Malas Kerja? Mungkin Anda Mengalami Burn-Out

Ilustrasi
Ilustrasi

LIBURAN Natal telah berakhir namun suasananya mungkin masih membekas dalam ingatan Anda, hingga membuat Anda malas untuk bekerja. Namun jika rasa malas bekerja telah lama mengendap dalam diri Anda sekalipun sudah liburan berhari-hari, kemungkinan Anda mengalami sindrom Burn-Out.

Sindrom Burn-Out merupakan bentuk lain dari stres, kebosanan atau frustasi yang dapat menyebabkan Anda merasa letih, malas bekerja, mudah tersinggung dan nyeri di sana sini. Sindrom ini cenderung menguras tenaga cadangan mental maupun fisik. Sindrom ini tidak hanya berpengaruh pada karir Anda, namun juga hubungan personal Anda dengan orang lain.

Faye Crosby, seorang dosen psikologi di Smith College Northampton mengatakan, Burn-Out terjadi karena Anda tidak mau mencoba banyak hal. “Variasi merupakan kebutuhan manusia yang mendasar dan merupakan cara yang baik untuk mencegah terjadinya Burn-Out,” kata penulis buku Juggling ini, seperti dikutip dari Kompas Health.

Di tempat kerja, kegiatan kita cenderung didasarkan pada suatu agenda tertentu, segala sesuatu dikerjakan dengan batas waktu tertentu dan untuk tujuan tertentu. Atau, adanya sikap perfeksionis serta menetapkan target yang mustahil terjangkau.

Crosby mengatakan Burn-Out juga bisa terjadi akibat kurangnya penghargaan positif atas kerja luar biasa yang selama ini dikerjakan. “Burn-Out di suatu perusahaan bisa diukur dari banyaknya pengunduran diri dan kurangnya kepuasan karyawan,” katanya.

Lalu bagaimana caranya mengatasi Burn-Out? Perhatikan kondisi fisik dengan makan teratur dan bernutrisi, olahraga teratur, atau bahkan ambil cuti dan waktu berlibur jika benar-benar diperlukan.

Sedangkan untuk menjaga kesehatan psikologis, bisa dilakukan dengan berbagi kepada orang-orang terdekat, menulis, membaca buku maupun melakukan hobi. (ren)

activate javascript

You might also like

Comments are closed.