang tidak berestetika dan mengedukasi.

“Goyang dribel, dumang, itik, atau yang lainnya itu estetika keindahnnya dimana sih. Kenapa gak tari tradisional aja yang dipopulerkan,” ujarnya kepada metrosemarang.com.

Sementara itu, Diah Sulistiowati selaku Ketua UPK Tari Tradisional FISIP menambahkan, pagelaran tari kali pertama ini diharapkan bisa lebih membangun minat generasi muda untuk mencintai dan melestarikan tarian warisan budaya.

“Kalau bukan kita sebagai generasi muda, siapa lagi yang akan melestarikan warisan budaya, khususnya tari tradisional. Saat ini tari tradisional kalah popular dengan tari modern, lambat laun akan hilang dan bakal dicuri negara tetangga kalau kondisinya seperti ini terus. Kami gak mau itu terjadi, makanya kami menggelar kegiatan ini,” tuturnya. (ans)

You might also like

Comments are closed.