Mbah Supardi Berharap Dapat Rezeki Berlimpah saat Dugderan

METROSEMARANG.COM – Menjelang Bulan Suci Ramadan 1438 Hijriyah, sejumlah pedagang mainan gerabah mulai memadati ruas trotoar Kota Semarang. Mereka dengan sabar menanti para pembeli untuk membeli dagangannya di lapak-lapak pinggir jalan.

Foto: metrosemarang.com/fariz fardianto

Supardi salah satunya. Dengan ditemani anak kesayangannya, perempuan renta ini mengaku hampir sepekan terakhir sudah menempati lapak di pojok Jalan Pemuda atau tepat di simpang empat traffic light Pasar Johar.

“Ini saya sama anak dari Jepara sejak awal minggu ini,” kata Supardi sembari merapikan barang dagangannya, Kamis (18/5).

Menurutnya mainan gerabah merupakan dagangan khas saat Dugderan tiba. Kedatangan para pedagang gerabah jadi tradisi tersendiri yang selalu ditunggu masyarakat lokal. Ada ragam bentuk dan warna mainan yang dijual olehnya. Mulai mainan pasaran buat anak perempuan, kendi, piring hingga celengan.

Harganya tergolong murah meriah. Supardi mengatakan seperangkat mainan pasaran ia jual dari harga Rp 1.500 dan paling mahal sampai Rp 35 ribu. “Saya kulakan dari Jepara sudah habis belasan juta, ya harapannya laku terjual, Mas. Harganya kan murah ada yang Rp 1.500-Rp 35 ribu,” terangnya.

Tiap hari ia mengaku tetap menunggui dagangannya bersama sang anak. Ia menempati lapak dari bambu yang sengaja dibangun Pemkot Semarang di ruas trotoar terssbut.

Selain nenek Supardi, masih ada belasan bahkan ratusan pedagang musiman yang rutin berjualan saat Dugderan.

Para pedagang kebanyakan memadati jalan trotoar, emperan toko-toko hingga depan Masjid Agung Kauman.

Tahun ini, Pemkot membuka perayaan Dugderan pada 24 Mei. Pembukaa dilakukan dengan menggelar pawai Warak Ngendog serta pemukulan beduk di Masjid Kauman. Dugderan akan berlangsung hingga sebulan saat malam Hari Raya Idul Fitri. (far)

You might also like

Comments are closed.