Manfaatkan CSR Swasta untuk Hidupkan Kota Lama

METROSEMARANG.COM – Pengembangan Kawasan Kota Lama Semarang harus memanfaatkan CSR (Corporate Social Responcibility) dari pihak swasta meskipun pemerintah sudah mempunyai anggaran sendiri. Selain itu konsep pengembangannya harus benar-benar bisa mewujudkan nuansa kota tua.

Foto: metrosemarang.com/masrukhin abduh

Hal itu diungkapkan Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Semarang, Umi Surotud Diniyah dalam diskusi bertema Menghidupkan Kota Lama Semarang yang digelar DPRD Kota Semarang di Gedung Samudera Indonesia Kawasan Kota Lama Semarang, Senin (17/4).

Umi Surotud Diniyah menerangkan, konsep pengembangan Kota Lama harus sesuai dengan Perda yaitu mengutamakan konsevasi bangunan-bangunan yang ada. Para pemilik bangunan juga harus ikut merawat sehingga Kota Lama bisa hidup dan diakui Unesco menjadi world heritage atau warisan dunia.

“Dulu Kota Lama terkesan kumuh dan angker, maka muncul Perda Nomer 8 Tahun 2003 tentang penataan Kota Lama. Nah pengembangan oleh pemerintah harus mengacu pada Perda ini. Sekarang kami lihat sudah mulai ada penataan serius dari pemkot,” katanya.

Ia menilai, saat ini baik hari kerja maupun hari libur Kota Lama sudah terlihat ramai. Karena pemkot sudah berupaya melalui berbagai kegiatan dengan anggaran sendiri. Namun harapannya, pemkot juga bisa memanfaatkan CSR pihak swasta untuk pengembangan Kota Lama supaya lebih maksimal.

Pihaknya juga berharap, pengembangan Kota Lama yang dilakukan bisa mewujudkan nuansa kota yang benar-benar kota lama atau kota tua. Misalnya masyarakat sekitar atau yang beraktifitas di dalamnya harus mengenakan pakaian-pakaian kuno jaman keemasan Kota Lama.

”Pemkot harus punya konsep yang betul-betul menarik, serasa di kota jaman dulu. Kami juga mendukung larangan kendaraan besar yang berorientasi bisnis seperti truk molen masuk Kawasan Kota Lama,” katanya.

Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita G Rahayu mengatakan, pihaknya memang telah melakukan berbagai upaya untuk pembenahan Kota Lama secara bertahap. Misalnya truk molen saat ini sudah dilarang masuk Kota Lama. Namun kadang masih ada yang nekat lewat dan pasti nantinya akan ditindak.

Pembenahan infrastruktur di Kawasan Kota Lama juga sudah mulai dilakukan termasuk street furniture. Pihaknya mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat sebesar Rp 45 miliar dari kebutuhannya untuk pengembangan Kota Lama sekitar Rp 65 miliar.

”Tapi pusat nanti juga membantu penyusunan master plan dan development plan pengembangan Kota Lama untuk menjadi world heritage yang diakui oleh Unesco,” kata Ita, sapaan wakil wali kota yang juga Ketua Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) Semarang.

Dalam master plan dan development plan nantinya tidak hanya Kota Lama seluas 45 hektare yang akan dikembangkan. Tapi juga meliputi kawasan Pecinan dan Kauman serta mungkin Kampung Bustaman. Sehingga pengembangan Kota Lama nantinya mencakup luasan 143 hektare.

”Kita akan membuat manajemen pengembangan Kota Lama secara baik dan serius. Kita akan dibantu oleh Kementerian Pariwisatwa yang bertugas mendampingi dalam pengembangan Kota Lama,” tegasnya. (duh)

You might also like

Comments are closed.