Masih Syok, Istri Mendiang Deni Berharap Dua Begal Remaja Dijatuhi Hukuman Berat

KEHILANGAN Deni Setiawan (32) masih terasa sangat menyesakkan bagi Nur Aini. Dia masih belum percaya suaminya meninggal di tangan dua remaja yang tega menghabisi pria berprofesi sebagai driver taksi online itu.

Nur Aini berharap pembunuh suaminya diberi hukuman berat. Foto: metrosemarang.com/efendi

Kebersamaan selama tiga tahun harus berakhir dengan cara yang tidak wajar. Deni tewas dibunuh saat sedang melayani penumpangnya di Perumahan Bukit Cendana, Sambiroto, Tembalang, Sabtu (20/1) malam.

Saat disambangi di rumahnya, Mangunharjo, Kemijen, Semarang Utara, Senin (29/1), Nur Aini tampak sedang menjamu tamu yang datang silih berganti untuk mengucapkan bela sungkawa. Mengenakan pakaian dan jilbab warna hitam, ia tampak menahan air matanya tatkala mengenang sosok lelaki yang penyayang tersebut.

Hal kecil yang paling berkesan menurut dia adalah ketika Deni makan ia selalu mendapatkan satu atau dua suap dari tangan Deni.

“Almarhum Deni itu sudah seperti tangan dan kaki saya, sejak kami menikah pokoknya saya kemana-mana sama dia. Yang paling berkesan di hati saya itu tiap kali dia makan pasti nyuapin saya entah satu atau dua suap,” ujarnya.

Nur Aini dan Deni menikah pada 18 Januari 2015 silam. Mereka melangsungkan pernikahan setelah menjalani hubungan percintaan jarak jauh Korea-Indonesia. Deni memang sempat bekerja di sebuah pabrik plastik di Korea. Ia merantau di Negeri Gingseng sekitar 7 tahun hingga akhirnya pada awal tahun 2017 Deni memutuskan untuk kembali ke Indonesia agar bisa dekat dengan keluarganya.

“Dua hari sebelum waktu kejadian itu kita memang merayakan tiga tahun pernikahan kami, ya cuman kecil-kecilan. Deni juga sempat bilang gini ‘Mamah mau minta apa mah, apa mau main kemana?,’ gitu, tapi saya jawab nggak usah pa, adik juga kan masih kecil,” kata Nur Aini.

Nur Aini memang baru dikaruniai seorang anak laki-laki setelah dua tahun pernikahannya. Bocah bernama Abrisyam Ustman Nur Setiawan itu baru menginjak usia tiga bulan. Ustman, begitu ia memanggil anaknya, lahir pada 25 Oktober 2017 lalu.

Kini ia dan anak semata wayangnya itu tinggal bersama orang tua Nur Aini. Perempuan berhijab itu memang merasakan perubahan yang sangat besar semenjak ditinggalkan oleh suami tercintanya. Deni memang menjadi pria andalan di keluarganya sendiri maupun keluarga Nur Aini.

“Memang Mas Deni itu orangnya pinter kalau sama keluarga, sama ibunya, ibu saya dia sangat gemati (penyayang) orange, grapyak juga. Bahkan bapak saya itu meskipun punya anak laki-laki juga, namun kalau ada apa-apa justru minta bantuannya ke Deni,” ujar Nur Aini dengan mata berkaca-kaca.

Nur Aini juga bercerita, kisah percintaan antara dia dan almarhum suaminya baru terjalin setelah mereka memasuki dunia kerja. Padahal mereka berdua merupakan teman satu angkatan saat masih bersekolah di SMU Gita Bahari, Semarang dan lulus pada 2003.

“Dulu saya itu juga nggak begitu dekat dengan Mas Deni, hanya sekadar tahu saja. Kami pacaran itu saja pas Mas Deni sudah di Korea hingga akhirnya kami menikah itu tahun 2015. Dia kembali ke Indonesia, dan sempat berangkat ke Korea lagi,” imbuh Nur Aini.

Hukuman Berat

Kini Nur Aini hanya bisa berharap, para pelaku yang tega menghabisi nyawa suaminya itu bisa diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka. Ia tak peduli dengan usia para pelaku, pasalnya apa yang telah mereka perbuat menurutnya di luar batas untuk dilakukan oleh seorang anak usia remaja.

“Memang umurnya masih remaja, tapi kelakuan mereka itu sudah bukan anak-anak lagi. Mereka juga memang sudah merencanakan untuk membunuh bukan untuk merampok, tanpa ada perampasan terlebih dahulu, dan dengan tenangnya bilang ‘Saya membunuhnya hanya sekitar 7 menit saja,’ gitu saat rekonstruksi kemarin,” beber Nur Aini.

Dia juga berkisah, saat peristiwa pembunuhan terjadi ia baru tahu bahwa suaminya menjadi korban pembunuhan setelah diberi kabar oleh pihak kepolisian keesokan harinya pada Minggu (21/1) lalu. Waktu itu ia tak menyangka bahwa suaminya menjadi korban pembunuhan, karena awalnya hanya mengira kecelakaan lalu lintas saja.

“Saya itu malemnya sekitar jam 10.00 sudah tak telfon terus sampai pagi. Saya juga ngirim pesan lewat whatsapp juga cuman centang satu (tidak terbaca). Tapi karena saya bingung meskipun handphone almarhum tidak aktif tetap saya telfon terus sampai keesokan harinya ada polisi datang ke rumah bahwa ditemukan mayat dengan ciri-ciri seperti suami saya dan saya diminta untuk datang ke rumah sakit,” katanya.

Nur Aini memang tak merasakan firasat akan kehilangan suaminya. Namun hal berbeda yang dilakukan oleh suaminya di saat-saat terakhir. Setiap selesai salat berjamaah di masjid setempat Deni biasanya hanya bersalaman dengan orang di samping kanan dan kiri saja.

“Namun pagi itu dia salaman dengan semua jamaah salat subuh di masjid. Ya sekarang saya hanya bisa berharap untuk para pelaku dihukum sesuai dengan apa yang telah mereka perbuat, karena mereka juga telah merebut kebahagiaan bagi anak saya. Anak saya sudah tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah, saya juga bingung apa yang harus saya katakan nanti ketika anak saya sudah bisa berbicara dan menanyankan keberadaan tentang ayahnya,” pungkas Nur Aini sembari menahan untuk tidak meneteskan air matanya.

Deni merupakan seorang driver taksi online yang tewas dibunuh oleh penumpangnya, dua pelajar SMK, IBR (16) dan DIR (15). Jasadnya dibuang di persimpangan Perumahan Bukit Cendana, Sambiroto, Tembalang pada Sabtu (20/1) lalu. (fen)

You might also like

Comments are closed.