Menengok Makam Kyai Saleh Darat, Guru Spiritual Para Ulama di Tanah Jawa

Makam KH Saleh Darat di kompleks TPU Bergota Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Makam KH Saleh Darat di kompleks TPU Bergota Semarang. Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

 

METROSEMARANG.COM – Malam Jumat Kliwon yang jatuh pada Kamis (17/9) kemarin, dimanfaatkan sebagian umat Muslim untuk berbondong-bondong berziarah ke makam sanak saudaranya. Bahkan, tak sedikit di antara mereka yang menyambangi makam ulama-ulama besar yang pernah menyebarkan ajaran Islam di Tanah Jawa. Salah satunya makam Kyai Saleh Darat.

Nah, selain mengunjungi makam Walisongo di pesisir Jawa, umat Muslim di malam Jumat Kliwon juga berziarah ke makam para Waliyullah, sebutan bagi ulama karismatik yang syiar agama Islam sejak ratusan tahun lalu.

Tahukah Anda bila di Semarang ada sekelumit kisah seorang Waliyullah yang patut diteladani umat Muslim. Dia adalah KH Saleh Darat, kyai asal Jepara yang mewariskan sejuta nilai luhur dalam menyebarkan agama Islam bagi umat Muslim di zamannya. Orang-orang kerap mengenalnya dengan sebutan Mbah Sholeh.

Haidar, seorang pemuda yang ikut menjaga makam KH Saleh Darat di Kompleks TPU Bergota Semarang mengatakan, di malam Jumat Kliwon, makam sang kyai tak pernah sepi pengunjung. Peziarah, datang dari pelosok daerah mulai ujung Kabupaten Pati, Rembang, Jepara, Pekalongan, Pemalang, Magelang bahkan ada dari Jakarta, Kalimantan dan warga lokal Semarang.

“Malam ini belum terlihat banyak. Tapi pukul 00.00 WIB dini hari nanti mereka datang satu per satu. Malahan, ada 1.500 jemaah dari Magelang datang ke sini untuk berdoa di makam Mbah Sholeh. Mereka juga ingin mempelajari keteladanan hidup beliau,” kata Haidar, kepada metrosemarang.com, Kamis petang.

Ia mengatakan, orang-orang dari berbagai daerah di Pulau Jawa memang penasaran dengan kisah hidup Mbah Sholeh. “Banyak orang yang bilang kalau Mbah Sholeh sering menyiarkan ajaran Islam di berbagai daerah, makanya ketika sudah meninggal, ribuan murid-muridnya pasti ke sini untuk mendoakannya,” jelas Haidar.

Bila ribuan jemaah berdatangan ke makam Mbah Sholeh, katanya, jalan masuk ke kuburan Bergota tampak penuh dipadati kendaraan roda dua maupun roda empat. “Padahal makamnya beliau enggak terlalu besar,” tuturnya.

Dari berbagai sumber yang dihimpun metrosemarang.com, KH Saleh Darat punya nama lengkap Muhammad Saleh bin Umar As-Samarani. Ia hidup pada zaman Syekh Nawawi, kyai asal Banten dan Syekh Kholil Bin Abdul Latif, tokoh Muslim di Bangkalan Madura. Mbah Sholeh lahir di Kedung Cemlung Jepara di tahun 1235 Hijriah dan wafat pada Jumat 29 Ramadan 1321 H di Semarang.

Syiar Islam

Kyai ini kesohor lewat kesederhanaan hidupnya dalam menyiarkan Islam. Semasa hidupnya, ia menimba ilmu di Mekkah bersama ulama besar lainnya seperti Syekh Muhammad Zain bin Mustafa Al-Fathani, Syekh Muhammad Al-Muqri, Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Syekh Ahmad Nahrowi, Sayyid Muhammad Saleh bin Sayyid Abdur Rahman Az-Zawawi dan Syekh Umar Asy-Syami.

Usai belajar agama di Mekkah, Mbah Sholeh lalu pulang ke Indonesia untuk berdakwah di Semarang. Di Semarang, ia mendirikan pondok pesantren di Dadapsari, Kecamatan Utara. Kini, jejak pesantrennya masih dapat dilihat jelas oleh warga setempat yang tinggal di sekitar Kelurahan Kuningan maupun Dadapsari.

Tercatat, banyak pejuang di masa Kemerdekaan Indonesia dan ulama daerah yang sempat menimba ilmu agama kepada Mbah Sholeh. Sebut saja, KH Hasyim Asy’ari, pendiri ormas terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), ada pula Syekh Mahfudz At-Turmusi ulama Madzhab Syafi’i, KH Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah, KH Bisri Syamsuri pendiri Pesantren Mamba’ul Ma’arif di Jombang, KH Idris Pendiri Pesantren Al Islam Jamsaren di Solo, KH Dalhar, pendiri Pesantren Watucongol Muntilan hingga RA Kartini, pelopor emansipasi wanita asal Jepara.

Nama besarnya sebagai guru para ulama di Tanah Jawa masih dikenang hingga saat ini. Tak jarang pula, banyak pejabat negara datang ke makamnya untuk berdoa dan mempelajari keteladanan hidupnya. Bahkan, sejumlah calon kepala daerah yang maju di bursa Pilkada serentak 2015 pun datang ke makam KH Saleh Darat. Tujuannya, selain ingin mendapat pencerahan, calon kepala daerah tersebut tentunya minta diloloskan jadi pemenang di Pilkada. (far)

 

You might also like

Comments are closed.