Melongok Gaya Rembukan Ganjar di Sela Gowes Bandungan-Temanggung

METROSEMARANG.COM – Minggu (20/03/2016) sekitar pukul 07.30, puluhan warga berdiri di tepi jalan di Dusun Garon, Desa Candi Garon, Kecamatam Sumowono, Kabupaten Semarang. Pagi itu, masyarakat terlihat antusias setelah mendengar informasi Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo akan gowes atau bersepeda melewati desa mereka.

Warga setempat berharap bisa menyaksikan lebih dekat atau bahkan berharap orang nomor satu di Jawa Tengah itu “mampir” di satu rumah warga yang telah dipersiapkan.

Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo
Foto: metrosemarang.com/anton sudibyo

Benar saja, tak berselang lama Ganjar dan istrinya, Siti Atikoh, terlihat naik sepeda berbarengan dengan rombongan pesepeda sekitar 30 orang. Pagi itu, Ganjar dan rombongan bersepeda dari Kantor Kecamatan Sumowono menuju Pasar Papringan, Kecamatan Kandangan Kabupaten Temanggung.

Melihat banyak kurumunan warga, Ganjar dan rombongan pun berhenti. Meski terlihat agak lelah karena baru saja melewati jalan yang medannya naik-turun curam, Ganjar tetap tersenyum ramah kepada warga yang menyalaminya.

“Iki aku entuk mampir ora (Ini saya boleh mampir enggak- red),” tanya Ganjar.

Warga pun buru-buru mempersilakan Ganjar duduk beralaskan tikar di teras Bengkel Yudha milik Sudiyono. Warga rupanya sudah mempersiapkan jamuan kudapan. Mulai dari “gorengan” mendoan, bakwan, ketela goreng, bubur, dan berbagai minuman.

Ganjar yang menikmati gorengan pun lantas ngobrol “ngalor-ngidul” dengan warga. Kepala Desa Candi Garon, Margowanto juga terlihat turut dalam obrolan ringan tersebut.

“Pemakaian dana desa bagaimana? Apakah sudah tepat sasaran?,” tanya Ganjar kepada Margowanto di hadapan para warga.

Margowanto pun menjelaskan bila tahun lalu mendapatkan dana desa Rp 247 juta dan tahun 2016 mendapatkan sekitar Rp 600 juta. “Apike (sebaiknya- red) warga diajak berembug skala prioritas pemakaian dana desa untuk apa saja. Dana desa kalau bisa dibelanjakan dari desa ini juga, jangan sampai dibelanjakan ke luar desa,” kata Ganjar.

Ganjar menyarankan bila hasil musyawarah desa untuk seluruh pemakaian dana sebaiknya dituliskan dan ditempelkan di kantor balai desa supaya bisa dilihat secara transparan oleh masyarakat.

Ganjar juga berharap warga tidak memakai “teori gresulo (mengeluh- red) atas dana desa. “Jangan sampai sudah diberi bantuan dana tapi bilang ‘Masih kurang Pak.’ Kita harus manfaatkan secara maksimal, jangan selalu melihat kekurangannya tapi mari kita pakai dana itu untuk kesejahteraan desa dan masyarakat,” ujarnya.

Pasar Mangkrak

Ganjar juga diajak warga ke pasar dusun setempat yang jaraknya hanya sekitar 50 meter. Warga mengadu bila Pasar Candi Garon itu mangkrak sejak tahun 2003.

“Pasar jadi mangkrak karena sudah ada Pasar Sumowono (pasar kecamatan- red). Kami ingin pasar ini dihidupkan kembali. Warga ingin berjualan kembali di sini tapi takut terbentur aturan karena sudah ada pasar kecamatan,” kata Margowanto.

Ganjar pun buru-buru menimpali dan mempersilakan warga untuk berjualan kembali di pasar tersebut. “Besok warga boleh langsung berjualan di pasar ini kalau memang mau. Kalau ada yang melarang, laporkan langsung kepada saya. Tetapi sebaiknya dipikirkan dulu, apakah bangunan ini tetap dijadikan pasar, pasar hewan, atau untuk fungsi lain,” ungkapnya.

Ganjar lalu memberi kesempatan kepada warga desa setempat untuk merencanakan dulu rencana menghidupkan pasar tersebut. Setelah meladeni satu per satu warga yang hendak ingin foto selfie, Ganjar pun melanjutkan perjalanan gowesnya.

Gowes telah menjadi hobi baru Ganjar sejak setahun terakhir. Sejak beberapa bulan belakangan, aktifitas gowesnya semakin “gila”. Ganjar mulai mencoba trek-trek panjang dan menantang. Ia pernah bersepeda Temanggung-Yogyakarta dan Solo-Tawangmangu yang berjarak lebih dari 60 kilometer.

Menurut Ganjar, meski kini jarak tempuhnya lebih pendek, namun trek Bandungan-Temanggung  yang sekitar 25 kilometer lebih menguras tenaga. Kombinasi tanjakan dan turunan curam serta tikungan tajam membuat Ganjar yang didampingi istrinya Siti Atiqoh Supriyanti nampak ngos-ngosan.

“Lebih sulit sekarang, kalau Tawangmangu banyak jalur datar, di Bandungan naik turun terus,” kata Ganjar. (byo)

You might also like

Comments are closed.