Mantan Kaki Tangan Abu Tholut Tolak Pencabutan Status WNI

Mahmudin Hariono Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto
Mahmudin Hariono
Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

METROSEMARANG.COM – Upaya pemerintah yang ingin mencabut status kewarganegaraan bagi para terduga teroris yang berafiliasi dengan ISIS, rupa-rupanya ditentang oleh sebagian mantan jihadis yang telah menghirup udara bebas. Bekas anak buah Abu Tholut, Mahmudin Hariono bahkan menganggap hal tersebut berlebihan.

“Sebaiknya jangan buru-buru dicabut statusnya. Itu alternatif terahir ketika mereka benar-benar menganggap Indonesia sebagai musuhnya,” tegas pria yang akrab disapa Yusuf ini, kepada metrosemarang.com, Selasa (1/3).

Pencabutan status kewarganegaraan bagi terduga teroris kembali muncul usai anggota Komisi III DPR Abdul Kadir Karding menggelar dialog deradikalisasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Undip Tembalang, Senin (29/2) kemarin.

Lebih lanjut, ia berpendapat, dengan mencabut status kewarganegaraan para eks jihadis maka sama saja menghilangkan hak hidup mereka sebagai warga negara Indonesia. Pasalnya, masih banyak eks terduga teroris yang memikul tanggungjawab menghidupi anak dan istrinya.

“Ada tanggungjawab yang harus mereka penuhi ketika bebas dari penjara. Mereka masih punya anak dan istri dan memulihkan harta bendanya. Maka, status kewarganegaran itu penting misalnya buat mengurus KTP, akta kelahiran anaknya atau dokumen surat pindah ke wilayah lain,” bebernya.

Ia menyoroti sikap pemerintah yang terlalu arogan dalam menyikapi dinamika yang berkembang saat ini. Menurutnya, pemerintah sebaiknya fokus memulihkan status hidup eks jihadis agar dapat berbaur dengan masyarakat lagi.

“Buatlah mantan terduga teroris akrab kembali dengan Indonesia dan kembali berbaur  dengan masyarakat daerah asalnya,” sambungnya.

Berdasarkan pengalamannya usai bebas dari bui, ternyata tak mudah membaur di tengah masyarakat ketika stigma teroris masih melekat kuat. Ia mengaku pernah dilarang pindah dari Jombang ke Semarang karena dianggap masih dalam pengawasan polisi. “Saat itu masih pengawasan dan saya sangat sulit mengajukan surat pindah ke Semarang,” ungkap Yusuf.

Lebih jauh, Yusuf meminta kepada pemerintah memberikan kesempatan kedua bagi mantan terduga teroris agar dapat hidup normal di tengah masyarakat. “Berikanlah kesempatan kedua jika ada yang ingin memperbaiki diri sebelum mencabut status kewarganegaraannya. Namun, jika ada teroris ISIS asal Indonesia dideportasi, sebut saja dia pengungsi,” urainya.

Ia menyatakan pemerintah lewat Menkumham Yassona Laoly harus merangkul para mantan terduga teroris untuk bekerjasama dalam memberantas gerakan radikal yang tumbuh subur di Indonesia. Hal itu opsi yang bagus karena mantan jihadis kebanyakan punya kenalan dengan jaringan teroris yang aktif bergerak di tiap daerah. “Ya mendingan teman-teman yang sudah bebas dirangkul dengan baik,” tutupnya. (far)

You might also like

Comments are closed.