Masjid Menara Layur, Saksi Bisu Kejayaan Kali Semarang

METROSEMARANG.COM – Sejarah perkembangan Islam di Semarang tak bisa dipisahkan dari keberadaan Masjid Menara di Kampung Melayu, Kelurahan Dadapsari Semarang Utara. Masjid yang berada di Jalan Layur ini menyimpan banyak kisah bersejarah tentang aktivitas bisnis di Kali Semarang yang kerap dilalui saudagar-saudagar dari Timur Tengah.

Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Ali, pengurus Masjid Menara mengungkapkan, waktu itu penduduk di sekitar masjid ini berdiri sebagian besar adalah orang Melayu. Hal inilah yang akhirnya melatarbelakangi lahirnya nama Kampung Melayu. Tetapi saat ini hampir tidak ada keturunan asli Suku Melayu di Kampung Melayu.

Nama menara sendiri disematkan pada masjid ini karena keberadaan menara yang menjulang tinggi di bagian depan masjid. Dulunya, menara tersebut difungsikan sebagai mercusuar untuk mengawasi kapal-kapal yang berlalu-lalang di Kali Semarang. Namun di akhir abad ke-18, menara itu tidak lagi difungsikan sebagai mercusuar dan selanjutnya dijadikan masjid oleh para saudagar Arab yang berasal dari Yaman.

“Kalau tidak salah sekitar tahun 1743. Waktu itu kampung ini merupakan tempat untuk mendarat kapal dan perahu yang membawa barang dagangan,” terang Ali kepada metrosemarang.com, baru-baru ini.

Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri
Foto: metrosemarang.com/yulikha elvitri

Namun saat ini kondisi Kali Semarang tidak lagi sama seperti pada masa lalu. Transportasi air tak memungkinkan untuk dilakukan. Meski kawasan di sekitarnya mengalami perubahan, bangunan masjid ini masih tetap terjaga orisinalitasnya kecuali letak tempat wudhu yang dipindah ke sisi kiri bangunan.

Selain itu, tinggi bangunan masjid juga berkurang. Menurut Ali, awalnya masjid ini tinggi seperti panggung. “Ada sepuluh tangga dulu, sekarang cuma tinggal tiga. Rob membuat warga harus meninggikan tanah di sekitar masjid. Hal inilah yang menjadikan ketinggian masjid berkurang. Masjid ini juga berperan dalam penyebaran agama Islam di Semarang,” imbuh Ali.

Meski zaman berubah, Kali Semarang juga tak lagi berfungsi sebagai jalur perdagangan. Namun, Masjid Menara tetap berdiri kokoh. Masjid ini menjadi saksi sejarah bahwa Semarang pernah menjadi pusat bisnis yang menggiurkan bagi pendatang dari jazirah Arab. (vit)

You might also like

Comments are closed.